Ilustrasi kerokan. (foto: net)


MASYARAKAT Indonesia masih percaya dengan teknik pengobatan tradisional yaitu kerokan. Kerokan biasa dilakukan ketika seseorang merasa pegal-pegal, keringat dingin, atau masuk angin. Lalu, bagaimana sebenarnya fungsi kerokan?

Perlu dipahami terlebih dahulu, beberapa masyarakat sering salah mengartikan masuk angin. Sebab, tanda-tanda masuk angin bisa saja sebenarnya gejala serangan jantung.

“Ketika serangan jantung orang sering menganggap masuk angin sehingga yang dilakukan kerokan,” kata Ahli Spesialis Penyakit Jantung Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K), kepada JawaPos.com baru-baru ini di sela-sela konferensi pers bersama RS Columbia Asia.

Lalu, bagaimana dengan kerokan? Bolehkah digunakan ketika merasakan masuk angin?

Ia mengatakan tanda masuk angin seperti mual hingga muntah memang seperti gejala serangan jantung. Tapi jika dibarengi dengan nyeri dada, sebaiknya bawa ke rumah sakit dan hindari mengerok bagian tubuh.

Sebab, ungkap dr. Yoga, kerokan itu sendiri bisa membuat pembuluh darah luka. Terlebih ketika seseorang sedang mengosumsi obat pengencer darah. Padahal sensasi rasa lega yang dirasakan tubuh setelah kerokan itu karena tambahan balsem pereda nyeri pada tubuh.

“Diberikan obat pengencer darah bisa menambah masalah. Jadi kalau masuk angin, nyeri dada mual muntah jangan-jangan serangan jantung. Tak boleh dikerok, sebab jika dikasih pengencer darah bisa perdarahan,” ujarnya.

Untuk itu pentin utnuk diketahui, seseorang biasanya mengalami nyeri dada sebelum mengalami serangan jantung. Saat serangan jantung terjadi secara total pada jam-jam pertama, seseorang bisa mengalami komplikasi gangguan irama sehingga denyutnya jadi cepat sekali.

Kejadian itu cukup tinggi terjadi di 24 jam pertama, dan pada jam-jam pertama pembuluh darahnya tersumbat. Hal itu yang membuat seringkali pasien meninggal mendadak. Sedangkan angin duduk merupakan terminologi masyarakat awam. (JPC/KPC)

You Might Also Like