Ada Yang Salah Kaprah Memahami Program KB

 Senin, Tanggal 26-11-2018, jam 02:21:26
Rangkaian kegiatan terakhir sosialisasi yang digelar BKKBN bersama mitra kerja tahun 2018 di Desa Baturaya I, Sabtu (24/11). BKKBN UNTUK KALTENG POS

MUARA TEWEH – Pemberdayaan keluarga adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan, potensi dan sumber daya manusia mulai dari lingkup terkecil. Diharapkan, masyarakat dalam skala luas merupakan keluarga-keluarga memiliki tingkat kesejahteraan memadai di segala bidang.

Hal itu disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI, Hang Ali Saputra Syah Pahan, saat acara sosialisasi integrasi program pemberdayaan keluarga BKKBN bersama mitra kerja di Desa Baturaya I Kecamatan Gunung Timang Kabupaten Barito Utara, Sabtu (24/11).

“Pemberdayaan keluarga seperti inilah yang menjadi tujuan utama program keluarga berencana (KB),” kata Hang Ali.

Selama ini, imbuh dia, sebagian besar masyarakat masih banyak yang salah kaprah terhadap program KB yang digalakkan pemerintah. Karena rata-rata yang dipahami bahwa program KB hanya sekadar cara untuk mencegah atau membatasi kehamilan dan kelahiran maupun penggunaan alat-alat kontrasepsi.

“Padahal, kontrasepsi itu hanya salah satu cara atau salah satu bagian dari keluarga berencana. Karena esensi KB adalah bagaimana sebuah keluarga memiliki ketahanan dan mampu membuat rencana yang baik, terarah serta terukur terhadap masa depan keluarganya,” jelas dia.

Pada kesempatan yang sama, Kasubdit Bina Kesertaan KB RS dan Klinik Pemerintah, Wahidah Paheng membeberkan, pemberdayaan keluarga merupakan hal strategis dalam pembangunan daerah. Karena semua kehidupan berawal dari rumah (keluarga).

“Oleh sebab itulah, pemerintah menempatkan program pemberdayaan keluarga ini sebagai salah satu sasaran prioritas dalam pembangunan, terutama pembangunan sumber daya manusia,” ujarnya.

Terlebih lagi, imbuh dia, pada 2030 mendatang Indonesia akan memasuki masa yang disebut sebagai bonus demografi. Sebab, pada masa itu, penduduk usia produktif jumlahnya mencapai sekitar 70 persen dari total penduduk.

“Salah satu dampak bonus demografi itu adalah semakin tinggi tingkat persaingan di segala bidang. Jika jumlah penduduk usia produktif sebanyak itu didominasi oleh orang-orang dengan kualitas SDM yang tidak mampu bersaing, maka hampir dipastikan akan bisa menimbulkan permasalahan pelik di masyarakat kita,” jelasnya. (pri/k-5/aza)

Berita Terkait