Siswa-siswi SMA Karya kembali aktif melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan meminjam gedung SMP Pancasila, kemarin (29/11). (DENAR/KALTENG POS)


Peserta didik SMP dan SMA Karya berusaha membuang jauh-jauh ingatan akan kebakaran tempo hari. Kini, mereka fokus mengikuti pelajaran. Meski terpaksa harus menumpang ke sekolah lain.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya


“BERDOA itu perlu, bapak minta salah satu dari kalian memimpin doa sebelum kita memulai pelajaran ini,” seru salah satu guru yang mengisi pelajaran, kemarin pagi (29/11).

Suara itu berasal dari kelas nomor urut dua dari ujung Sekolah Menengah Pertama (SMP) Pancasila, Jalan Jalak IV, Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya.

Ruang itu bisa digunakan oleh siswa-siswi SMA Karya, lantaran kegiatan belajar mengajar (KBM) di SMP Pancasila ini saban hari dimulai pukul 12.00 WIB.

Penulis mencoba menyapa salah satu guru berkaos merah yang bertuliskan Sekolah Menengah Atas (SMA) Karya di dada sebelah kirinya. Tidak salah, mereka guru dari sekolah yang terbakar di Jalan Sakan V, Rabu (27/11) dini hari. Dan suara empat ruang kelas itu adalah siswa-siswi SMA Karya.

Terpaksa, 38 siswa-siswi SMA Karya ini harus melaksanakan KBM menumpang di SMP Pancasila. Lantaran, Rabu dini hari, sekolah mereka terbakar, hangus rata dengan tanah.

Bukan tidak senang harus menumpang, tetapi rasa kenyamanan di sekolah sendiri membuat anak-anak dan guru-guru masih terngiang-ngiang oleh sekolahnya yang sudah berdiri puluhan tahun itu. Tidak ada pilihan lain, keinginan mereka terus belajar.

Ikhlas, itulah yang harus mereka lapangkan di dada saat ini. Menyesal pun tidak akan mengembalikan puing-puing hitam bekas bangunan sekolahnya yang terbakar.

“Ya bagaimana lagi mbak, kami terpaksa harus menumpang sementara waktu karena sekolah kami terbakar, tidak ada pilihan lain yang penting anak-anak bisa tetap belajar,” kata Kepala SMA Karya, Hewufahmi kepada Kalteng Pos.

Pihaknya berterima kasih, banyak kepala sekolah negeri di Kota Palangka Raya yang menawarkan diri untuk membantu fasilitas menampung anak-anak didiknya belajar. Tapi, perempuan berkaca mata ini memilih SMP Pancasila yang notabene sekolah dengan bangunan yang cukup sederhana.

Pihaknya memilih SMP Pancasila ini karena beberapa alasan. Pertama, sekolah ini KBM dilaksanakan mulai pukul 12.00 WIB sehingga kedatangan 38 siswa dan 16 guru tidak akan menggangu KBM di SMP Pancasila. Kedua, sekolah ini masih memiliki beberapa ruang kelas kosong dan fasilitas meja serta kursi yang cukup. Ketiga, anak-anak yang menimba ilmu di SMA Karya adalah anak-anak yang sebagian besar menyambi bekerja, sehingga tidak bisa bergabung dengan sekolah negeri lain yang sebagian sudah menerapkan full day school atau sekolah lima hari.

“Ada beberapa pertimbangan memang, salah satunya karena SMP Karya ini masih menerapkan sekolah enam hari, sedangkan sekolah-sekolah negeri yang akan membantu kami sudah menerapkan lima hari.” Katanya kepada Kalteng Pos.

Empat ruang kelas mereka hanya terisi kursi dan meja untuk belajar, sepasang meja kursi guru pengajar dan satu papan tulis saja. Tidak ada hiasan apapun karena fasilitas sekolah mereka sudah hangus, menjadi puing-puing bekas bara api dan abu hitam.

“Fasilitas kami sudah habis semua, baik itu buku, komputer dan beberapa fasilitas lainnya,” ucapnya.

Saat ini, para guru hanya mengandalkan modul pribadi dengan tetap berupaya tidak mengurangi kualitas pendidikan peserta didiknya. Sekolah tetap dilaksanakan seperti biasa, masuk pukul 06.30 WIB dan pulang pukul 13.00 WIB, kecuali Jumat hanya sampai pukul 10.45 WIB saja.

“Sudah dua hari kami di sini (SMP Pancasila, red), kami menggunakan ruangan yang tidak digunakan oleh SMP Pancasila, dan ruang guru kami hanya sepasang meja dan kursi saja. Laptop para guru juga ada empat yang ikut terbakar di sekolah itu,” katanya.

Tak paham, apa yang akan terjadi ke depan. Yang pasti, sebagai kepala di SMA ini ia mencoba mengembalikan semangat para guru dan anak-anak didiknya. Memotivasi untuk tetap tegar dan tidak berkecil hati, tetap solid bahu membahu demi lancarnya proses pendidikan 38 anak didiknya.

“Kami hanya berharap proses kebakaran cepat selesai dan sekolah kami dibangun, kami juga berharap mendapat bantuan baik buku dan fasilitas-fasilitas lainnya,” tegasnya.

Padahal, Hewufahmi dan guru-guru lainnya tidak memiliki firasat apapun sebelum kebakaran. Bahkan, satu hari sebelum kebakaran telah dilaksanakan simulasi ujian menggunakan komputer. Kini, hanya foto yang tertinggal di HP kepala sekolah.

“Kami sudah melaksanakan simulasi ujian menggunakan komputer yang pertama dan kedua, kami juga sudah sampaikan kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Kalteng bagaimana nasib anak-anak yang harus melaksanakan simulasi ujian yang ketiga,” tambahnya.

Sementara itu, Fitriani Salasanti, gadis 16 tahun asal Kabupaten Barito Selatan (Barsel) ini mengaku harus mulai beradaptasi dengan lingkungan dan bangunan yang baru ditempati dua hari itu. Meski sekolah ini lebih bagus dari sekolah sebelumnya, ia merasa lebih nyaman di sekolah sendiri.

“Sekolahnya lebih bagus dari sekolah saya yang terbakar, tapi lebih nyaman di sekolah sendiri karena sekolah itu sudah seperti rumah saya sendiri,” katanya.

Perempuan dengan nama panggilan Santi ini berharap tempat ia menimba ilmu segera pulih, terbangun kembali sehingga ia dan teman-temannya bisa kembali menempati sekolah yang telah banyak tertukir kenangan selama hampir dua tahun ini.

“Saya masih teringat kebersamaan dengan teman-teman dan guru di sekolah itu (SMA Karya,red), tidak menyangka jika sekolah itu harus terbakar,” ujar gadis yang lahir pada 18 November 2003 ini.

Yang penting, lanjutnya, ia dan teman-temannya masih bisa melaksanakan KBM seperti biasa. Yang ia inginkan hanya selembar ijazah, karena tidak mudah membagi waktu sebagai siswa dan bekerja sebagai karyawan laundry.

“Yang saya inginkan hanya tetap bisa sekolah, bisa lulus SMA, itu yang terpenting,” pungkasnya. (*/ram)

Editor :
Reporter :