Tanda Tangan Yantenglie Dipalsukan untuk Mengalihkan Dana

 Selasa, Tanggal 12-02-2019, jam 04:48:22
Ilustrasi tanda tangan palsu. (foto: net)

PALANGKA RAYA – Ahmad Yantenglie, kini mendekam di Rutan Klas IIA Palangka Raya. Hari-hari menjelang persidangan, ada fakta baru yang dibeberkan oleh Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejati Kalteng, Tommy.

Perusahaan PT Zanasfar Mandiri, yang rekeningnya dijadikan pemindahan uang APBD sebesar Rp57.650.000.000 diduga fiktif atau sudah tak beroperasi lagi.

Kemudian, orang yang berinisial CH, merupakan orang yang juga terlibat atas hilangnya uang rakyat tersebut.

“Deposito sebesar Rp100 miliar yang dibuka di Bank Tabungan Negara tersebut memang dibuka oleh CH atas perintah Yantenglie,”tuturnya.

Setelah itu, lanjut Tommy, CH mengalihkan dari tabungan ke deposito atas perintah mantan orang nomor satu Katingan tersebut. CH secara diam-diam melakukan pembukaan rekening giro tanpa sepengetahuan Yatenglie. Pembukaan itu dilakukan sendiri oleh CH. Jelas di sini si CH melakukan pemalsuan tanda tangan dari pak Yatenglie,” ungkapnya.

Informasi yang dihimpun, hilangnya uang Rp57.650.000.000, Yantenglie menunjuk H Eddi Wibowo sebagai kuasa hukum untuk membantu permasalahan tersebut. Dengan perjanjian H Eddi Wibowo mendapatkan fee sebesar 12 persen dari dana yang berhasil.

Ketika itu, Yantenglie melapor ke Bareskrim Polri telah kehilangan uang kas daerah. Beralibi menjadi korban penipuan. Untuk itulah, ia menggandeng kuasa hukum Eddi.

“Saat ini CH masih menjadi buronan Polda Metro Jaya. Jelas di sini si CH melakukan pemalsuan tanda tangan dari pak Yatenglie,”ungkap Tommy.

Sementara, sidang perkara mantan Bupati Katingan ini akan digelar akhir Februari mendatang.

Untuk diketahui, kronologi kasus berawal pada tahun 2014. Dana APBD Katingan dengan cara penempatan APBD di Bank BTN Kantor Kas Pondok Pinang, Jaksel, sebesar Rp100 miliar dalam tiga tahap; pertama Rp75 miliar, kedua Rp10 miliar, dan ketiga Rp15 miliar.

Lalu, dipindahkan dari rekening Pemkab Katingan ke rekening perusahaan atas nama PT Zanasfar Mandiri sebesar Rp57.650.000.000.

Sejumlah perbuatan Yantenglie yang dianggap melawan hukum adalah tidak melakukan perencanaan kas yang memadai dalam menyusun Nota Pertimbangan atas Penempatan Dana APBD Pemkab Katingan sebesar Rp100 miliar pada Bank BTN Kantor Kas Pondok Pinang Jakarta.

Kedua, Yantenglie juga dianggap mengabaikan persyaratan yang diatur dalam Perbub Katingan Nomor 20 Tahun 2014, tentang Penempatan Uang Pemerintah Daerah pada Bank Umum dalam bentuk Deposito dan Giro dalam menyusun Nota Pertimbangan yang digunakan sebagai tanggapan atas penawaran kerja sama dari Bank BTN Kantor Kas Pondok Pinang.

Ketiga, membuka rekening giro pada Bank BTN Kantor Kas Pondok Pinang yang tidak sesuai dengan tujuan awal Pemkab Katingan yaitu untuk membuat rekening deposito.

Keempat, menarik dan pemindahbukuan dana ke rekening Kasda Pemkab Katingan yang dimaksudkan sebagai bunga deposito atas perintah Yantenglie.

Kelima, menarik dan pemindahbukuan dana APBD Kabupaten Katingan sebesar Rp5 miliar kepada Eddy J Wibowo atas perintah Ahmad Yantenglie untuk pembayaran jasa penagihan dana APBD Kabupaten Katingan yang hilang tanpa melalui mekanisme APBD.

Nilai aset Yantenglie yang disita oleh Tim Penyidik Tipikor Ditreskrimsus Polda Kalteng mencapai Rp32 miliar. Barang bukti aset milik Yantenglie mulai dari bangunan rumah, uang tunai, alat musik, ruko, sarang walet, dan beberapa aset lainnya, disita. (old/ram/ctk/nto)

Berita Terkait