Ade Putri Verlita Maharani


Ibu berperan mulia. Demi menjalani peran itu, banyak hal harus dilalui. Belum lagi stigma masyarakat atas peran ibu. Padahal, bagi Ade Putri Verlita Maharani, tiap ibu berhak bahagia dan tetap menjadi dirinya.

KONTEMPLASI hidup empat perempuan berujung lahirnya Rahim & Janin pada Desember 2019. Adalah Putri, sapaan Ade Putri, dan tiga sahabatnya yang menggagas gerakan tersebut. Tujuannya membentuk dunia yang ramah ibu.

”Meski belum jadi ibu, saya sadar, ibu pegang masa depan bangsa. Sebab, ibulah yang pertama mendidik dan menanamkan nilai ke anak-anaknya,” urainya.

Banyak pengalaman seputar ibu yang membuat Putri tergerak. Salah satunya ketika menjadi pengajar di SD Kembang Tanjung, Musi Rawas, Sumatera Selatan, selama 2017–2018. Dia menceritakan, para ibu di sana menyerahkan pendidikan penuh kepada pihak sekolah. Praktis, di luar kelas, tidak ada pelajaran. Bahkan, mereka enggan membantu mengerjakan tugas sekolah anak-anaknya.

”Ibu-ibu itu beranggapan, pendidikan mereka tidak tinggi, tidak pantas untuk mengajari anaknya. Padahal, belajar bukan cuma perkara akademis,” tegasnya.

Alumnus Universitas Airlangga Surabaya itu menyatakan, banyak orang tua yang merasa tidak berdaya. Saat itu, dia turun langsung. ”Mereka mungkin tidak berbakat di akademis. Tapi, kemampuan mereka bertanam kan bisa diajarkan,” imbuh Putri.

Setelah menyelesaikan tugas mengajar, dia kembali bersentuhan dengan kaum ibu, meski tidak secara langsung. Sulung dari dua bersaudara itu bekerja di sebuah organisasi filantropis. Salah satu fokusnya pendidikan anak usia dini (PAUD). Putri kembali belajar hal baru.

”Kalau ibu di daerah terpencil minder, ibu di kota besar punya banyak ekspektasi ke anaknya,” ucapnya. Para ibu melakukan segala hal supaya anak-anaknya mampu meraih mimpi.

Periah juara pertama di Youth Sineas Award 2015 (kategori Ide Cerita Film Fiksi Terbaik) dan Festival Taman Film Bandung (kategori Drama Terfavorit) itu mengakui masa terberat ibu ada di awal setelah melahirkan. Saat bayi lahir, seorang ibu ikut lahir. ”Banyak perubahan yang terjadi pada ibu, tapi orang lain mungkin nggak lihat,” ungkapnya.

Perempuan yang lahir di Kepanjen, Malang, itu menyatakan, para ibu baru juga dihadapkan di dunia yang tidak ramah. Berbagai keputusan –mulai melahirkan secara normal atau Caesar, bekerja maupun menjadi ibu rumah tangga, sampai masalah memberikan air susu ibu– selalu disorot.

”Nggak gampang jadi perempuan. Padahal, mereka sudah mengambil keputusan dengan banyak pertimbangan ketika menjadi ibu,” tegasnya. Hal-hal itulah yang ingin dihapus Putri melalui Rahim & Janin. Dia ingin, ibu ada di dunia yang ramah dan mendukung. ”Enggak ada ibu yang sempurna. Tapi, setiap ibu pasti melakukan yang terbaik,” tuturnya.

Pada kegiatan pertama, Putri dan tiga anggota inti Rahim & Janin membuat tayangan pendek. Isinya, dialog perempuan yang telah menjadi ibu. Ada ibu dan anak. Selain itu, pasangan suami istri yang telah lama menikah maupun yang baru beberapa tahun bersama.

Awalnya, video tersebut dimaksudkan untuk ruang saling mengungkapkan cinta, lewat surat yang ditulis sebelumnya. ”Ruang dengar dan cerita yang kami buat ternyata lebih dari itu. Banyak hal yang dipendam ibu ’keluar’ di sana,” katanya. Ada keluhan yang tidak pernah diungkap. Bahkan, di salah satu video, ada salah seorang ibu yang merasa ”hilang”. Setelah melahirkan, sang ibu kehilangan kepercayaan diri. Ada rasa kecewa karena impiannya berkarir terhenti begitu kelahiran anak pertama.

Putri menilai, hal itu tidak perlu terjadi jika ibu ”dirangkul” orang-orang terdekat. ”Ibu tetap perlu aktualisasi diri. Kalau ada yang dirasa mengganjal, ibu boleh kok bercerita,” ucapnya. Dia berharap Rahim & Janin mampu memberi terang para ibu. Sekaligus membangun kesadaran tentang pentingnya kesejahteraan ibu. ”Pengorbanan ibu jangan sampai taken for granted,” tegasnya. (JPC/KPC)

Editor :
Reporter :

You Might Also Like