ILUSTRASI/NET


MUARA TEWEH - Pengadilan Negeri (PN) Muara Teweh mengganjar Meng--warga Desa Pendreh, Kecamatan Teweh, Kabupaten Barito Utara dengan hukuman 11 tahun penjara. Hakim Teguh Indrasto juga menjatuhkan pidana denda Rp500 juta subsider tiga bulan kepada pria 50 tahun itu. Dia divonis bersalah dalam kasus pencabulan anak tiri berusia 10 tahun.

Putusan pidana itu lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Muara Teweh, Indra AH Saragih. JPU meminta hakim menjatuhkan pidana selama  15 tahun, dikurangi selama terdakwa Meng berada dalam tahanan.

"Hakim menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan primer Pasal 81 ayat (3) UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang perlindungan anak," tegas Indra, Jumat (29/5).

Menurut jaksa, terdapat hal-hal yang memberatkan terdakwa Meng. Yakni terdakwa adalah orang tua/ayah tiri dari korban, berbelit-belit dalam memberi keterangan, melakukan perbuatannya secara berulang dan dengan ancaman kekerasan menggunakan parang kepada korban. 

Selebihnya, perbuatan Meng menimbulkan penderitaan yang mendalam dan merusak masa depan korban, serta terdakwa dinilai melanggar norma-norma yang hidup dalam masyarakat. 

Meng melakukan perbuatan bejatnya sebanyak lima kali kepada putri tirinya, sebut saja Mawar---nama samara. Mirisnya korban masih berusia 10 tahun yang berstatus murid sekolah dasar (SD). Semua pencabulan diakui Meng. Dia berbuat tak senonoh di dalam rumah lanting, Jalan Raden Argapati, Desa Pendreh.

Terdakwa yang tidak bersekolah itu memuluskan perbuatan jahatnya, ketika istrinya/ibu kandung korban tidak berada di rumah, karena bekerja menyadap karet. Kelakuan Meng terbongkar, saat istrinya pulang dan memergoki suaminya menggauli anaknya sendiri pada akhir Desember 2019. 

Bukan main kaget dan marahnya ibu Mawar. "Kenapa kamu seperti itu perlakukan anak saya seperti anjing. Kamu sudah melakukan sama saya, kenapa melakukan lagi dengan anak saya," ujar istri korban berinisial TR ini.

Tetapi terdakwa malah marah sambil mengancam TR dengan parang yang ditempel di leher saksi TR dengan mengatakan “Jangan bilang-bilang sama orang". Mawar mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri ke rumah keluarga di Dusun Bayas. Keluarga menemukan Mawar dengan kondisi memprihatikan, lalu melaporkan kejadian itu ke kepolisian.

1 2

Editor :dar
Reporter : cah/ens

You Might Also Like