Ekspose ICCTF 2018/2019 di Hotel Andika Pangkalan Bun, Selasa (16/7/2019).


KAWASAN penyangga Suaka Margasatwa Lamandau (SM Lamandau) bagian timur adalah kawasan berhutan rawa gambut dengan luas sekitar 23.000 ha dari hilir Tanjung Putri hingga hulu Mendawai Seberang yang berbatasan dengan Kotawaringin Hilir.

Kawasan ini menjadi salah satu usulan sebagai kawasan Hutan Kemasyarakatan dengan ekosistem nipah bermangrove 275 ha dan 15 ribuan ha hutan rawa bergambut deangan kedalaman gambut rata-rata 134 cm; kandungan karbon stock atas 40-70 tCO2/ha, bawah 841 tCO2/ha (ICRAFT 2010); cadangan karbon atas  naik 73 tCO2/ha(data GAIA 2018) dan mampu menyerap emisi 3 tCO2/ha /tahun  atau 45 ribu tCO2/ha per tahun, juga berperan mencegah intrusi air laut, menyediakan sumber air bersih saat kemarau, habitat penting satwa endemik dilindungi kalimantan, sumber daya HHBK bagi masyarakat, alasan untuk wilayah usulan HKm

Tentunya kawasan ini berperan dalam mencegah/memitigasi perubahan iklim. Proyek ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) Bappenas-USAID sejak 2016 hingga berlanjut 2019 mendukung upaya Yayorin dalam memitigasi dan mendorong adaptasi masyarakat sekitar hutan yang masih bergantung pada sumberdaya hutan terhadap perubahan iklim.

Proyek ini adalah 1 dari 11 proyek ICCTF di Kalteng dengan capaian baik, karena berhasil menerapkan PLTB dan banyak yang mengadopsi serta menurunkan emisi.

Kawasan berstatus hutan produksi yang dikelola Kesatuan Pemangku Hutan Produksi (KPHP) Kotawaringin Barat ini masih mempunyai tutupan hutan yang baik menjadi tempat bagi masyarakat sejak dulu memantung (menyadap getah jelutung), mengikan, merotan dan mengambil sumber air bersih saat kemarau disaat air asin masuk jauh hingga Sungai Arut.

Untuk mengakomodir keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya alam hutan rawa bergambut penyangga SM Lamandau Yayorin melalui dukungan ICCTF membuat upaya-upaya perubahan perilaku dan meningkatkan partisipatif masyarakat untuk mejaga kawasan hutan rawa bergambut penyangga SM Lamandau terhindar dari ancaman kerusakan yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan gambut berasal dari pembukaan lahan tebas bakar pertanian, penebangan, perburuan dan konversi kawasan hutan menjadi perkebunan.

Capaian Yayorin melalui dukungan ICCTF adalah merestorasi lahan terdegradasi penyangga SM Lamandau seluas 400 ha pada tahun 2017 dan 200 ha pada tahun 2018 dengan menambat emisi karbondioksida sebanyak 396 tCO2e dan menurunkan emisi, menambat karbondiosida di lahan Pertanian Lahan Tanpa Bakar (PLTB) sebesar 59 Mega ton CO2e dari lahan pertanian gambut dalam administratif wilayah 5 desa (Tanjung Putri, Tanjung Terantang, Kumpai Batu Bawah, Kumpai Batu Atas hingga Dusun Karang Anyar-Kelurahan Mendawai) seluas 5.087 ha, menguatkan status pengelolaan kawasan yang meliputi ekosistem nipah dan hutan rawa gambut penyangga SM Lamandau sebagai kawasan yang diusulkan sebagai Hutan Kemasyarakatan yang dinyatakan sebagai kawasan penyerap emisi karbondioksida Kabupaten Kotawaringin Barat oleh Bupati Kotawaringin Barat.

