Usai menjalani operasi skoliosis, Veronika dijenguk oleh dr Theodorus Sapta Atmaja, dr Perwira Bintang Hari Sp OT, dan Martin selaku kepala ruangan. (FOTO ISMAIL/KALTENG POS)


PALANGKA RAYA-RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya berhasil melakukan operasi perdana kasus skoliosis atau tulang belakang melengkung. Pasien perdana bernama Veronika (14). Operasi dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh dr Perwira Bintang Hari Sp OT, pekan lalu.


Operasi yang memakan waktu 4,5 jam ini, tergolong operasi berat. Risikonya besar jika gagal. Bisa berakibat kelumpuhan. Karena pada tulang belakang terdapat saraf dan pembuluh darah yang bercabang ke kaki.

“Ini operasi perdana di RSUD Doris Sylvanus untuk kasus skoliosis. Tim dipimpin dr Perwira Bintang Hari Sp OT, spesialis bedah tulang belakang. Ini prestasi pertama yang ditorehkan RSUD Doris,” ujar Wakil Direktur Pendidikan dan Kemitraan RSUD dr Doris Sylvanus, dr Theodorus Sapta Atmaja MM.

Operasi ini tergolong operasi mahal. Perkiraan biaya mencapai Rp50 juta. Namun, karena pasien merupakan peserta BPJS Kesehatan, maka biaya operasi ditanggung oleh BPJS Kesehatan.


Jumat (13/9) pagi, dr Theo bersama dr Bintang mengunjungi Veronika di ruang rawat inap. Veronika ditemani sang ayah Antonius Pinto dan ibunya Mariana Roja.

“Saya tanya; nona mau dioperasi. Dia bilang; mau. Saya lihat bahwa dia punya semangat,” kata Mariana.

Di ruangan tersebut, dr Theodorus berbincang dengan Veronika dan orang tuanya. Ia memberikan semangat kepada Veronika. Menurut pengakuan Mariana, tahun lalu baru ketahuan anaknya mengalami tulang belakang melengkung saat sedang bermain dengan temannya.

Menurut dr Bintang, tulang punggung yang melengkung ini, jika dibiarkan maka akan terus melengkung. Jika semakin melengkung, bukan hanya mengganggu penampilan, tapi juga mengganggu fungsi organ lain dalam tubuh, seperti paru-paru, jantung. Hal itu dikarenakan rongga dada semakin mengecil.

“Bila ini tidak ditangani, kurva semakin berat. Kelak ketika dewasa, dia akan mengalami nyeri pada tulang belakangnnya. Operasi pada orang dewasa akan lebih sulit dibanding masih remaja,” ujar dokter ortopedi dengan spesialis tulang belakang ini.

Penyebab skoliosis, lanjut dr Bintang, hingga saat ini belum diketahui. Dokter Bintang mengakui bahwa ia sudah menjumpai beberapa kasus seperti ini, tapi kurva atau lengkungan tulang belakang tidak terlalu berat. Pada kasus seperti ini, penangannya adalah dengan diberikan korset khusus.

Baru pada Veronika ini kurva atau sudut lengkungannya berat dan harus ada tindakan operasi untuk meluruskan tulang belakang. Kebetulan Veronika bersedia dioperasi, dan orang tuanya juga setuju.

“Tujuan operasi ini, selain untuk mengoreksi tulang belakang, juga mempertimbangkan balance (keseimbangan) letak kepala terhadap pinggul. Jangan sampai kepala menyamping, jatuhnya orangnya jadi menceng,” ujar dr Bintang yang menyelesaikan pendidikan dokter spesialis bedah tulang di UGM pada 2007 silam.

Menurut dokter yang menempuh pendidikan sub spesialis bedah tulang belakang di RSCM dan Hirosima Jepang itu, dengan peralatan yang semakin canggih, peluang mengembalikan tulang belakang agar kembali lurus semakin besar. Namun, risiko kelumpuhan pun ada. Karena di dalam tulang belakang ada saraf yang bercabang ke kaki.

“Saat dioperasi dan tulang belakang diluruskan, kadang pembuluh darah bisa kempes. Suplai darah bisa terganggu. Bisa berakibat kelumpuhan. Jadi, kami tak hanya mempertimbangkan tulang belakang bisa diluruskan, tapi juga soal keamanan atau tak membuat pasien lumpuh,” jelasnya.

Sebelum mengambil tindakan operasi, harus ada perencanaan yang matang. Dikatakan dr Bintang, operasi pada Veronika berhasil. Beberapa hari setelah operasi, pasien bisa mengangkat kaki. Itu berarti bahwa tak terjadi kelumpuhan.

Setelah operasi, Veronika akan melakukan latihan duduk. Selanjutnya dilakukan latihan berdiri dan diikuti latihan berjalan. Jika sudah bisa berjalan, maka pasien akan dirawat secara berkala.

“Perlu waktu 1-2 tahun untuk menyatukan tulang yang sudah diluruskan itu. Selama masa pemulihan, pasien tidak boleh berolahraga dan mengangkat beban berat. Dan yang paling penting adalah melakukan kontrol secara berkala,” tutup dr Bintang. (sma/ce)

You Might Also Like