Oleh: Agus Pramono


SAYA menginjakkan kaki di asrama haji lagi. Sudah dua kali ini semasa pandemi. Yang pertama lalu, saya meliput dan memfoto pasien positif Covid-19 lagi senam. Nah, kali ini saya menjadi peserta baru di barisan senam. 

Senam pagi pertama saya berada di barisan paling belakang. Banyak wajah baru. Dari sekian wajah, hanya ada satu orang yang masih saya kenali melalui fisiknya. Perempuan. Usianya mungkin sekitar kepala empat. Itu senam terakhirnya. Ia diperbolehkan pulang. 

Dia tampak kegirangan setelah mendapat kabar itu. Saking senangnya, ia memeluk tenaga medis ber APD yang sedang memeriksa tekanan darah para pasien. Ibu itu sudah lebih 11 hari tinggal di rumah sakit perluasan ini.

Pukul 10.58 WIB, saya melihat ibu itu pulang. Menarik koper berwarna oranye. Pakaiannya juga tak kalah cerah. Kerudung warna hijau. Daster warna merah. Dalam hati saya, pengin sekali pulang. Kayak ibu itu. Tapi nggak mungkin. Lah wong saya baru satu hari di sini.

Tempat ini begitu nyaman untuk isolasi. Tak seseram yang diomongkan di luar. Selain di kamar, kami para pasien sedikit mempunyai ruang bebas. Bisa di halaman yang luasnya seperempat dari setengah lapangan bola. Ada juga sofa di lobi asrama. Jika bosan di kamar, bisa duduk di sofa. Sambil ngemil. Sambil utak-atik HP. Seperti saat saya menulis ini. 

Di sofa ini, saya memilih leyeh-leyeh. Sambil HP-an. Sambil sesekali menjadi pendengar curhat teman yang masih belum menerima ia divonis positif Covid-19. Dia merasa sehat bugar.

Saat leyeh-leyeh, saya dipertemukan dengan pria paruh baya. Yang baru keluar dari kamarnya. Persis, daun pintunya menghadap lobi. Saya kenal wajahnya. Pernah saya wawancara. Empat tahun lalu. Saat ketemu, saya masih kurus. Kulit saya lebih gelap dari pada sekarang. Beliau berstatus PNS. Agak lupa saat saya sapa. Saya paksa untuk mengingat. Saya kasih clue nama depan saya. Beliau langsung ingat. Alhamdulillah.

“Oh, iya, saya ingat,” celetuknya.

Selepas itu, akhirnya kami saling berbalas pertanyaan dan jawaban. Kenapa bisa di sini? Ada gejala?

Sampai akhirnya membahas kucing. Beliau mengaku sangat kepikiran. Sudah dua hari dua malam tak mendengar suara manjanya. Tak bisa memberi makan. Tak bisa memberi perhatian. Tak bisa mengajaknya bermain. 

“Kayak apa kucingku lah,” ucapnya.

Kucingnya warnanya hitam. Ada kombinasi warna putih. Kelaminnya jantan. Umurnya sudah mulai menua. Dirawat sejak kecil. 

“Kan ada istri pak, aman aja,” ucap saya mencoba membuat agar beliau tak kepikiran.

Beliau tampak dobel cemas. Dobel kangen. Selain kucing, ia juga mengkhawatirkan kondisi anak dan istrinya. Keduanya baru di-swab. Entah hasilnya apa. Beliau sempet-sempetnya memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana kalau dua-duanya positif juga? Kembali lah bahas kucing. Siapa yang memberikan makan? 

“Bawa ke sini aja Pak” usul saya.

“Boleh enggak lah? Nanti tak coba izin perawatnya,” ucapnya.

Di situasi saat ini, dan di kondisi seperti ini, memang mudah kepikiran sama orang-orang tercinta. Beliau, saya yakin nggak hanya kepikiran sama kucing satu-satunya itu. Pasti juga kepikiran dan kangen kumpul lagi sama keluarga. Sama seperti saya. Padahal baru 24 jam meninggalkan rumah. Udah bawaannya pengin pulang aja.(*)

12

Editor :
Reporter :