Air Terjun Lambongo yang terletak di Jalan Natsir Mooduto Desa Tapadaa, Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. (ALLEX QOMARULLA/JAWA POS)


Gorontalo diberkati paket wisata lengkap. Terletak di pesisir Sulawesi, berbatasan dengan Teluk Tomini yang legendaris, Gorontalo memiliki alam yang memesona. Dari gunung hingga laut. 

ALIRAN Sungai Bone memecah bagian selatan Kota Gorontalo. Lalu, berkelok ke timur. Sejalan dengan aliran Sungai Bone, dibutuhkan waktu paling cepat 30 menit untuk mencapai Taman Wisata Lombongo di arah timur pusat Kota Gorontalo. Di sana, tersembunyi kesegaran nan memesona mata berupa air terjun.

Perbukitan kapur di sisi kanan dan kiri mengintai dari kejauhan dalam perjalanan dari Gorontalo. Jika datang cukup pagi, kabut di atas bukit masih terlihat menggantung. Khusus Minggu, pengunjung juga bisa mampir ke pasar Minggu hanya untuk mencari pernik-pernik murah atau sarapan pagi. Lebih dari 1 kilometer setelah keramaian pasar, pengunjung akan disambut pintu gerbang bertulisan Taman Wisata Lombongo.

Taman Wisata Lombongo dikenal dengan wahana kolam air panas dan kolam air dingin. Namun, harta karun berupa air terjun di kawasan Taman Nasional Nani Wartabone juga jadi buruan. Meski berbeda wilayah, air terjun itu hanya bisa diakses melalui Taman Wisata Lombongo.

Diperlukan persiapan khusus untuk mencapai lokasi air terjun tersebut. Pengunjung harus menyusuri hutan sepanjang 3 kilometer dengan berjalan kaki. Tak lupa, cek perkiraan cuaca atau bertanya kepada warga sekitar, kapan terakhir turun hujan. Sangat tidak disarankan naik bukit jika tanah masih lembek.

Rute menuju air terjun sebenarnya cukup jelas. Tidak ada petunjuk arah, cukup mengikuti jalur yang terlihat sering dilalui. Selain itu, bisa terbantu dengan mendengarkan arah aliran air. "Trekking naik bukit itu paling enak kalau ada sungainya. Kalau tersesat, tinggal dengarkan lagi bunyi derasnya air dan ikuti," ucap Ilham Aribowo, salah seorang pengunjung.

Sudah tersedia empat pos untuk beristirahat sejenak. Selama menyusuri hutan, pengunjung beberapa kali harus menyeberangi aliran air terjun. Karena itulah, sandal gunung jadi alas kaki yang paling tepat untuk dipakai. Air yang masuk ke sepatu akan memperberat langkah. Namun, melepas alas kaki juga bisa terluka karena banyaknya bebatuan kecil di dasar sungai.

Bebatuan besar menyambut pengunjung tak jauh dari pos 4. Di baliknya, mengalir deras air terjun dari tebing setinggi lebih dari 15 meter. Alirannya sangat deras, tetapi terhalang oleh batu-batu besar di setiap sisi hingga membuatnya tampak berkelok-kelok. Begitu memuaskan mata.

Air terjun itu merupakan Air Terjun 1 Lombongo. Air terjun kedua membutuhkan waktu dan ketahanan fisik lebih. Sebab, ia terletak 10 kilometer dari kolam air panas Lombongo. "Jalannya juga semakin naik dan lebih sulit," jelas Safrudin Manasi, pemandu tim Jawa Pos.

Setelah lelah menelusuri hutan, pengunjung bisa bersantai mandi air panas di kolam air panas. Melepas penat dan refleksi sejenak untuk kaki yang pegal setelah berjalan 6 kilometer. Kolam itu buka selama 24 jam.

Ikon Khas Serambi Madinah

INDONESIA tidak hanya punya Serambi Makkah, tapi juga Serambi Madinah. Sebutan untuk Kota Gorontalo. Kota dengan mayoritas penduduk muslim itu kaya dengan wisata religi. Salah satunya Desa Religi Bongo.

Sepanjang perjalanan dari pusat kota, pemandangan memanjakan mata. Pantai selatan Gorontalo di sisi kiri dan perbukitan kapur di sisi kanan. Sebelum sampai di sana, bisa singgah di Pantai Tangga 2000. Juga Vihara Hong San Bio yang tampak menjorok ke laut lantaran berada di tikungan.

