Sujiwo Tejo


BPJS juga dikenal di dunia perhewanan. Kancil sebagai menteri informasi kerap menyaksikannya. BPJS mereka bersifat pertolongan langsung. No pihak ketiga.

Demikianlah zebra menolong sesamanya yang sekarat gegara terkaman singa. Dengan rampak kedua kaki belakang, di-slentik-nya singa yang mencaplok leher sohibnya itu hingga si singa terjengkang, tahu diri, lalu membatalkan pemindahan ibuko… eh, membatalkan pemangsaan.

Iuran BPJS akan dinaikkan dua kali lipat? Kancil mewacanakan itu. Hewan-hewan protes. Maksud kenaikan lipat dua, sesiapa yang pernah ditolong sekali, kelak harus menolong sesamanya itu dua kali.

”Pak Kancil, aku pernah terpelentang. Kakiku kethayalan,” kenang seorang kura-kura dalam perahu. ”Kura-kura lain menyundul-nyundul cangkangku seperti adu domba. Kedudukanku di alam fana jadi kembali ke fitrah posisi tengkurap. Apakah kelak aku harus dua kali membalik kura-kura yang terbalik? Kalau yang terbalik tak sampai dua, piye jal?”

Menurut seorang kecoak, kenaikan iuran BPJS itu diterima saja. Alasannya, ”Kura-kura masih mending. Saat sungsang dengan kaki menari-nari Jaran Goyang, kalian masih ditolong sesama spesies. Teman-teman saya yang sungsang di trotoar langsung diinjak oleh manusia. Setiap melihat kami sungsang, manusia seperti tergerak menerapkan kata-kata mutiara bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Huh!”

”Ah, kamu spesiesis,” sanggah kura-kura.

”Mending spesiesis daripada rasis seperti manusia?” kecoak berbalik sanggah. ”Manusia cuma berani bilang bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, bukan hak segala spesies.”

Kancil meninggalkan perbantahan sore hari itu. Sudah tentu setelah makan lembayung di suatu pematang.

Di tempat yang jauh, kancil bertemu kucing rumahan yang telah menyulap diri sebagai kucing liar dalam rimba. Seluruh cuap-cuap kancil yang mencoba menyosialisasikan program pasangan raja singa-ratu singa Sastro-Jendro cuma sekadar didengarnya, tapi tak disimaknya. Matanya cuma memandang, tapi tak memperhatikan kancil yang sedang menyosialisasikan kenaikan iuran BPJS.

”Maaf, Pak Kancil, saya gagal fokus,” rintihnya sambil diselang-selingi suara meong. ”Saya lagi fokus pada merananya diri sendiri. Sedih sekali saya sekarang. Dulu saya bangga sebagai kucing rumahan yang dikebiri. Kesannya eksklusif. Sekarang manusia pemerkosa kabarnya juga dikebiri. Terus, apa eksklusifnya saya, dong? Malahan teman-teman sespesies menyangka saya ini napi pemerkosaan.”

Kancil meneteskan air mata. Tak sampai hati ia melanjutkan sosialisasi kenaikan iuran BPJS di depan kaum yang lagi prihatin. Menteri informasi itu langsung menuju pantai tempat burung maleo mengerami dan menetaskan telurnya di pasir.

”Hai maleo! Jangan takut pingsan sehabis bertelur gegara telur kalian bisa mencapai lima kali besar telur ayam. Pas kalian pingsan, ada BPJS walau iurannya naik dua kali lipat.” Demikian rencana yang akan diumumkan kancil.

Sesampai pantai, ia melihat musang memangsa telur-telur maleo yang ditinggal induknya dengan tertatih-tatih karena sayapnya patah.

Ah, saya sudah kebal segala trik pengalihan isu!” alasan musang saat melihat kancil keheranan kenapa dirinya tak memangsa induk yang sudah tertatih-tatih patah sayapnya itu.

Nenek moyang saya menasihati, seluruh burung yang bertelur di tanah mahir siasat pengalihan isu. Demi melindungi telur dan anak-anaknya, mereka tertatih-tatih menjauh dari sarang, pura-pura sayapnya patah. Nanti, begitu kami sergap, mereka terbang dan kami sudah lupa terhadap sumber gizi nun jauh di sarangnya.”

Kancil penasaran, ”Jadi, meski sudah ada pengalihan isu, kamu tetap ingat telur mereka?”

Musang mengangguk, ”Bahkan, kami masih ingat, iuran BPJS bakal dinaikkan. Iya, kan?” (***)

(Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers)

Loading...

You Might Also Like