Istri almarhum Kombes Pol Ben Dehen saat mengikuti prosesi pemakaman di TPU Jalan Tjilik Riwut Km 12 Palangka Raya, Selasa (8/1). (ARNOLDUS MAKU/KALTENG POS)


Almarhum Kombes Pol Ben Dehen meninggal pada usia 56 tahun. Setingkat lagi almarhum berpangkat jenderal. Namun Tuhan berkehendak lain. Semasa hidupnya, Dehen dikenal sebagai sosok yang kerap memberi motivasi kepada anggota dan rekan kerjanya.

ARNOLDUS MAKU, Palangka Raya

===============-=============-=

KAPOLDA Kalteng Irjen Pol Anang Revandoko melalui Kabid Humas Kombes Hendra Rochamawan, punya kenang-kenangan bersama almarhum Ben Dehen. Semasa Hendra menjabat sebagai kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) Tjilik Riwut.

Almarhum Kombes Pol Ben Dehen pernah mengajarkan agar para siswa SPN selalu disiplin, jujur, dan totalitas dalam menjalani tugas sebagai anggota kepolisian. Lebih dari itu, putra kelahiran Kapuas ini memotivasi serentak berharap, agar putra-putri Dayak bisa menjadi jenderal.

“Putra-putri Dayak yang jujur, disiplin, dan totalitas mesti bisa jadi jenderal,” ujar Hendra meniru ucapan almarhum Dehen.

Totalitas sebagai anggota Polri, diwujudkan mantan Kabagjiandiklat Rojianbang Lemdiklat Polri ini, hingga membuat dirinya kadang pergi pagi pulang pagi. Itu dijalaninya demi tugas kenegaraan.

“Sudah berpuluh-puluh tahun bapak jadi polisi, jarang bapak itu pulang kerjanya tepat waktu. Pasti larut,” beber Rio, anak almarhum.

Meskipun menjunjung tinggi totalitas demi bangsa dan negara, mantan Dirbinmas Polda Papua ini tidak melepaskan tugasnya sebagai seorang ayah. Ia selalu menuntun anak-anaknya untuk hidup disiplin dan kerja keras. Meski sibuk dengan tugas wajib profesi, sebagai seorang ayah, almarhum selalu punya waktu untuk anaknya, misalnya mengajak untuk memancing ikan, dll.

“Biar sibuk demi tugas, kami selalu diajak bapak untuk mancing, sambil mengajarkan kalau memancing itu menguji kesabaran,” beber Rio A Wiranata sambil menatap hampa ke beberapa orang yang datang mengucapkan belasungkawa.

Selain dikenal sebagai sosok yang sabar dan pekerja keras, terhadap keenam anaknya, mantan Dirintelkam Polda Kepulauan Bangka Belitung ini juga sangat menekankan disiplin dan kejujuran.

“Kalau di rumah, bapak itu selalu ajarkan kami untuk jujur dan disiplin,” beber putra sulung almarhum tersebut.

Penekanan pada disiplin dan kejujuran oleh putra dari almarhum Yosua dan Usi ini, bukan tidak beralasan. Bagi mantan Wakapolres Ketapang, Kalimantan Barat itu, orang yang tidak disiplin adalah orang yang nantinya akan menyakitkan banyak orang di kemudian hari ketika menjadi pemimpin.

“Kalau kamu tidak disiplin, maka kamu akan menjadi orang yang menyakiti banyak orang. Sedangkan kalau kamu tidak jujur, maka tidak akan berkembang menjadi lebih baik,” tutur pegawai Ombudsman RI tersebut menirukan nasihat sang ayah semasa hidup, sembari termenung di hadapan makam.

Selain kedisiplinan dan kejujuran, mantan Kapolres Timur Tengah Utara NTT ini merupakan tipikal pekerja keras. Datang dari keluarga yang sederhana yang serba berkekurangan, memacu dirinya untuk bekerja terlebih dahulu barulah bisa memperoleh sesuatu.

“Mungkin pengaruh bukan keturunan raja atau terlahir kaya dan serba ada, makanya bapak itu kalau mau mendapatkan sesuatu harus kerja keras dulu,” ujarnya.

Berkat tempaan almarhum, maka tidak heran anak-anak sampai saat ini terbiasa untuk hidup mandiri.

“Terima kasih Bapak. Jangan lupa doakan kami dan juga bangsa ini. Semuanya sudah kami nikmati. Akhirnya kami ucapkan terima kasih untuk Bapak,” tutup Rio langsung menangis memeluk ibunya. (*/ce)

You Might Also Like