Ilustrasi sampah plastik. Cobalah mengurangi dan memilah sampah plastik untuk menjaga lingkungan secara sederhana. (Think Stock photo)


Sampah plastik adalah isu masyarakat dunia yang mengancam generasi mendatang. Sebab sampah plastik butuh waktu puluhan tahun sampai beberapa generasi agar bisa terurai. Jika tak dimulai sejak dini dan dalam lingkup yang lebih kecil, maka masalah sampah plastik akan terus menjadi benang kusut. Hal itu harus dimulai dari rumah tangga.

Kepala Subdit Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ujang Solihin dalam konferensi pers kampanye Plastic Reborn 2.0 dalam World Without Waste bersama Coca Cola, di Jakarta, Rabu (17/7) mendorong masyarakat khususnya para ibu rumah tangga untuk bijaksana memilah sampah di rumah. Tentunya dengan memilah sampah organik dan anorganik dari dalam rumah.

“Persoalan sampah plastik tak hanya muncul dari dalam negeri saja. Tetapi ada juga dari luar negeri. Ada isu atau niat negara-negara lain yang membuang sampah ke negara lain. Kita tentu tak ingin negara kita jadi tempat sampah negara lain. Dan dari dalam rumah tangga bisa memulainya dengan langkah yang sederhana,” tegasnya.

1. Memilah Sampah

Ujang menegaskan setiap rumah setidaknya memiliki 2 tempat sampah. Satu tempat sampah untuk sampah organik, dan tempat sampah lainnya untuk sampah anorganik seperti sampah plastik. Maka setelah dipilih, hal itu akan memudahkan para pemungut sampah untuk tak repot lagi memilih sampah.

“Setidaknya ya ada 2 tempat sampah. Sehingga saat dibuang ke luar dari rumah, sudah terpisah mana sampah plastik dan yang organik. Kebanyakan kan walau sudah dipilah maka tercampur lagi. Jadi enggak efektif,” tegas Ujang.

2. Kenali Sampah Plastik

Menurut Ujang, sampah plastik terbagi menjadi dua. Pertama adalah sampah plastik tertutup, seperti botol-botol plastik atau sampa botol lainnya yang bisa didaur ulang menjadi botol kemasan lainnya.

Kedua, adalah sampah plastik terbuka. Yaitu berbagai sampah plastik yang akan dihancurkan menjadi biji plastik. Salah satunya nanti bisa diolah menjadi bahan serbaguna seperti kaos dan lainnya.

“Plastik harus didaur ulang. Daur ulang plastik tak sederhana. Plastik butuh teknologi. Sayangnya banyak prang di rumah tangga malas memilah,” paparnya.

3. Libatkan Kelompok Lain

Setelah memilah sampah, maka perangkat warga seperti RT dan RW harus aktif terlibat. Misalnya dengan membangun bank sampah atau mengumpulkan pengepul sampah dan pemulung serta petugas pengangku sampah. Sehingga masyarakat yang sudah rajin memilah, tahu betul ke mana mereka harus membuang sampah plastik.

“Harus ada rantainya buang sampah palstik ke mana. Misalnya dengan melibatkan petugas pengangkut sampah atau pemulung,” jelasnya.

4. Bawa Tas Belanjaan

Dalam laman Super Simple disebutkan, lebih baik saat belanja agar membawa tas belanjaan yang dapat digunakan kembali. Sebab mirisnya, sampah plastik banyak beredar di laut. Dan kura-kura laut dikenal suka memakan kantong plastik karena, bagi kura-kura, kantong itu terlihat seperti ubur-ubur. Tentu menyedihkan bagi ekosistem laut jika mati karena sampah plastik.

5. Jangan Gunakan Sedotan

Di Amerika Serikat, 500 juta sedotan digunakan setiap hari. Hal terbaik untuk dilakukan adalah menghindari sedotan sepenuhnya. Jika membutuhkannya, gunakan sedotan kertas atau sedotan yang bisa digunakan kembali.(jpn)

Loading...

You Might Also Like