Beberapa tantangan saat ini masih menunggu terbitkanya SK Ijin Usaha Pemanfaatan HKm (IUPHKm) dari Dirjen PSKL, Kementerian LHK. SK IUPHKm masih terkendala sebab kawasan usulan masuk wilayah peta indikatif penundaan ijin baru (PIPIB) karena lahan gambut. Selain SKIUPHKm, proyek juga telah mendorong 275 ha eksositem nipah desa Tanjung Putri sebagai kawasan yang diakui oleh pemerintah desa Tanjung Putri.

Keberhasilan lainnya telah terbangun pos siaga karhutla untuk upaya pengawasan dan pengendalian karhutla di desa Tanjung Putri dan peningkatan teknis pengendalian karhutla bagi masyarakat peduli api Tanjung Putri serta penguatan kelembagaan oranisasi kelompok HKm. Tanjung Putri adalah salah satu desa konservasi yang ada di sekitar kawasan penyangga SM Lamandau.

Capaian lainnya beberapa komunitas masyarakat yang dibina melalui kegiatan pendampingan, di antaranya komunitas tani wanita berpartisipasi dalam mendukung pencapaian konservasi program mitigasi berbasis lahan dan adaptasi. Telah mengembangkan kegiatan matapencaharian rendah emisi yang mendukung upaya pemerintah menurunkan emisi, bencana karhutla dan peningatan ekonomi telah dirasakan hasilnya melalui dukungan pengelolaan matapencaharian budidaya perikanan Keramba Jaring Apung dan Kolam Terpal, pemanfaatan HHBK sekitar desa menjadi produk pasar seperti gula nira nipah yang menjadi unggulan Kotawaringin Barat, sapu lidi nipah, kerupuk ikan dan masyarakat tani di Tanjung Putri menjad contoh keberhasilan telah 4 kali panen padi di lahan dengan sistem PLTB dengan rata-rata panen 3 ton/ha.

Pembelajaran PLTB gambut berhasil panen 2 kali setahun.

Awalnya  memutar otak untuk bisa mengelola semak rumput di lahan gambut yang jika diinjak kita bisa tenggelam sampai di atas lutut. Berpikir juga bagaimana kawasan ini dapat terhindar dari pengelolaan pertanian dengan cara membakar. Bersama seorang laki-laki asal desa Tanjung Putri akhirnya kami putuskan untuk mengelola lahan pecontohan untuk tanaman sayuran dan padi.

Tanaman terus tumbuh baik, dari bawang merah hingga sayuran sebulan panen hingga yang 4 bulan panen, seperti cabe dan terong. Hasilnya menjanjikan walaupun tidak sedikit tantangan yang dihadapi yaitu sistem pengelolaan pengendalian air pasang surut, karena Tanjung Putri berada paling hilir Arut Selatan.

Mekanisme penanganan pengelolaan pengendalian air menjadi satu kunci keberhasilan pertanian lahan gambut pasang surut. Pembelajaran dari lahan percontohan kemudian bersama PPL BPP Arut Selatan memberanikan diri untuk mengolah lahan berbasis PLTB untuk padi seluas 8 ha. Dari masalah air, susahnya mengolah lahan dengan bajak, membersihkan lahan tanpa dibakar menemukan langkah-langkah dalam pengelolaan lahan pertanian tanpa bakar untuk lahan padi model sawah. Mesin potong rumput yang didukung proyek ICCTF Yayorin dan menurut bidang pertanian buka merupakan alat sistem pertanian, sangat berperan dalam memotong semak belukan rumput sehingga memudahkan untuk dikerinkat dan dirapuhkan dengan herbisida alami.

Tahun pertama penggarapan lahan membuat pengelolaan tahun kedua lebih ringan dan irit biaya dan tenaga. Desa tanjung Putri telah berhasil melakukan panen 2 kali setahun dan terus memperluas lahan dengan tanpa bakar. Bupati Kotawaringin Barat sendiri telah melihat keberhasilan panen raya Tanjung Putri di lahan PLTB. (***)

(Penulis adalah )Direktur Yayorin yang juga Kaprodi Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Antakusuma)

You Might Also Like