Oleh : Dr Rudyanti D Tobing SH Mhum


AKHIR-akhir ini salah satu topik yang ramai dibicarakan adalah mengenai akar bajakah. Sejak berita mengenai Siswi-siswi SMAN 2 Palangka Raya berhasil menjadi juara pada ajang World Invention Creativity Olympiv (WICO) di Seoul Korea Selatan. Semakin viral lagi setelah berita ini ditayangkan pada televisi, beberapa waktu lalu.

Kemenangan siswi SMAN 2 Palangka Raya dengan hasil penelitiannya mengenai akar bajakah yang dapat menyembuhkan penyakit kanker payudara, seolah-olah menjadi energi semangat luar biasa bagi penderita kanker. Akar bajakah menjadi sesuatu yang sangat diburu oleh banyak orang.

Banyak orang yang menghubungi saya menanyakan tentang akar bajakah ini. Awalnya saya pun bingung kemanakah harus mencari info tentang akar bajakah. Mendengar namanya pun baru kali ini, apalagi melihat bentuknya akar bajakah pun tidak pernah sama sekali.

Saya pun mencoba menanyakan tentang akar bajakah kepada Mbah google, saya ketik “akar bajakah”yang keluar adalah berita tentang kemenangan siswi SMAN 2 Palangka Raya dan berita di televisi. Saya tulis lagi akar bajakah Kalimantan, lagi-lagi isinya tentang akar bajakah yang sedang populer.

Akhirnya saya bertanya kepada suami saya yang orang Dayak asli Kapuas, dia pun bercerita bahwa akar bajakah itu ada berbagai macam jenis, harus berhati-hati dalam memilih akar bajakah.

Ada akar bajakahyang memang berkhasiat, tetapi ada juga yang beracun. Suami saya melanjutkan ceritanya, bahwa almarhum mertua saya pun pernah memberikan akar bajakah kepada beberapa orang keluarga yang sakit kanker payudara, dan bisa sembuh.

Sayangnya, karena mertua saya sudah berusia lanjut, sudah pikun, dia pun lupa lagi akar bajakah yang mana untuk obat kanker payudara, ketika kakak ipar saya menderita kanker payudara. Suami saya pun, tidak bisa membedakan akar bajakah tersebut.

Teman-teman bercerita bila harga akar bajakah saat ini menjadi sangat mahal. Hmmm...saya jadi teringat ketika saya kuliah di Fakultas Ekonomi di salah satu perguruan tinggi di Surabaya, teringat teori permintaan dan penawaran.

Menurut dosen saya, bila permintaan tinggi maka harga akan naik, dan sebaliknya bila pemintaan menurun maka harga pun akan turun. Hmmm....permintaan terhadap akar bajakah saat ini sedang sangat tinggi, jadi wajar bila harga menjadi mahal. Tetapi mahal dalam arti wajar.

Teman saya bilang, ada yang menjual akar bajakah dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Hmmm...luar biasa dahsyat, tidak wajar.

Suatu hari saya mencoba ke suatu tempat mencari akar bajakah. Di tempat tersebut, ramai sekali dan hampir semua menanyakan akar bajakah, ada yang memang sangat membutuhkan, ada pula yang iseng saja. Saya pun bertanya kepada penjual apakah ada akar bajakah, menurut penjualnya tidak ada. Lalu saya melihat ada tumpukan kayu dipotong kecil-kecil. Saya pun bertanya, ini kayu apa ? Dijawab oleh si penjual, kayu campuran macam-macam.

Saya bertanya lagi, khasiatnya untuk apa ? Dijawab penjual, khasiatnya untuk macam-macam penyakit. Tiba-tiba ada seseorang yang datang bertanya, berapa harga kayuitu ? Dijawab penjual Rp15.000 per bungkus. Lalu orang ini memesan beberapa bungkus dan meminta supaya dalam kemasan tersebut ditempeli tulisan “akar bajakah”.

Saya mendengar gumamannya, bahwa akan dikirim ke luar kota, karena banyak yang pesan. Yaaa Tuhan....sayapun terperangah...lah kok itu kayu campuran ditulisi akar bajakah, ini sudah masuk kategori penipuan. Jujur, ada rasa amarah di hati saya.

Saya membayangkan orang yang sedang terkena penyakit kanker payudara, dalam kondisi seperti itu segala ikhtiar untuk sembuh pasti akan dilakukan baik oleh penderita tersebut maupun oleh keluarganya. Ketika almarhum ibu saya sakit, kami anak-anaknya berusaha yang terbaik, tidak perduli berapa uang yang harus dikeluarkan, keinginan kami anak-anaknya adalah ibu kami dapat sembuh.