Pemandangan khas menyambut pengunjung begitu memasuki Desa Religi Bubohu, nama asli area itu. Rumah-rumah dibangun cukup rapat dan jalanan cukup lengang. Bambu yang disambungkan dengan pipa kecil yang dilengkungkan hingga membentuk kuncup ditancapkan di sisi kanan-kiri jalan. Sekilas mirip kubah masjid, tetapi lebih ramping. Bentuk itu ditemui di mana-mana, pada pagar-pagar rumah warga. Di gerbang masjid, bentuknya lebih bulat dengan lima rangka dan ornamen lonjong-lonjong di antaranya. 

Menuju pusat atraksi harus melewati sebuah jembatan. Kolam air di bawah jembatan dibentuk menyerupai angka 99. Sesuai jumlah asmaul husna. Seluruh pembuatan bangunan memang didasarkan pada makna-makna agama Islam. Misalnya, jumlah benda harus ganjil. "Meniru juga ukuran tasbih. Bisa 9, 13, hingga 99," ucap Hasan H. Rahim, pengelola Desa Religi Bubohu.

Di sisi utara kolam, terdapat bangunan dari kayu. Bangunan itu disebut bantayo walima. Bantayo berarti bangsal, sedangkan walima diambil dari acara adat walima. Di bantayo, pengunjung bisa duduk santai menikmati suasana. Di lantai 1, bantayo walima terbuka sehingga cukup sejuk untuk bersantai. Di samping bantayo, terdapat anak tangga berjumlah ganjil yang mengantarkan pengunjung ke lantai 2. Sebuah jendela besar yang menghadap ke kolam dan atap yang tinggi tak akan membuat pengunjung bosan dan kegerahan.

Beberapa infografis dipampang jelas di berbagai sisi pusat desa religi itu. Silsilah Kerajaan Bubohu, asal usul keturunan bangsa Gorontalo, dan peta-peta pengambilan fosil kayu misalnya.

Belum ke Gorontalo kalau Belum...

Makan Milu Siram

Milu artinya jagung. Milu siram merupakan makanan berkuah berbahan jagung tua. Jagung dimasak hingga empuk dan dicampur dengan parutan kelapa. Bukannya manis, masakan itu justru dominan rasa pedas. Ikan laut jadi lauk pas untuk menemani milu siram.

Makan Ilabulo

Ilabulo dibuat dari sagu yang diisi dengan lauk-lauk. Misalnya, potongan ayam atau potongan ikan laut. Dibungkus daun kelapa, kemudian dibakar. Rasanya lembut dan sedikit pedas.

Minum Kopi Pinogu

Kopi pinogu dikembangkan di Desa Pinogu, sisi timur Kota Gorontalo. Kopi tersebut termasuk kopi robusta. Kafeinnya yang tinggi membuat pinogu terasa lebih pahit. Tapi, bau kopinya wangi dan menciptakan sensasi rileks.

---

Ke Mana Lagi di Gorontalo? 

Benteng Otanaha

Terletak 8,9 kilometer dari pusat kota atau butuh 20-30 menit perjalanan.

Jadi lokasi yang bagus untuk selfie dan bersantai menikmati panorama Gorontalo dari atas. Biaya masuk Rp 5.000 per orang. 

Bantayo Poboide atau bangunan khas Gorontalo 

15,1 kilometer dari pusat kota atau butuh 30-40 menit perjalanan.

Berisi pakaian adat, pelaminan, ruangan rias pengantin, kamar malam pertama, dan alat musik serta senjata khas Gorontalo.

Taman Wisata Hiu Paus 

11 kilometer dari pusat kota (25-35 menit perjalanan).

Waktu terbaik berkunjung ke Taman Wisata Hiu Paus adalah pukul 06.00 hingga 10.00 karena hiu muncul pagi hari.

Biaya yang dibutuhkan untuk naik kapal ke lokasi sekitar Rp 80.000 per kapal yang memuat 3 orang.

Hiu paus paling sering muncul pada Mei hingga Agustus. 

Pantai Kurenai 

12 kilometer dari pusat kota (25-35 menit perjalanan).

Waktu terbaik berkunjung ke Pantai Kurenai adalah saat matahari terbit atau matahari terbenam. Biaya masuk Rp 10.000 (mobil) dan Rp 5.000 (motor). (dya/c6/ady)

You Might Also Like