ILUSTRASI. Pasangan yang menikah harus slaing terbuka dalam urusan financial. (US News Money - US News & World Report)


Pasangan yang telah menikah harus bisa menjadi tim yang hebat saat menghadapi persoalan rumah tangga. Salah satunya terkait urusan finansial yang sering kali dianggap sensitif.

Agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat menyebabkan keretakan, maka kedua belah pihak perlu bersikap jujur dan terbuka. Termasuk untuk urusan finansial.

Namun nyatanya, masih ada orang yang belum bisa bersikap jujur mengenai masalah keuangan pada pasangan mereka. Sehingga tidak heran jika banyak masalah keluarga yang berakhir di meja hijau itu berakar dari ketidakterbukaan pasangan dalam hal keuangan.

Memang, uang adalah topik yang sensitif untuk dijadikan bahan pembicaraan. Tapi, anggapan tersebut perlu disingkirkan apabila seseorang telah menikah. Bagaimanapun juga, kedua belah pihak perlu mengetahui sirkulasi dan kondisi keuangan untuk menjalankan rumah tangga mereka.

Apabila Anda belum mendapatkan gambaran seberapa pentingnya berbicara tentang keuangan pada pasangan, pahami tujuh langkah yang harus dipikirkan terkait perencanaan finansial dalam rumah tangga seperti dikutip dari Cermati.comMinggu (19/1).

1. Setiap Pasangan Selalu Punya Pemikiran Berbeda

Suami dan sitri memiliki pola pikir yang berbeda pada banyak hal. Tidak selalu hal yang dianggap benar atau penting oleh suami juga dianggap demikian oleh istri. Begitu pula sebaliknya. Fakta bahwa suami dan istri memiliki pemikiran berbeda itulah yang menjadi alasan mengapa perbincangan mengenai keuangan pada pasangan menjadi hal yang penting.

Antara suami dan istri tentu memiliki pemikiran mengenai aspek finansial apa saja yang penting dalam berumah tangga. Mendiskusikan hal tersebut dengan pasangan tentu dapat memperkecil risiko terjadinya kesalahpahaman dan munculnya masalah keuangan.

2. Pola Pengelolaan Keuangan yang Tak Selalu Sama

Pengelolaan keuangan bisa menjadi lebih mudah apabila antara suami atau istri berperan sebagai manajer keuangan. Seseorang yang menjadi manajer keuangan bertugas menyalurkan pemasukan ke pos-pos pengeluaran yang telah tercantum pada anggaran dan memberikan laporannya pada pasangan.

Baik suami maupun istri dapat menjadi manajer keuangan. Jika tidak ingin membebankan pengelolaan keuangan secara penuh pada salah satu pihak saja, maka tugas dalam mengelola pemasukan dapat dibagi pada kedua pihak. Misalnya, istri bertugas mengalokasikan pemasukan dan suami yang bertugas untuk menyalurkan uang untuk pengeluaran.

3. Perlu Ada Penggabungan Penghasilan untuk Rumah Tangga

Jika dipikir dengan logika, ketika suami dan istri sama-sama memiliki penghasilan, maka semakin banyak tujuan keuangan yang dapat tercapai apabila penghasilan tersebut digabungkan. Sebab tujuan tersebut telah menjadi keinginan bersama, maka tidak ada salahnya untuk segera meraihnya, bukan?

Diskusikan dengan pasangan mengenai berapa persen dari penghasilan yang perlu digabungkan untuk operasional rumah tangga dan berapa pula yang bisa dijadikan sebagai uang pribadi. Semakin besar porsi dari pendapatan yang disalurkan untuk rumah tangga, maka tujuan finansial jangka panjang seperti tabungan dan investasi pun bisa lebih maksimal.

4. Bagaimana Kondisi Finansial Harus Dipastikan

Membicarakan kondisi finansial pada pasangan tentu menjadi hal yang amat penting, terlebih lagi jika tengah terjadi masalah. Pihak yang berperan sebagai manajer keuangan tentu dapat mengetahui lebih dahulu bagaimana kondisi finansial rumah tangganya.

Dengan demikian, laporan yang disampaikan pada pasangan merupakan gambaran kondisi finansial rumah tangga tersebut. Apabila kondisi keuangan tetap stabil, serta dana untuk menabung atau berinvestasi menjadi bertambah, maka hal tersebut merupakan indikasi keuangan rumah tangga tidak menghadapi kendala. Namun, jika terjadi kekurangan di sana-sini, maka perlu segera melakukan evaluasi dengan pasangan dan mencari solusi untuk problem tersebut.

5. Bagaimana Rencana untuk Meraih Tujuan Finansial?

Tiap pasangan tentu berharap dapat meraih tujuan finansial rumah tangga mereka, baik jangka panjang maupun pendek. Contoh tujuan finansial adalah, melunasi pinjaman, memiliki hunian permanen, adanya dana untuk membiayai pendidikan anak. Agar tujuan tersebut dapat segera tercapai, pastinya perlu untuk berdiskusi tentang strategi yang harus dilakukan. Strategi dalam mencapai tujuan finansial tentunya beragam.

Mulai dari mengubah gaya hidup menjadi lebih hemat, mencari sumber penghasilan tambahan, menabung atau berinvestasi, hingga mengajukan pinjaman pastinya dapat membuat tujuan finansial lebih cepat tercapai.

6. Harus Tahu Apa Saja Pengeluaran di Luar Kebutuhan Rumah Tangga

Meski telah memiliki keluarga yang harus diurus, tidak jarang seseorang masih perlu membantu orang tua, saudara, atau kerabat yang tengah menghadapi masalah. Pada beberapa situasi, masalah tersebut memerlukan bantuan finansial untuk menyelesaikannya.

Jika kondisi keuangan rumah tangga dapat dikatakan aman, maka tidak ada salahnya untuk memberikan pinjaman kepada kerabat. Tentukan berapa nominal yang dapat dipinjamkan dan samakan porsi pinjaman tersebut pada anggota keluarga. Ini harus dilakukan pasangan agar potensi perdebatan tidak muncul.

7. Agar Tidak Ada Kesalahpahaman, Perlu untuk Tidak Ada Kebohongan

Sudah jelas jika berbohong mengenai hal apapun pada pasangan dapat menjadi pemicu permasalahan, tak terkecuali perihal keuangan. Apapun alasannya, pastikan untuk selalu terbuka mengenai kondisi finansial pada pasangan, terutama jika akan melakukan transaksi dalam jumlah besar.(jpc)

 

Editor :
Reporter :