KOMPAK: Komuitas Natural Street Together (NST) BMX Tulungagung saat latihan bersama. IST FOR JPC


Sering Cedera dan Terluka

Anggota komunitas Natural Street Together (NST) BMX Tulungagung  memilih olahraga ekstrem. Karena ingin uji adrenalin di jalanan. 

SUASANA bebas kendaraan tampak di sekitar area Taman Aloon-Aloon Tulungagung, Minggu (14/4). Itu dimanfaatkan warga Kota Marmer untuk melakukan berbagai aktivitas, di antaranya joging, naik kuda, berjualan dan lain sebagainya.

Namun, Koran ini tertuju kepada beberapa pemuda menaiki sepeda. Sepeda tersebut berukuran mini itu khusus dibuat untuk atraksi. Ada sekitar 10 jenis sepeda memiliki bentuk dan telah dimodifikasi. Modifikasi sepeda untuk memudahkan mereka saat melakukan berbagai trik.

Mereka tampak berputar-putar dan jumping dengan sepeda BMX. Komunitas penggemar olahraga ekstrem itu adalah komunitas Natural Street Together (NST) BMX Tulungagung. Mereka beranggotakan sekitar 20 remaja dari berbagai latar belakang berbeda, mulai dari pelajar, mahasiswa, dan ada yang sudah bekerja.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Tulungagung (Grup Kalteng Pos) di  lokasi itu, salah seorang anggota komunitas, Fajar Mawardi mengatakan, aktivitas mereka merupakan kegiatan rutin berlatih bersama dengan sesama anggota. “Memang tidak semua ikut,” jelasnya sembil istirahat setelah bersepeda.

Ada beberapa tempat dipilih untuk berlatih, mulai di Taman Ngrowo dan Taman Aloon-Aloon Tulungagung. Selain itu, komunitas tersebut sering berlatih dengan rekan sesama komunitas di luar kota. “Biasanya di sini (aloon-aloon,Red) dan Ngrowo,” ungkapnya.

Remaja yang memiliki rambut gondrong tersebut mengatakan, komunitasnya itu dibentuk pada tahun 2010 lalu. Berbagai aktivitas dilakukan saat berkumpul mulai berlatih trik baru bagi pemula ataupun saling tukar informasi. “Kalau kami sering tukar informasi, dan mengajari yang belum bisa, kalau dulu kami belajar sendiri dari YouTube,” ujarnya.

Anggota komunitas, Fajar Mawardi mengatakan,Saat berlatih trik dalam BMX, butuh ketelatenan dan kesabaran, serta sering mengulangi hingga beberapa kali. Bahkan, jatuh dan luka itu menjadi hal biasa. “Kalau jatuh dan terluka menurutku suatu hal biasa bagi pecinta olahraga ekstrem ini, tidak boleh kapok,” ungkapnya.

Pria yang akrab dipanggil Peje ini mengaku, banyak cerita unik dari berbagai aksinya di berbagai lokasi saat berlatih. Mulai banyak orang yang melihat saat latihan, hingga salah satu anggotanya pernah patah bahu. “Ada salah satu teman kami yang mengalami patah di bagian bahu setelah melakukan trik, akhirnya hingga kini masih berobat sudah sekitar setahun,” ujarnya.

Dia berharap di Tulungagung ini, car free day yang sudah dilakukan di sekitar Taman Aloon-Aloon itu lebih lama waktunya. Karena di kota-kota lain hingga pukul 10.00 lebih. Selain itu, juga berharap agar pemerintah lebih memperhatikan semua pemuda yang menekuni berbagai olahraga di Tulungagung, dan tidak tebang pilih. “Saya harap semua cabang olahraga baik yang ekstrem dan yang tidak semoga lebih di perhatikan, kami juga pernah mewakili Tulungagung se-karisedenan pernah juara dua dan tiga,” jelasnya.  (rt/iyo/did/JPR)

You Might Also Like