KPU Kalteng bersama beberapa pejabat melaksanakan nobar di Bioskop 21 Palangka Raya Mall, Senin (15/4). (ANISA/KALTENG POS)


Sejarah baru bagi bangsa Indonesia. Pemilu yang dilaksanakan Hari ini (17/4) merupakan pemilu serentak untuk memilih presiden dan wakil presiden hingga DPRD kabupaten/kota. Tentunya ini membuat KPU sebagai lembaga penyelenggara bekerja ekstra keras. Sosialisasi guna meningkatkan partisipasi pemilih terus digencarkan. Nonton bareng salah satu caranya.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya


“KENAPA Nur? Capek ya jadi guru?” tanya Juhari, seorang pemilik usaha dangdut di sebuah desa kecil.

“Capek sama Bapak. Semua orang bisa seperti ini karena guru, Pak,” sahut Nur Lela, perempuan berkulit cerah dan berhijab itu. Ia ikhlas mengabdi menjadi seorang guru di salah salah satu SMA di desanya.

Juhari merupakan tokoh masyarakat setempat. Entah mengapa, warga di desa itu selalu tunduk dengan perkataannya. Bahkan ia memprovokasi masyarakat setempat untuk tidak mengikuti pemilu.

Desa ini sudah 15 tahun tidak menyelenggarakan pemilu. Bukan tidak beralasan. Desa yang terkenal dengan pencinta dangdut itu mengalami trauma. Pada pemilu 15 tahun silam, ada kisah yang dialami warga desa itu yang membuat mereka anti-pemilu.

Tapi, tidak semua. Saat pemilu 2019 akan dimulai, tim Relawan Demokrasi pusat datang dan memberikan kesadaran kepada masyarakat desa itu. Awalnya sempat ada penolakan. Namun karena keteguhan, kerja keras, dan sikap pantang menyerah dari tim, desa itu pun akhirnya bisa melaksanakan pemilu.

Salah satu yang bekerja menjadi anggota Relawan Demokrasi adalah Chandra. Ia berjuang melakukan sosialisasi demi meningkatkan partisipasi pemilih. Tak hanya kepada masyarakat, edukasi kepada peserta pemilu pun dilakukan. Dalam berlaga menjadi wakil rakyat tidak boleh bermain belakang, politik uang, atau lainnya.

Seiring berjalannya waktu, Chandra mampu memengaruhi beberapa warga desa, termasuk Nur Lela. Perdamaian dalam berlaga pun tercipta. Peserta pemilu yang awalnya saling berlomba-lomba dengan cara yang tak benar menjadi sadar. Yang bertengkar karena berbeda pilihan, kembali rukun dalam persaudaraan.

Seperti itulah sinopsis film berjudul “Suara April”. Film produksi KPU RI yang diputar di Bioskop 21 Palangka Raya Mall, Senin (15/4). Dalam nonton bareng (nobar) yang diselenggarakan KPU Kalteng itu, mengundang sejumlah pejabat, kalangan media, dan warga Kota Palangka Raya yang mendapatkan kesempatan.

Kisah film tersebut memiliki makna luar biasa. Memberi pesan kepada masyarakat dan juga kontestan pemilu. Satu suara itu penting. Memilih juga keren.

Ketua KPU Kalteng Harmain Ibrohim mengatakan, nobar tersebut merupakan bagian sosialisasi yang lebih milenial. Lebih lanjut dikatakannya, nobar dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia.

Pada intinya, kata dia, pemutaran film ini bermaksud menyampaikan kepada masyarakat  akan pentingnya pemilu dan begitu berharganya satu suara. Sudah tentu, KPU Kalteng tak pernah lelah mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemilu hari ini. Jangan golput!

“Kami meminta kepada masyarakat Kalteng hadir ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk memilih,” ucapnya di Palangka Raya Mall, Senin (15/4).

Diungkapkannya, petugas KPU telah menyebarkan C-6 untuk masyarakat yang akan memilih. Apabila ada pemilih yang belum menerima C-6 tapi memiliki KTP-el, maka masih dapat memberikan suaranya.

“Sekali lagi saya tekankan, C-6 ini hanya surat pemberitahuan saja. Bagi yang tidak menerima C-6 tapi memiliki KTP-el, masih bisa memilih,” ungkapnya kepada media.

Dijelaskannya, bagi masyarakat yang sudah terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) atau DPT tambahan (DPTb), waktu memilihnya pukul 07.00 WIB-13.00 WIB. Sementara bagi mereka yang belum terdaftar pada keduanya, maka diberi waktu untuk memilih pada pukul 12.00 WIB.

Senada dengan itu, Anggota Komisioner KPU Kalteng Eko Wahyu Sulistiobudi mengingatkan kepada masyarakat untuk jangan menunda-nunda jam memilih. Tujuannya agar tak terjadi penumpukan. Masyarakat pun diminta menjaga ketertiban dan keamanan selama proses pencoblosan.

“Kami ajak masyarakat untuk saling mengingatkan tetangga atau keluarganya untuk datang memilih di TPS,” tegasnya.

Sebagai lembaga penyelenggara pemilu, pihaknya mengimbau para petugas KPPS sebagai ujung tombak, agar memegang teguh prinsip-prinsip penyelenggara pemilu.

“Jalankan tugas sebagai penyelenggara pemilu secara tranparan. Peserta pemilu juga bisa menyaksikan jalannya pemungutan suara, tapi tetap mengikuti aturan yang berlaku,” pungkasnya. (*/ce/ala)

You Might Also Like