Petugas dari Komisi Penanggulangan HIV/Aids memeriksa warga yang terjaring razia pekat di Kota Sampit, Minggu (26/5) malam


SAMPIT – Petugas gabungan Satpol PP, Polri dan TNI kembali menjaring puluhan pemuda dan pemudi saat operasi penyakit masyarakat (pekat) di Kota Sampit, Minggu (26/5) malam. Ada 21 orang yang kena razia malam itu, terdiri dari 17 orang tanpa KTP serta 3 pasangan bukan suami istri (pasutri). Dua pasangan langsung menjalani tes HIV/Aids.

Sasaran operasi malam itu adalah hotel dan penginapan serta tempat hiburan umum. Pada operasi pekat yang dilakukan di G Poll Sarana Olahraga Billiar Centre Sampit di Jalan Pemuda, petugas menjaring 17 pemuda dan pemudi karena tanpa KTP. Sementara 2 pasangan bukan pasutri dijaring di Hotel Mercury serta 1 pasangan lainnya di Hotel Fairuz.

Plt Kasatpol PP Kotim M Fuad Siddiq mengatakan pihaknya melakukan razia untuk mewujudkan visi Kotim, yakni menarik, tertib, aman dan berbudaya (mentaya). “Penjaringan kepada beberapa pasangan pada malam Minggu (25/5) dan Minggu (26/5) dilakukan agar mengurangi perbuatan yang melanggar aturan yang berlaku. Operasi pekat ini akan berlangsung, meski tidak pada bulan Ramadan. Kami sudah diberikan SK untuk melakukan kegiatan ini,” kata Fuad Siddiq kepada Kalteng Pos, Senin (27/5).

Sementara Ketua Komisi Penanggulangan HIV/Aids (KPA) Kotim Asyikin Arpan menjelaskan, pihaknya menyambut baik razia pekat yang dilakukan Satpol PP, Polri dan TNI ini. Apalagi dalam operasi pekat ini ditemukan beberapa pasangan bukan suami istri. “Kami dari KPA akan melakukan pendataan dan penyampaian tetang bahaya dan dampak dari melakukan hubungan tanpa pernikahan atau ganti pasangan terus menerus,” kata Asyikin saat menasehati puluhan pemuda dan pemudi yang kena razia  tentang dampak hubungan tanpa pernikahan di aula Satpol PP, Minggu malam (26/5).

HIV terkena akibat berhubungan seks dengan orang lain secara bergantian. “Meski si laki-laki tidak terkena HIV, si wanita terkena maka si laki-laki akan terkena juga. Apalagi penularannya sampai kepada keturunan nantinya. Bayangkan saja, kasus HIV/AIDS pada 2018 lalu mencapai 64 kasus dan 13 persennya adalah ibu rumah tangga (IRT). Oleh sebab itu, penyakit ini harus ditanggulangi semaksimal mungkin dan seefektif mungkin untuk dilakukan pencegahan dini,” tegasnya.

Menurut Asyikin, proses penyembuhannya pun tergolong sulit dan harus melakukan pengobatan secara rutin. Bahkan minum obat setiap hari seumur hidup. “Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat yang ada di Kotim agar tidak jajan sembarangan (maksudnya hubungan badan bukan suami istri) yang tidak pada tempatnya. Bahayanya sungguh luar biasa dan pengobatannya pun tidaklah gampang,” ungkapnya. (rif/ens/ctk/nto)

1 2

Editor :
Reporter :

You Might Also Like