Ilustrasi diabetes (Istimewa)


Diabetes adalah salah satu penyakit penyerta atau komorbiditas utama dari kasus positif dan kasus meninggal Covid-19. Berdasarkan data yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan per tanggal 4 Agustus 2020, diabetes menempati urutan kedua setelah hipertensi.

Ini berarti penyandang diabetes akan lebih rentan mengalami kondisi parah bahkan menyebabkan kematian jika terinfeksi Covid-19. Ahli Endokrin dr. Roy Panusunan Sibarani, SpPD-KEMD, FES mengatakan, apabila seseorang yang memiliki penyakit diabetes terpapar virus Covid-19, maka mereka memiliki potensi lebih besar untuk mengalami tingkat keparahan yang lebih tinggi.

Apa sebabnya?

“Hal ini dikarenakan fluktuasi level gula darah dan kemungkinan adanya komplikasi diabetes lainnya,” katanya dalam konferensi pers virtual, Kamis (6/8).

Dengan kata lain, penyandang diabetes harus lebih waspada dan disiplin dalam menjaga kadar gula darah senantiasa berada dalam kisaran target untuk mencegah terjadinya komplikasi. Disiplin dalam mencegah komplikasi ini tentunya juga tak hanya saat pandemi Covid-19, tetapi harus dijalankan setiap saat agar penyandang diabetes dapat beraktifitas secara normal.

Cara termudah untuk mencegah komplikasi adalah dengan menjaga kadar gula darah dalam rentang normal. Hal ini dapat dicapai dengan kepatuhan dalam menjalankan pengobatan baik dengan obat oral maupun insulin, dan tetap berkonsultasi dengan dokter.

Namun, pada saat pandemi Covid-19 ini masyarakat cenderung takut untuk berkunjung ke fasilitas kesehatan. Hal ini terlihat dari survey MarkPlus Industry Roundtable edisi ke 20 yang membahas institusi kesehatan selama Covid-19. Berdasarkan hasil survei cepat yang dilakukan, masyarakat semakin takut untuk mengunjungi rumah sakit sejak pandemi. Sebanyak 71,8 persen responden mengaku tidak pernah mengunjungi rumah sakit ataupun klinik sejak adanya Covid-19.

 

“Ketakutan masyarakat untuk berkunjung ke fasilitas kesehatan ini dapat mengakibatkan pasien diabetes mengurangi kepatuhan dalam menjalankan pengobatan dan memeriksa kadar gula darahnya, sehingga apabila kepatuhan ini berkurang dan gula darah naik dari kisaran target, pasien diabetes berisiko tinggi untuk mengalami komplikasi di masa depan walaupun tidak terinfeksi Covid-19,” kata Roy.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dr. Widyastuti, MKM, mengungkapkan bahwa sebenarnya masyarakat tidak perlu takut untuk mengunjungi fasilitas kesehatan di masa pandemi ini asalkan mengikuti protokol kesehatan. Walaupun di masa pandemi Covid-19, pengobatan diabetes tetap harus berjalan seperti biasa.

“Maka, penyandang diabetes tidak perlu takut pergi ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan atau berkonsultasi dengan dokter. Selama mereka memperhatikan protokol keselamatan atau yang kita sebut gerakan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan teratur, maka kesehatan dan keamanan dapat tetap terjaga,” tegas Widyastuti.

Seorang penyandang diabetes, Osy, mengungkapkan bahwa memang pasti ada rasa ragu untuk pergi ke puskesmas atau rumah sakit di masa pandemi ini. Namun dia mengerti sebagai penderita diabetes harus tetap sehat dan mengontrol kadar gula darah tetap dalam kisaran target dengan cara tetap berobat dan berkonsultasi dengan dokter.

“Karena yang kami hadapi adalah apabila terinfeksi Covid-19 dan gula darah tidak terkontrol, akibatnya Covid-19 akan menjadi lebih berat, di sisi lain apabila menghentikan konsultasi dengan dokter dan mengabaikan kontrol gula darah, walaupun kami di rumah saja dan terhindar dari Covid-19, risiko komplikasi yang akan membayangi. Oleh karena itu, saya tetap pergi kontrol ke rumah sakit, tentunya dengan mematuhi protokol keselamatan yang berlaku,” tegasnya.

12

Editor :iha
Reporter : jpc/kpc