Antonio Conte


Antonio Conte dan Thomas Tuchel mendapat kesempatan keduanya musim ini. Conte “pulang” ke Serie A setelah berpetualang ke Coverciano, kamp latihan timnas Italia, dan Chelsea. Tuchel menapak musim keduanya sebagai entraineur Paris Saint-Germain (PSG). Kesempatan itu juga bernilai mahal. Itu yang harus mereka bayar akhir musim ini.

----------------------------------

ANTONIO Conte dan Jose Mourinho pernah jadi musuh bebuyutan selama di Premier League, antar 2016 sampai 2018. Tetapi, tak bisa dipungkiri, Conte selalu mengikuti jejak Mourinho. Di Chelsea, Conte langsung memberi gelar juara Premier League. Sama dengan di musim pertama The Special One, julukan Mourinho.

The Godfather, julukan Conte, pun jadi pelatih yang membuat Chelsea kembali merogoh koceknya dalam-dalam. Saat musim pertamanya. Conte dibayar GBP 6,5 juta (Rp 111,9 miliar). Tak jauh beda seperti saat Chelsea menjadikan Mourinho sebagai salah satu pelatih dengan gaji termahal pada 2004 – 2005, dengan GBP 4,2 juta (Rp 72,3 miliar).

Dan, musim ini, lagi-lagi Conte “mengekor” Mourinho dengan mengarsiteki Inter Milan. Lagi-lagi, Conte juga memaksa klub yang dia tangani membayar mahal servisnya, sama dengan Mourinho. Laporan La Gazzetta dello Sport menyebut Conte sebagai pelatih bergaji tertinggi di Serie A sepanjang masa.

Nerazzurri, julukan Inter, menggajinya EUR 11 juta (Rp 168,6 miliar) per musim. Angka itu telah memecahkan rekor Mourinho sebagai pelatih dengan bayaran termahal Serie A. Ketika musim 2008 – 2009, Inter mengeluarkan uangnya sampai EUR 9,8 juta (Rp 150,1 miliar) untuk menggaji Mourinho per musimnya. Bayaran besar yang berbuah scudetto.

Conte pun kini menyandang ekspektasi serupa. ''Itu (bayaran mahal Conte) jadi investasi terbesar Inter,'' sebut Beppe Bergomi, mantan bek dan allenatore tim Berretti Inter yang saat ini menjadi pundit Sky Sports Italia itu. Dilansir Calciomercato, Pemain Terbaik Inter 1990 itu pun konfiden dengan musim pertama Conte di Appiano Gentile, kamp latihan Inter.

''Inter sepanjang Agustus lalu telah memperlihatkan karakter Conte, karakter pemenang,'' klaim salah satu pemain yang ikut mengantarkan Inter scudetto 1988 – 1989 itu. Rival Conte di Serie A, Vincenzo Montella, juga ikut meyakininya. Allenatore Fiorentina itu menganggap nilai yang dikeluarkan Inter takkan sia-sia. ''Conte selalu mendapatkan apa yang dia mau,'' sebutnya, dikutip Corriere dello Sport.

Tetapi Inter dan Conte sama-sama memiliki reputasi kurang bagus soal loyalitas kontrak. Inter doyan memecat pelatih sebelum kontrak habis. Sementara Conte juga masih terjerat kasus dengan The Blues, julukan Chelsea, soal penyelesaian kompensasinya setelah didepak dari klub milik Roman Abramovic itu.

 

Tuntutan kompensasi GBP 9 juta (Rp 154,5 miliar) bahkan sudah masuk babak kedua, di Arbitrase Ketenagakerjaan London. Sengketa itu akan diputuskan pada bulan ini. Nilai tuntutan yang diminta Conte itu pun termasuk dalam GBP 70 juta (Rp 1,2 triliun) kerugian Chelsea pada 2019 ini.


Ekspektasi serupa juga dibebankan untuk Thomas Tuchel. Paris Saint-Germain (PSG) di musim panas lalu memperbarui kontrak Tuchel semusim sampai 2021. Nilai gajinya pun ikutan naik. Dari yang awalnya EUR 5 juta (Rp 76,4 miliar), naik jadi EUR 7,5 juta (Rp 114,7 miliar). Kalau musim lalu cuma mampu meraih dua trofi, Ligue 1 dan Trophee des Champions, maka di musim ini setelah gajinya naik dia diharap bisa lebih dari musim lalu.

Mantan entraineur PSG Jean-Michael Larque menganggap musim kedua Tuchel ini bisa lebih terjal. Dia mencontohkan ujian yang sudah didapat pelatih 46 tahun itu di awal musim ini. Selain polemik Neymar, dia pun direcoki dengan cedera yang menghantam Kylian Mbappe dan Edinson Cavani. ''Dia (Tuchel) takkan berhenti menangis di musim ini,'' sindirnya kepada RMC  Sport.

Mantan pemain Les Parisien, julukan PSG, pada era 1970-an itu menganggap era Tuchel tak membawa efek apapun bagi klub penguasa Ligue 1 tersebut. ''Siapa yang berkembang? Apa (Alphonse) Areola? (Presnel) Kimpembe? (Thilo) Kehrer? (Layvin) Kurzawa? Saya bahkan tak bisa lagi menyebutkan yang lainnya karena tak banyak yang berkembang di eranya,'' imbuhnya. (ren/jpg)

You Might Also Like