Tanah di pinggir Sungai Kahayan tak mampu lagi menopang bangunan rumah kayu di atasnya. Akibatnya, tiga rumah rusak parah. (DENAR/KALTENG POS)


PALANGKA RAYA-Sungai Kahayan dalam kondisi surut dan dangkal. Tak ada angin kencang yang bertiup. Namun, tiba-tiba tanah di bantaran sungai retak. Alhasil, bangunan rumah kayu yang berdiri di atasnya langsung ambruk. Beruntung tak ada korban jiwa maupun terluka pada peristiwa yang menggembarkan warga Flamboyan Bawah itu.

Kejadian itu sangat mengejutkan warga yang bermukim di kompleks Flamboyan Bawah, Kelurahan Langkai, Jumat (19/7) sekitar pukul 14.00 WIB. Retakan tanah di bantaran Sungai Kahayan terlihat jelas. Tanah mengalami penurunan kurang lebih tiga meter. Tiga rumah kayu yang dibangun di atas tanah tersebut miring dan nyaris rata dengan tanah. Akibatnya, 16 jiwa kehilangan tempat tinggal. Sebagian memilih mengungsi ke rumah sanak keluarga, sementara beberapa lagi memilih untuk tetap bertahan.

Salah satu korban bernama Hadawati (40). Setelah kejadian itu, ia memilih tinggal bersama keluarga untuk sementara waktu, sembari membongkar dan mengumpulkan bahan-bahan rumah kayu yang telah roboh itu, yang bisa digunakan untuk membangun rumah baru atau menjualnya sebelum berpindah ke tempat yang baru.

“Sekarang saya tinggal dengan keluarga, mas. Sudah dua hari ini di situ. Rumah saya hanya tersisa dapurnya saja. Depannya roboh. Waktu itu saya sedang nggak berada di rumah karena bekerja,” ucapnya sembari menghela napas panjang, Minggu (21/7).

Dikatakannya, tak ada tanda-tanda sebelum kejadian itu. Saat pulang dari tempat kerja, ia begitu terkejut tatkala melihat rumahnya sudah roboh. Kemudian ia menyelamatkan beberapa barang  yang masih bisa diambil.

Ibu tiga anak tersebut mengatakan, ia sempat mengkhawatikan anaknya yang diringgalkan di rumah. Beruntungnya, saat kejadian itu anaknya sedang bermain game di dapur dan tidak terjebak longsor.

Sementara itu, Salihin (15) yang merupakan anak Hadawati mengisahkan, saat itu ia berada di dapur dan asyik bermain ponsel. Saat longsor terjadi, ia tidak merasakan getaran besar, tapi melihat rumah bagian depan secara pelan-pelan terpisah dari dapur.

“Tidak ada berasa, cuma saya melihat langsung rumahnya pelan-pelan menurun dan roboh. Awalnya dari depan jembatan kemudian ke belakang,” kata anak yang menginjak bangku SMP tersebut sembari menunjuk rumahnya.

Di tempat terpisah, Lurah Langkai Evarina mengatakan, pihkanya sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Palangka Raya melalui instasi terkait, untuk memberikan penanganan terhadap korban peristiwa ini.

“Ada tiga rumah yang terdampak, empat kepala keluarga (KK) dengan jumlah 16 jiwa. Kami sudah melakukan koordinasi dan memberikan sedikit bantuan untuk meringankan beban korban,” katanya.

Wanita berparas cantik tersebut menuturkan, salah satu yang tekena dampak dari longsor tersebut adalah pipa PDAM. Namun, lanjutnya, saat ini sudah dilakukan penanganan dan perbaikan oleh pihak terkait. Juga menyangkut jaringan listrik.

“Ketika saya di sana (lokasi kejadian), pipa PDAM dan jaringan listrik sementara diperbaiki petugas. Sebagian korban mengungsi ke tempat keluarganya. Kejadian ini sudah ditangani instansi terkait,” pungkasnya. (ndo/ce/ala)

Content 1 tulis di sini......
Content 2 tulis di sini......
Content 3 tulis di sini......
Content 4 tulis di sini......
Content 5 tulis di sini......
1 2 3 4 5

You Might Also Like