MEMANFAATKKAN LAHAN: Nur Jeni memeriksa tanaman kangkung yang ditanam dengan cara akuaponik di halaman depan pagar rumahnya di Mutiara Graha, Sidoarjo, Jumat (10/7). (PUGUH SUJIATMIKO/JAWA POS)


Sudah pernah coba pedasnya Cabai Rawit Setan Kredit? Atau mencicipi renyahnya Kacang Panjang Setan Ladang? Kalau pernah merasai, selamat, berarti Anda merupakan satu di antara sekian konsumen Panen Apa Hari Ini (Pari).

Pari merupakan kolaborasi seniman Jogja Anang Saptoto dengan para petani di Kulonprogo, Jogjakarta. Pari itu tidak hanya usil di nama produknya. Tetapi, juga memberikan layanan ekstra buat pelanggan.

”Setiap pelanggan yang setelah bertransaksi, saya foto secara gratis di sudut rumah yang dianggap favorit. Saya foto mereka beberapa kali dengan berbagai pose beserta belanjaannya,” kata Anang.

Foto itu kemudian dia edit. ”Lalu, saya berikan sebagai ucapan terima kasih,” tambah bapak satu anak itu.

Dalam memotret pelanggan, Anang tak main-main dan tidak sekadar memakai kamera lensa telepon seluler.

Foto diri pembeli plus produk Pari yang dibelinya oleh Anang kemudian dimontase. Misalnya, yang diunggah di laman Pari, seseorang berjalan di tegalan tetapi bagian atas tubuhnya adalah lombok rawit. ”Ada juga yang pesen neko-neko, misalnya bagian itunya diganti pare,” ucap Anang, lantas terbahak.

Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja itu menceritakan, ide Pari tersebut terbentuk sebelum Lebaran tahun ini. Anang saat itu tergabung sebagai relawan di dapur umum buat korban pandemi Covid-19. Anang yang saat itu mencari bahan kebutuhan dapur umum kemudian menghubungi Sofyan, salah seorang petani di kawasan pesisir Kulonprogo.

Anang dan Sofyan sudah lama kenal. Sebab, Anang pernah terlibat dalam pendampingan dan perlawanan beberapa kelompok petani pesisir Kulonprogo yang jadi korban penggusuran pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA).

Dari hasil obrolan dengan Sofyan, seniman yang pernah melakukan residensi di Taiwan itu berkata, Pari berusaha memotong jalur distribusi hasil panen petani. Jika biasanya hasilnya dibeli tengkulak lalu diecer ke pedagang pasar baru sampai di konsumen, jalur yang dibangun Pari lebih ringkas.

Hasil petani dibeli Anang, lalu diunggahnya di kanal medsos yang dibuatnya khusus untuk Pari. Untuk harga yang dipasang, Anang menyesuaikan dengan harga di pasar tradisional.

Nah, saat katalog panen satu Pari diluncurkan sekitar setelah Lebaran, tak ada produk panen yang laku. Anang ingat bagaimana dirinya salah urus dalam menangani sayur tersebut.

Ceritanya, gara-gara ingin produk yang dijualnya terlihat bersih, Anang mencuci semua sayuran, lalu ditaruh keranjang. Sementara itu, promosi di medsos baru berjalan dua hari, sayuran sudah layu, kering, ada pula yang menuju pembusukan.

Patah satu, tumbuh seribu. Mendapat masukan dari Sofyan soal penanganan sayur, Anang pun kini sudah bisa membedakan mana jenis sayuran yang harus dicuci, hanya butuh dilap, juga diangin-anginkan.

Selain itu, nama-nama produknya dibuat menggelitik. Mulai Pare Anti Rasis, Timun Jangan Sering Ngelamun, Bawang Merah Stop Pembalakan Hutan, hingga Terong Saling Tolong.

Baca juga: Cukup Pupuk Dua Sendok, lalu Biarkan Alam Yang Bekerja

”Pari ini niaga elektronik jadi-jadian. Malah, apa yang saya lakukan ini kalau disebut niaga elektronik masih level cupu,” kata Anang.

Berkat inovasi visual produk, distribusi yang diantar langsung kepada konsumen, kini produk Pari laku keras. Untuk panen kelima, Anang malah dua kali pergi ke Temon, Kulonprogo, buat mengambil hasil panen petani di sana. Jika di panen pertama Anang berbelanja sekitar Rp 100 ribu di petani pesisir, kini naik menjadi Rp 400 ribu.

Sofyan ketika dihubungi Jawa Pos mengatakan, meski kolaborasi kelompok petaninya dengan Anang di Pari belum berdampak signifikan, dirinya senang apa yang dilakukan Pari.

”Petani terbantu jalur distribusi, lalu konsep memasarkan panen di niaga elektronik, dan harga yang tak merugikan sangat membantu kami. Menurut kami, Pari ini tidak sekadar cari untung, namun juga memberdayakan masyarakat pesisir,” tutur Sofyan.

Bagaimana dengan para konsumen? Gatari Surya Kusuma, pegiat sosial KUNCI Cultural Studies Center Jogja, memberikan angka sepuluh untuk produk maupun pelayanan yang dilakukan Pari. ”Saya tahu Pari karena Anang gencar melakukan promosi lewat medsos, juga obrolan WhatsApp. Saya mendukung gerakan perdagangan adil sebagai upaya memotong rantai distribusi panjang yang sering merugikan petani,” tulis Gatari dalam pesan WhatsApp kepada Jawa Pos.

1 2

Editor :iha
Reporter : jpc/kpc

You Might Also Like