Pertama dalam Sejarah Polda Kalteng, Kapolda dan 14 Kapolres Dapat Gelar Adat (1)

Dengan Semangat Kebersamaan, Mampu Menjaga Keamanan

 Kamis, Tanggal 05-04-2018, jam 10:09:24
Kapolda Kalteng Brigjen Pol Anang Revandoko dan Istri. (FOTO : AGUS PECE/KALTENG POS)

Kegiatan strategis sering bergulir dalam setahun terakhir ini. Keamanan dan ketertiban yang selalu dijaga menjadi target utama. Sampai akhirnya, penghargaan itu datang dari suku Dayak, suku asli Kalteng.

AGUS PRAMONO, Palangka Raya

Kita memiliki pancasila dan huma betang sebagai pegangan. Insya Allah tak tergoyahkan”. Demikanlah seruan Kapolda Brigjen Pol Anang Revandoko, saat perayaan Natal kebangsaan dan penyalaan obor toleransi, beberapa waktu lalu. Masih membenak di ingatan penulis.

Seruan itu sontak membangkitkan semangat. Semangat kebangsaan. Semangat persaudaraan dan toleransi. Semua sama, satu nusa, satu bangsa, bangsa Indonesia.

Kapolda mengajak semua komponen bersatu. Semua masyarakat bergandengan tangan. Tidak memandang suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Lantaran potensi serangan teror, radikalisme dan potensi konflik di kehidupan bermasyarakat masih mangancam. “Akan tetapi, semuanya itu akan terkikis, pudar, lalu menghilang, jika semua bersatu dalam bingkai pancasila dan falsafah huma betang,” ujar Brigjen Pol Anang Revandoko kepada Kalteng Pos saat itu.

22 Maret lalu, Polda Kalteng sudah berdiri selama 23 tahun. Usia yang cukup dewasa, jika diibaratkan manusia. Mengutip dari sejarah, pataka Polda Kalteng Manunggal Dharma Carya Jaya diberikan pertama kali kepada Kapolda Kalteng pertama, Kol Pol Deddi Gandrijadi Gantika.

Manunggal Dharma Carya Jaya mempunyai arti, bahwa perwira polri sebagai bhayangkara negara khususnya yang bertugas di Kalteng, melaksanakan kewajiban dan buktinya bersama aparat lain dengan keperkasaan jiwa, serta menjunjung tinggi kehormatan dan martabat bangsa.

Untuk kewajiban, secara keseluruhan sudah dilakukan. Berbagai kegiatan positif sudah dilakukan demi terciptanya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Bumi Tambun Bungai.

Yakni, mengajak elemen mahasiswa mendeklarasikan cinta NKRI anti-radikalisme dan intoleransi. Ikrar pancasila bersama tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat di Tugu Soekarno. Gelora bulan kemerdekaan RI tahun 2017, dengan mengibarkan satu juta bendera merah putih ke pelosok Kalteng. Selain itu, ada juga Ikrar bersama umat beragama dan budaya serta pawai budaya bersama tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Tak hanya itu saja, ribuan masyarakat tumpah ruah dalam kegiatan natal kebangsaan dan penyalaan obor toleransi. Polda Kalteng menjadi inisiator mendeklarasikan pilkada damai yang mempertemukan calon kepala daerah di 11 kabupaten/kota.

Terbaru, menjelang pelaksanaan pilkada, mengajak semua elemen masyarakat mendeklarasikan anti-hoax. Semua anggota polri terjun langsung bertatap muka dengan masyarakat, untuk mengajak memerangi berita hoax.

“Saya tekankan ke anggota, kita harus membawa pesan ke masyarakat semangat kebersamaan, semangat anti-hoax, semangat mempererat persaudaraan antarumat beragama,” ungkap jenderal bintang satu kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini.

Tak salah jika gelar kehormatan diberikan oleh Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng kepada jenderal yang pernah menjabat sebagai Wakakorbrimob Polri ini. Sebagai bukti nyata, gelar adat yang dianugerahkan kepada Brigjen Anang Revandoko adalah Mantir Hai Panambahan Antang Baputih Penyang Karambang Lewu Mandereh Danum. Anang merupakan kapolda Kalteng pertama dari 15 kapolda sebelumnya, yang berhasil menorehkan sejarah. Tinta Emas bagi Polda Kalteng.

Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng H Agustiar Sabran menyebut, gelar itu memiliki makna seorang pemimpin yang dituakan, pemberani, arif dan bijaksana, serta mampu menjaga keamanan dan ketertiban. “Pemberian gelar melalui pertimbangan matang. Semua damang dan mantir adat dilibatkan melalui berbagai pembahasan dan rapat. Kapolda pantas mendapatkannya (gelar adat, red),” ujar Agustiar kala itu.

Tak hanya itu saja, 14 kapolres yang ada di 13 kabupaten dan 1 kota juga mendapat gelar Mantir Panambahan. Memiliki arti seseorang yang dipandang mampu menjaga keamanan dan ketertiban, serta bertanggung jawab sebagai pelindung, pengayom dan penegak hukum, dalam rangka meningkatkan harkat da martabat masyarakat. (ce/bersambung)

Berita Terkait