Sabran Ahmad


PALANGKA RAYA – Menghangatnya suasana politik Tanah Air, termasuk di Kalteng menjelang meilihan umum 2019, juga mendapat perhatian Ketua Dewan Adat Dayak Kalteng periode 2008-2016, Sabran Ahmad. Pria berusia 88 tahun itu mengimbau masyarakat Kalteng agar bisa menggunakan hak pilihnya sesuai hati nurani masing-masing.

Imbauan itu, kata Sabran yang ditemui di kediamannya, Senin (11/2/2019), berlaku baik untuk pemilu presiden (pilpres) maupun pemilihan legislatif (pileg).

"Silahkan gunakan hak pilih masing-masing sesuai hati nurani, namun alangkah baiknya untuk memilih pemimpin itu juga melihat latar belakang orang tersebut, baik dari kemampuan, pendidikan, kejujurannya. Jangan asal pilih dan membuat negara ini tambah mengalami kemiskinan," kata Sabran.

Sabran Ahmad juga meminta agar menghangatnya konstelasi politik saat ini tidak sampai menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat, akibat perbedaan pilihan. "Jangan mudah terprovokasi atas isu-isu yang tidak jelas, apalagi berpotensi memecah belah," imbaunya.

Lebih lanjut Sabran juga menambahkan, dirinya tidak mempermasalahkan sikap Ketua DAD Kalteng saat ini yang secara terbuka menyatakan dukungan terhadap salah satu pasangan capres. Bahkan menjadi ketua tim pemenangan di Kalteng.

"Saya tidak mempermasalahkan soal dukungan Ketua DAD Kalteng, karena itu hak pribadi beliau. Silakan saja. Termasuk mengklaim target suara pasangan capres yang didukung mampu mencapai 70 persen. Itu tidak masalah,” ujarnya.

Sementara terkait dengan pasangan capres/cawapres yang saat ini tengah bersaing merebut simpati masyarakat Indonesia, Sabran Ahmad memiliki pandangan bagi masyarakat untuk menentukan pilihan mereka. Khususnya masyarakat Kalteng.

"Kita bisa melihat komitmen mereka (capres/cawapres), misalnya harus memiliki solusi dalam masalah penerapan aturan hukum di masyarakat. Misalnya, larangan hukum seperti membakar hutan, menambang emas, menebang pohon. Setiap memberikan larangan harus ada solusinya, jika tidak boleh membakar lahan, orang Dayak harus seperti apa yang baiknya, agar tidak melanggar hukum,” kata Sabran.

Menurut salah satu tokoh pendiri Provinsi Kalteng yang masih hidup itu, saat ini orang Dayak di Kalteng merasa kesulitan untuk mencari penghidupan dari kekayaan alamnya sendiri. "Coba kita lihat, saat ini masyarakat kita seperti mencuri saja, sebab menebang pohon di tanahnya sendiri harus sembunyi-sembunyi, karena takut ketahuan yang nantinya akan ditangkap," ujarnya. (idu/OL/nto)

You Might Also Like