Saya membayangkan pastilah  penderita kanker dan keluarganya sangat berharap dapat disembuhkan melalui ikhtiar mengkonsumsi akar bajakah. Berapapun harganya, bagi orang yang mampu pasti akan dibelinya.

Terbayang oleh saya, penderita kanker dan keluarganya yang sudah mengeluarkan uang cukup besar, berharap dapat sembuh ternyata diberi akar bajakah palsu. Bagi saya ini merupakan tindakan yang luar biasa jahat. Lebih bahayab lagi bila ternyata akar bajakah yang diberikan adalah akar bajakah yang beracun.

Saya teringat, dulu di TV ada ucapan dari Bang Napi “Kejahatan ada karena ada kesempatan, waspadalah..waspadalah”. Yup...benar sekali ucapan bang napi itu, saat ini banyak orang mencari akar bajakah, dan hal ini menjadi peluang terjadi kejahatan bisnis.

Saya pun teringat pada saat study S2 di salah satu PTN di Bandung, mata kuliah kejahatan bisnis. Saya masih ingat, dosen yang mengajar mata kuliah ini adalah Prof Romli Atmasasmita. Beliau mengatakan bahwa pengertian "kejahatan bisnis" secara filosofis adalah terjadi perubahan nilai-nilai (values) dalam masyarakat ketika suatu aktivitas bisnis dioperasikan sedemikian rupa sehingga sangat merugikan kepentingan masyarakat luas.

Kejahatan bisnis apabila dilihat secara substantif pada hakekatnya merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap etika dan hukum. Bidang cakupan kedua disiplin tersebut sebenarnya saling jalin-menjalin dan tidak tumpang tindih. Hukum menemukan batas-batasnya dalam wujud potensi pemberdayaan pada tingkat praktis dan seberapa jauh fakta dapat diverifikasi.

Karena itu, hukum hanya dapat dijewantahkan melalui proses hukum acara yang formal. Sementara etika (tertib moral) pada dasarnya merupakan infrastruktur hukum. Suatu negara yang mengkontraskan tertib hukum dengan etika sosial akan mengalami stagnasi karena hukum juga memerlukan landasan etika sosial.

Oleh karena itu, banyak disaksikan ketentuan pidana merupakan prinsip-prinsip etis yang diangkat ke tataran sosial dengan dilandaskan pada norma-norma (moralitas) (dikutip dari  Iza Fadri, Kebijakan Kriminal Penanggulangan Tindak Pidana Ekonomi di Indonesia, Jurnal Hukum Nomor 3 Vol 17 Juli 2010: 430 – 455, hal:437).

Terkait dengan penjualan akar bajakah palsu dengan harga yang fantastis, menurut saya ini pun merupakan suatu kejahatan bisnis, merupakan suatu pelanggaran terhadap etika dan hukum.

Peluang bisnis boleh saja dipergunakan, tetapi dengan sewajarnya, tanpa melanggar etika dan hukum. Hal ini tidak dapat dibiarkan, karena akan sangat merugikan masyarakat luas khususnya konsumen. Perlu dilakukan tindakan yang melindungi konsumen.

Pemerintah Daerah dan aparat terkait, harus segera melakukan tindakan untuk menertibkan para penjual dadakan akar bajakah yang sangat dimungkinkan bukanlah akar bajakah yang sesungguhnya berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kanker payudara sebagimana hasil penelitian dari siswi-siswi SMAN 2 Palangka Raya.

Di sisi lain, saya sangat setuju bila hasil penelitian dari siswi-siswi SMAN 2 Palangka Raya ini dilanjutkan dengan penelitian yang lebih mendalam, agar hasilnya optimal. Selain itu, hasil penelitian terhadap akar bajakah yang merupakan kekayaan alam di Kalimantan Tengah, dan merupakan kearifan lokal, perlu dipikirkan langkah selanjutnya mengenai Hak Kekayaan Intelektual.

Kepada masyarakat, diharapkan untuk tidak latah dengan membeli akar bakajah tanpa mengetahui apakah akar bajakah itu asli atau tidak. Jangan terlalu berharap berlebihan akan keajaiban khasiat akar bajakah. Karena tidak semua orang cocok dengan pengobatan akar bajakah, semuanya kembali lagi kepada kekuasaan Tuhan atas pemulihan terhadap sakit penyakit. Berikhtiar untuk kesembuhan sangat baik, tetapi perlu diiringi dengan kehati-hatian dalam berobat. Semoga tulisan sederhana ini dapat bermanfaat untuk kita semua. (*)

(Penulis adalah Dosen L2dikti Wilayah XI Kalimantan/Komisioner Bawaslu Kalteng)

You Might Also Like