Sopir bus Yessoe Edi Sutrisno saat menjalani sidang perdana di PN Nanga Bulik, Kamis (12/9)


NANGA BULIKKecelakaan bus Yessoe di wilayah Lamandau 1 Juli lalu memasuki babak baru. Edi Sutrisno (44) yang merupakan sopir utama bus tujuan Pontianak-Sampit itu menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Nanga Bulik, Kamis (12/9). Terdakwa Edi Sutrisno pun tak mau didampingi pengacara serta menerima dakwaan jaksa penuntut umum pada sidang yang berjalan kurang lebih 10 menit itu.

Pada awal sidang, majelis hakim yang diketuai Tommy Manik menanyakan perihal pendampingan hukum kepada terdakwa. Namun, terdakwa Edi Sutrisno memilih menolak bantuan hukum dan akan berjuang sendiri di pengadilan.

"Tidak (mau didampingi kuasa hukum) yang mulia," jawab Edi Sutrisno, kemarin.

Pada sidang pertama kemarin, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Bruriyanto Sukahar membacakan dakwaan. "Terdakwa Edi Sutrisno merupakan sopir bus Yessoe dengan nomor polisi KH 7121 GI," ungkap JPU membacakan dakwaannya.

Selanjutnya, JPU yang akrab disapa Bruri itu mengatakan, bus yang dikendarai Edi Sutrisno datang dari arah Pontianak menuju Sampit, mengalami kecelakaan tunggal Senin (1/7) di Desa Penopa, jalan Trans Kalimantan Km 37, wilayah Kabupaten Lamandau. Akibat kecelakaan tersebut, 3 penumpang meninggal dunia dan puluhan orang lainya luka-luka. 

"Kelalaian dalam mengemudi dan mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang," ungkap Bruri.

Majelis hakim pun menanyakan dakwaan JPU kepada terdakwa, apakah menerima atau tidak. Edi Sutrisno menjawab singkat, menerima disertai dengan anggukan kepala. "Menerima yang mulia," jawab terdakwa seraya menganggukan kepala.

Sidang yang berlangsung selama 10 menit itu akhirnya ditunda minggu depan dengan agenda mendengarkan keterangan para saksi dan terdakwa. (*cho/ens/ctk/nto)

You Might Also Like