Kapal Tangker Pengangkut CPO Dari Sampit Dibajak Teroris?

 Sabtu, Tanggal 12-01-2019, jam 12:47:11
Ilustrasi: kapal tangker. (foto: net)

KEBERADAAN kapal Mother Tanker (MT) Namse Bangdzod pengangkut crude palm oil (CPO) yang yang bertolak dari Pelabuhan Sampit, Kalimantan Tengah (Kalteng) pada 27 Desember 2018 menuju Tanjung Priok, Jakarta, hingga dua pekan ini masih misterius.

Terakhir, kapal tanker yang mengangkut sebanyak 1.754.382 kg CPO atau minyak kelapa sawit itu muncul dugaan telah dibajak.

Hikmahanto Juwana, pengamat Hubungan Internasional dan militer asal Universitas Indonesia (UI) menilai, kemungkinan kapal MT Namse Bangdzod itu telah dibajak teroris Kelompok Abu Sayyaf.

Dia membeberkan motif penyanderaan yang dilakukan kelompok militan Abu Sayyaf terhadap 14 orang warga negara Indonesia (WNI) beberapa waktu lalu adalah ekonomi.  Dia juga menegaskan, sampai saat ini tujuan kelompok itu adalah perusahaan, bukan pemerintah. "Terlebih sampai saat ini, Kelompok Abu Sayyaf belum menghubungi pemerintah (Indonesia, Red). Jadi, benar tujuan mereka ke perusahaan, bukan pemerintah, jadi jelas motifnya ekonomi,” kata Hikmanto saat dihubungi, Kamis (9/1/2019).

Belum jelaskan kabar tentang MT Namze ini juga menimbulkan pertanyaan dari kalangan DPR. Anggota Komisi I DPR RI Jazuli Juwaini mengatakan, pihaknya sampai saat ini belum mendapatkan informasi soal hilangnya kapal MT Namse.

Menurut Jazuli, hingga saat ini belum mendapat kejelasan dari pihak manapun soal keberadaan kapal MT Namse Bangdzod. Dirinya khawatir peristiwa tersebut sengaja ditutup-tutupi. 

"Kami telah menanyakan kepada pihak-pihak berwenang. Tapi sampai saat ini belum mendapatkan informasi apapun terkait hilangnya kapal yang diduga telah dibajak itu," ucapnya

Sementara itu, pantauan lalu lintas maritim melalui situs marinetraffic.com, posisi kapal yang berbobot mati sekitar 1.950 ton dengan panjang 75.15 meter dan lebar 12 meter tersebut tetap berada di Laut Jawa. Namun pergerakannya sangat tipis. Jika pada 7 Januari 2019 sekitar pukul 21.09 berada di posisi S (South atau Selatan) 05°40'29.92 dan E (East atau Timur) 108°22'08.90,  maka pada hari dan jam yang sama, posisi hanya bergeser sedikit sekali, yakni S05°45'48.85 dan E106°52'10.22.

Meski demikian, tim gabungan belum berhasil menemukan keberadaan kapal hingga kemarin. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan (Ditjen Hubla Kemenhub) sampai Rabu (9/1/2019) masih mencari kapal MT Namse Bangdzhod yang dilaporkan hilang kontak. Padahal segenap upaya telah dilakukan. "Kita belum ada update lagi. Masih pencarian, kapal itu belum ketemu ," ujar Kepala Bagian Organisasi dan Humas Ditjen Hubla Gus Rional.

Jajaran TNI Angkatan Laut (AL) juga bekerja keras mencari keberadaan kapal MT Namse Bangdzod. Komando Armada (Koarmada) I yang membawahi wilayah laut Indonesia Bagian Barat sejak awal telah mengerahkan tiga unsur Kapal Perang RI (KRI), yaitu KRI Usman Harun-359, KRI Teluk Cirebon-543, dan KRI Tenggiri-865.

Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) I Laksamana Muda TNI Yudo Margono sudah memerintahkan Pangkalan TNI AL yakni, Lantamal dan Lanal untuk membantu melaksanakan pencarian kapal MT Namse. ”Kami juga berkoordinasi dengan Koarmada II  kemungkinan kapal tersebut memasuki wilayah kerja Koarmada II (yang membawahi Indonesia Bagian Tengah, Red),” ujarnya kepada INDOPOS, Jumat (10/1/2019).

Terkait adanya kemungkinan dibajak,  lanjut Yudo, pihaknya masih dalam tahap pencarian informasi pendukung. ”Ini karena sampai dengan saat ini belum ada tuntutan ataupun klaim yang bertanggung jawab atas dugaan pembajakan tersebut,” tandasnya. Yudo menjelaskan, kategori pembajakan itu harus ada tuntutan ataupun permintaan tebusan dari pihak tertentu serta motif.

Yudo mengatakan, beberapa hari lalu, posisi kapal telah terdeteksi lewat Automaticaly Identification System (AIS) dan Marinetraffic. Posisi kapal diperkirakan berada di sekitar perairan Teluk Jakarta, namun setelah dilaksanakan pengecekan nihil. Lantas apa kendala di lapangan? ”Minimnya data pendukung karena deteksi dari AIS dan Marinetraffic tidak valid,” jelasnya. (indpos/kpc)

Berita Terkait