Joko Intarto menerima buku dari pengurus BMH


SAYA menolak menulis buku. Tentang kisah para amil zakat Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Bukan apa-apa. Buku itu akan lebih ‘’bernyawa’’ kalau amil BMH sendiri yang menulisnya.

Lucunya, amil BMH sendiri tidak percaya diri. Mereka mengaku tidak bisa menulis buku. Tidak berbakat. Tidak tahu caranya. Jadi pesimistis bisa mewujudkannya.

Rabu kemarin, saya memberikan pelatihan penulisan konten kepada para amil BMH. Di Hotel Sofyan Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan. Sesi satu berisi teori-teori selama dua jam. Sesi dua praktik penulisan selama dua jam.

Saya minta semua peserta melupakan teori-teori penulisan. Yang pernah diperolehnya. Entah dari pelatihan atau membaca. Lupakan teori tata bahasa. Lupakan aturan berbahasa menurut buku ejaan yang disempurnakan (EYD).

Saya minta semua menggunakan teori penulisan baru: Bercerita lewat tulisan. Apa yang hendak diceritakan, itulah yang dituliskan. Tanpa intepretasi. Tanpa konversi. Apa yang ada di dalam kepala, tulis apa adanya.

Mulai tadi malam, hasil praktik penulisan itu mulai selesai bertahap. Hingga tadi siang masih ada yang mengirimkan hasilnya. Tapi saya belum bisa membaca semuanya. Baru tiga naskah saja.

Ternyata hasilnya di luar dugaan. Tulisan-tulisannya cukup bagus. Ceritanya lucu-lucu. Bikin ngakak. Misalnya, cerita Dhiyaudin, ketika ditugaskan menjadi amil door to door selama bulan Ramadan, di kota Sangatta, Kalimantan Timur.

Setelah briefing, Dhiyaudin segera bertugas. Rumah pertama yang diincar: rumah keren. Berarti pemiliknya orang kaya. Hasilnya? Nihil. Pemilik rumah menolak kunjungannya. Alhasil, Dhiyaudin pulang dengan tangan hampa.

Seperti belum kapok, Dhiyaudin kembali mendatangi sebuah rumah yang tidak kalah megahnya. Harapannya: bisa memperoleh titipan zakat yang lumayan besar. Kan pemilik rumah bagus itu pasti orang kaya?

Hasilnya? Kali ini justru lebih parah. Baru masuk pekarangan rumah, Dhiyaudin sudah dihadang dengan seekor anjing galak yang badannya besar. Sekali gongong, Dhiyaudin pun lari terbirit-birit. Dan anjing itu terus mengejarnya.

Sambil beristirahat di sebuah bangku di pinggir jalan, pandangan Dhiyaudin menatap sebuah bangunan rumah kayu. Sebuah rumah kecil yang standarnya biasa. Seperti rumah warga kebanyakan.

Di rumah keluarga yang tidak kaya inilah, Dhiyaudin mendapat sambutan hangat pemilik rumah. Seorang ibu yang berasal dari Jawa.

Ibu itu begitu bahagia dikunjungi seorang amil. Bahkan ia mengaku sudah lama ingin bertemu amil, untuk menunaikan kewajiban zakatnya. Ternyata Dhiyaudinlah orang pertama. Seperti yang diinginkan dalam doanya.

Ada sekitar 25 kisah amil BMH yang masuk ke email saya. Setelah diedit, kisah-kisah itu akan dibukukan. Cerita lucu-lucu. Mengingatkan saya pada buku ‘’Mati Ketawa Ala Russia’’. Mungkin, judul yang cocok, ‘’Mati Ketawa Ala Amil BMH’’. (jto/nto)

You Might Also Like