Dillah (tengah), Nur Aida (belakang) dan Adhan (depan) saat ditemui di tempat tinggalnya di Kompleks Flamboyan Bawah, Jumat lalu (17/5).(FOTO : HENI/KPC)


Di salah satu barak di Kompleks Flamboyan Bawah, tampak didiami tiga orang bersaudara. Barak berbahan kayu dengan kondisi lantai yang sudah bolong dan rapuh, berdinding triplek yang sudah bolong-bolong itu dihuni Dilah Saputra (15) dan kedua adiknya Nur Aida (Ida) dan Muhammad  Ramadani (Adan). Sementara sepeninggal kedua orangtuanya, Dilah harus menghidupi kedua adiknya.

----------------------------------------

MELIHAT kehidupan Dilah dan kedua adiknya membuat cukup trenyuh. "Ibu meninggal tahun 2016 dan ayah meninggal tahun 2018. Barak ini sewa per bulannya sekitar 300 ribu," kata Dilah sambil menunduk.

Dilah mengatakan, dirinya dan ketiga adiknya sangat senang jika ada tetangga mereka yang menggelar acara, karena mereka akan menumpang makan gratis. Untuk makan sehari-hari, Dilah akan memasak nasi. Tetapi untuk lauknya terkadang dikasih dari tetangganya yang kebetulan masih ada ikatan keluarga.

Dilah terpaksa putus sekolah, dikarenakan menunggu ayahnya yang sedang sakit-sakitan kala itu di rumah sakit selama sebulan tanpa pemberitahuan ke pihak sekolah. Kemudian, saat ia pergi ke sekolah lalu dipanggil oleh gurunya dan mengatakan bahwa ia dikeluarkan dari sekolah.

"Waktu itu saya kelas 5 SD. Saya tidak sempat mau minta izin ke sekolah, saya juga bingung memikirkan ayah saya yang sedang sakit waktu itu. Sebenarnya saya pengen sekolah lagi tapi tidak punya biaya, lagian rapor saya juga sudah dirobek sama Adan," katanya sambil menatap adik bungsunya.

Kemudian, setelah beberapa saat setelah ayahnya meninggal di tahun 2018, Dilah pun berpikir cara mencari nafkah. Lalu ia pun bekerja di daerah Jalan Rajawali dan mendapat gaji 500rb per bulan. Dilah pergi bekerja menggunakan angkutan umum bersama adik bungsunya. Tetapi, sekarang Dilah sudah berhenti berkerja. Karena tidak ada yang menjaga adik bungsunya yakni Adan.

"Biasanya saya bawa kerja, tapi karena dia nakal kan oleh masih kecil, makanya saya tidak kerja lagi," ucap Dilah seraya menatap adik bungsunya lagi yang  kala itu sedang merengek minta dibelikan kembang api.

Jika adik bungsunya meminta uang untuk jajan urai Dilah, biasanya ia diamkan saja. Karena ia tak punya uang untuk diberi. Bahkan adik perempuannya yang bernama Ida sekolah tanpa uang jajan. Padahal Ida mesti ke sekolah dengan jalan kaki di bawah teriknya matahari.

"Adik yang perempuan sekolah di SDN 07 Langkai kelas 3 SD. Karena tidak punya uang ya tidak ada uang jajan, yang penting paginya Ida sarapan di rumah," tutur Dilah.

Dilah menceritakan bahwa Adan, adik bungsunya yang berusia 5 tahun sering mencari ibunya jika malam tiba. Memang jika siang Adan asyik bermain saja. Tetapi pas malam saat terbangun dari tidurnya terkadang Adan menangis, hingga membuat tetangga mereka risih dan marah-marah. Adan juga sering menangis mencari ayah mereka dan terkadang ia mengigau.

"Memang ditinggal ibu sudah lumayan lama, tapi Adan masih cari ibu terkadang. Apalagi setelah ditinggal ayah, tidak ada yang nenangin Adan. Adan juga kadang nyari ayah, aku sama Ida selalu berusaha nenangin Adan biasanya, tapi agak susah," ucapnya. (atm/OL)

You Might Also Like