Terbukti Melanggar Adat, Warga Ancam Hentikan Aktivitas PT SEM

 Selasa, Tanggal 12-02-2019, jam 04:09:56
Salah satu makam diduga tertimpa pohon dan ranting akibat aktivitas land clearing, dibantah oleh PT SEM sebagai pembeli dan pemilik lahan saat ini. (LOGMAN/KALTENG POS)

TAMIANG LAYANG–PT Senamas Energendo Mineral (SEM) terbukti melanggar adat, setelah aktivitas land clearing menggunakan alat berat mengenai makam atau kubur keluarga korban. Hal itu disampaikan Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Paju Epat Purba Asaban, saat pertemuan antara keluarga pemilik makam dengan pihak perusahaan.

Pertemuan kedua belah pihak difasilitasi damang Paju Epat, berlokasi di kediaman ketua DAD Paju Epat, Senin (11/2).

Dalam pertemuan tersebut, pihak perusahaan belum bisa menyimpulkan bahwa merekalah yang menjadi penyebab perusakan makam itu. Suasana pun sempat memanas.

“Kami sudah melakukan pengecekan lokasi kuburan. Benar adanya perusakan, tetapi bukan penggusuran,” ucap Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Paju Epat Purba Asaban, kemarin.

(BACA JUGA: Dinas ESDM Bungkam dan Menghindar Soal PT SEM)

Dia menegaskan, PT SEM sudah melanggar adat. Pihak perusahaan pun telah mengakui. Perusahaan berjanji akan melakukan perbaikan. Menurutnya, apabila sanksi adat tidak berhalangan, dalam arti disetujui pihak keluarga, maka pelaksanaannya bisa direalisasikan, meski belum ada keputusan antara pihak keluarga dengan perusahaan.

“Dibuat pamalasan Rp35 juta, tetapi keluarga tetap menuntut Rp5 miliar,” tuturnya.

Damang Paju Epat Dalius menambahkan, pihaknya tetap menghormati keputusan keluarga dan mengikuti hasil kesepakatan mediasi di polsek beberapa waktu lalu. Ia menyebutkan, perusahaan hanya memberi bantuan atau tali kasih semaunya.

“Kami hanya ingin tuntutan memperbaiki kuburan sesuai keinginan keluarga, bukan sesuai keinginan perusahaan,” sebutnya.

Ditegaskan Dalius, pihak perusahaan tidak perlu menyentuh ke wilayah pemakaman.

“Kami hanya ingin mendengarkan keputusan perusahaan. Apabila tidak ada tanggapan, lain lagi urusannya,” ancamnya.

(BACA JUGA: Dituding Biang Kerok, PT SEM Bantah Garap Lahan Kuburan)

Salah satu keluarga korban, Aprianus (51) menyampaikan, pihaknya tidak menerima tawaran perusahaan atas perbaikan makam dengan santunan Rp5 juta hingga Rp10 juta. Pihak keluarga menilai bahwa hal tersebut sebagai pelecehan.

“PT SEM menilai harkat dan martabat kami sebatas itu, kami tidak terima. Jika tuntutan awal (Rp5 miliar) itu tidak dipenuhi, maka kami akan tutup aktivitas PT SEM,” ungkap Aprianus, kemarin.

Menurut dia, pihak keluarga berpandangan bahwa tawaran yang disampaikan perusahaan tidak bisa memulihkan apa yang telah diperbuat. “Bila hal tersebut terjadi pada keluarga sampaen, apakah tetap menerima,” ucapnya sembari menunjuk ke  salah satu perwakilan perusahaan yang hadir.

Sementara itu, perwakilan pihak PT SEM yang hadir saat itu, Syaifudin pun enggan memberikan komentar terkait tuntutan keluarga. Ketika diminta keterangan usai mediasi, ia bergegas meninggalkan lokasi untuk menghindari awak media. (log/ce/ala/ctk/nto)

Berita Terkait