Masyarakat menyerbu makanan gratis yang disajikan pemko di Balai Kota . Sementara anak-anak dari berbagai SD memainkan kecapi di kawasan Tugu Soekarno (Foto bawah) kemarin. (17/7). (DENAR/KALTENG POS)


Pesta rakyat dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 kota Palangka Raya dan hari jadi ke-54 Pemko benar-benar semarak. Kemeriahannya dirasakan semua khalayak, ada disajikan makanan gratis hingga penampilan menarik dari anak-anak Sekolah Dasar (SD) dalam memainkan kecapi, alat musik tradisional khas Dayak.

 

ANISA B WAHDAH-APRIANDO, Palangka Raya


MASYARAKAT berbondong-bondong datang untuk ikut memeriahkan HUT Kota Palangka Raya dan HUT Pemko Palangka Raya yang dilaksanakan di Balai Kota, kemarin (17/7).  Pemko Palangka Raya telah menyiapkan sajian kuliner sebanyak 6.200 porsi untuk masyarakat Kota Cantik ini. Sajian makanan yang disiapkan bermacam-macam bahkan habis dalam kurun waktu yang sangat cepat.


Salah satu warga Yeni, ia menyempatkan waktunya datang usai menjemput anaknya pulang dari Kelompok Bermain (KB).

“Saya dapat informasi di Facebook, dan menyempatkan untuk datang. Bukan karena makanan gratis tapi keramaiannya,” kata Yeni saat dibincangi di tengah-tengah menikmati sajian di pesta rakyat tersebut.

Berbeda dengan Masadah, yang tidak kebagian makanan di pesta itu lantaran datang terlambat. Ia juga mengetahui informasi dari grup Whatsapp dan membuatnya ingin meramaikan hari bahagia bagi Kota Cantik ini.

“Saya dapat informasi dari bahwa Pemko mengadakan pesta rakyat, ketika saya datang makanan sudah habis,” kata salah satu pengunjung Masadah, saat dibincangi Kalteng Pos.

Sementara itu, salah satu penyedia katering Aji mengatakan, pihaknya telah dipesan oleh Pemko untuk menyediakan 300 porsi soto. Tetapi di luar dugaan, masyarakat yang antusias menyerbu makanan yang ia sajikan begitu membludak.

“Awalnya diminta sediakan 300 porsi, tetapi kami sediakan 400 cup. Dan syukur makanan yang kami siapkan bisa menyajikan hingga 400 porsi,” tegasnya.

Diakuinya, hal ini ia lakukan untuk turut berpartisipasi memeriahkan hari bahagia untuk Kota Cantik ini.

 

Perayaan semakin meriah, karena dalam HUT ke-62 dan hari jadi ke-54 Pemko ini tidak hanya menyajikan makanan gratis saja di Balai Kota. Namun ada kegiatan kesenian daerah yang ditampilkan di Tugu Soekarno. Anak-anak anak membawakan Gebyar Kecapi diiringi dengan lagu karungut di Tugu Soekarno, Rabu (17/7) sore

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wakil Walikota Palangka Raya, Umi Mastikah dan dihadiri langsung oleh semua komponen PD dan semua instansi terkait. Lomba tersebut menarik banyak perhatian masyarakat kota.

Puluhan pasang mata tertuju untuk melihat kegiatan tersebut yang didominasi dari kalangan siswa siswa Sekolah Dasar (SD). Sebanyak 150 siswa perwakilan dari Kesenian dari SD mengelilingi tugu dengan memegang kecapi masing-masing.

Penampilan demi penampilan ditunjukan dengan banyak mengambil tema karungut terkait dengan pendidikan SD. Salah satunya penampilan yang dilakukan Putri (8) tampil dengan membawakan lagu karungut Anak Sakula (Anak Sekolah).

Wakil Wali kota Palangka Raya, Umi Mustikah mengatakan sangat mendukung dan  mengapresiasi kegiatan tersebut, karena memotivasi dan membuat peserta didik melestarikan budaya.

“Saya sangat mendukung dan sangat mengapresiasi dengan adanya kegiatan lomba karungut dan kecapi ini dengan diadakannya lomba dan kecapi Ini bisa memberikan manfaat dan memotivasi anak-anak didik kita dan bisa melestarikan budaya,”katanya.

Orang nomor dua di lingkungan pemerintahan kota tersbeut menilai, seni budaya dan kecapi adalah sebuah kesenian tradisional dari Kalimantan Tengah yang wajib diletarikan oleh generasi penerus. Menurutnya, seni ini merupakan sastra lisan atau juga bisa disebut pantun yang dilakukan merupakan karya yang dijunjung masyarakat Dayak sebagai sastra besar dan merupakan semacam pantun atau gurindam.

Karungut merupakan bermacam legenda, nasehat, teguran dan peringatan mengenai kehidupan sehari-hari pada acara penyambutan tamu yang dihormati salah satu ekspresi kegembiraan dan kebahagiaan diungkapkan.

Ditambahkannya, karungut merupakan salah satu kesenian tradisional yang sangat komunikatif karena pesan-pesan yang disampaikan berbentuk pantun dalam bahasa daerah Dayak dan mudah dimengerti penontonnya atau pendengarnya karungut diiringi alat musik kecapi bisa memakai band atau organ sastra lisan Nusantara untuk Kalteng.

“Saya harapkan kegiatan positif ini tidak berhenti disini saja namun terus berkelanjutan agar para generasi muda dapat melestarikan sehingg tidak hilang ditelan zaman,” pungkasnya. (*/ala)

You Might Also Like