Petugas KPPS sedang menghitung perolehan surat suara di salah satu TPS di Lamandau, Rabu (17/4)


NANGA BULIK – Pemilihan umum tahun ini disebut sebagai pemilu yang melelahkan dan komplek bagi banyak pihak. Mulai dari para penyelenggara, keamanan, hingga para saksi dibuat repot.

Bahkan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) merasa seakan kerja 24 jam. Lantaran waktu persiapan, pencoblosan, penghitungan suara, hingga rekap data yang memakan waktu cukup lama. Bahkan ada yang baru selesai malam hari  Rabu (17/4) hingga subuh Kamis (18/4).

"Kami sebenarnya sudah selesai penghitungan suara sekitar jam 23.30 WIB, namun proses rekap data yang lumayan rumit, hingga kami baru selesai pada waktu subuh," kata Ketua KPPS 1, Desa Mekar Mulya Kecamatan Sematu Jaya, Diah kepada Kalteng Pos, Kamis (18/4).

Menurut Diah, lamanya waktu yang dibutuhkan pada proses rekap data dikarenakan banyaknya form yang harus diisi. Sedangkan banyak anggota KPPS yang belum mengerti tugasnya. "Banyak anggota yang tidak paham, karena minimnya bimtek (bimbingan teknis, red). Terutama rekap data setelah penghitungan suara. Bimtek kurang detil teknisnya," akuinya.

Selain itu, faktor kelelahan dan mengantuk menjadi tantangan tersendiri bagi KPPS agar tetap fokus menyelesaikan rekap data. "Sampai ada anggota yang tertidur karena ngantuk. Apalagi setelah penghitungan suara. Tentu ini menghambat kerja kami. Untung panwas dan PPS ikut membantu," jelasnya.

Untuk itu, pihaknya berharap agar KPU selaku penyelenggara pemilu dapat memberi bimbingan atau pelatihan yang cukup bagi anggota KPPS dan PPS, agar permasalahan yang mungkin muncul dapat diminimalisir.

"Terutama soal gaji juga. Dengan kerja lembur, harusnya dapat uang lelah yang lebih besar," harapnya.

Ketua DPRD Lamandau Tommy H Ibrahim pun menyoroti pelaksanaan Pemilu 2019 di Kabupaten Lamandau. Menurut dia, pemilu tahun ini terkesan mundur jika dibanding pelaksanaan tahun sebelumnya.

"Sebenarnya kita ini sudah 12 kali pemilu di republik ini. Nah di Lamandau pengalamanya sudah sejak 2004. Sekarang berarti sudah pemilu yang kelima, lima kali pemilu. Sepertinya semakin tahun, lima tahun itu harusnya semakin membaik, tapi kami lihat malah semakin mundur," ungkapnya.

Menurut Tommy, pendataan pemilih merupakan hal awal dan penting dalam pemilu. Namun masih terjadi masalah dalam pelaksanaannya. Hal ini menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara pemilu. "Pertama, pendataan pemilih, karena muaranya dari sana," akuinya.

Selain pendataan pemilih, pihaknya juga menyoroti terkait penempatan pemilih dalam tempat pemungutan suara. Bahkan ditemukan dalam satu keluarga ditempatkan dalam TPS yang berbeda atau tidak dalam satu TPS. Tommy berharap agar KPU lebih gencar lagi sosialisasi pemilu kepada para pemilih. (*cho/ens/ctk/nto)

You Might Also Like