Eka Setyowati menunjukkan salah satu jenis aglaonema miliknya. (BAGAS/RADAR MADIUN)


Banyak bisnis rumahan yang naik daun di masa pandemi Covid-19 ini. Salah satunya tanaman aglaonema. Banyak pembudi daya dan penjualnya kebanjiran rezeki. Satu setengah tahun merintis usaha ini, Eka Setyowati mulai merasakan lancarnya rezeki sekarang ini.

 

ASEP SYAEFUL BACHRI, Madiun

 

RUMAH di Jalan Kamboja 15, Oro-Oro Ombo, Kartoharjo, itu seperti hutan kecil. Halamannya dipenuhi aglaonema jenis suksom jaipong, pride of Sumatera, anjamani merah, legacy, dan lain sebagainya. Seluruh tanaman berjuluk ratu daun itu ditanam di dalam pot yang ditata rapi berkonsep minimalis.

Hari-hari ini, si pemilik rumah kebanjiran pembeli. Baik aglaonema termurah seharga Rp 50 ribu hingga Rp 1,8 juta diminati. ‘’Alhamdulillah pembelian naik 80 persen. Satu minggu bisa Rp 10 juta lebih. Padahal biasanya hanya sekitar Rp5 juta,’’ terangnya.

Karena banyak yang mencari aglaonema, stok di berbagai pedagang bahkan petani kian menipis. Harganya pun naik tajam. Sebut saja aglaonema termurah yang semula hanya Rp 35 ribu kini menjadi Rp 50 ribu. Bahkan, beberapa jenis tanaman naik seratus persen. Dari semula Rp 400 ribu sekarang menjadi Rp 800 ribu. ‘’Tapi kenaikannya masih wajar. Tak seheboh beberapa tahun lalu, sampai hitungannya per daun. Sekarang jualnya tetap per satu pohon,’’ tutur perempuan 28 tahun itu.

Bagi Eka, merintis usaha bunga aglaonema semula iseng saja. Berawal dari tertular hobi suaminya yang lebih dulu hobi memelihara aglaonema. Iseng mengunggahnya di media sosial, justru mendapat tanggapan bagus. Banyak yang tertarik untuk membeli. ''Karena saya punya jiwa berdagang, akhirnya tanaman hias milik suami saya tawarkan,'' kenangnya.

Banyak orang yang tertarik memelihara karena cantik dan mudah perawatannya. Aglaonema merupakan tanaman hias yang tak berbunga. Keindahan yang bisa dinikmati berasal dari warna-warni daunnya. Cukup disiram sekali dalam tiga hari. Penyiramannya cukup menyemprotkan air pada daun dan media tanamnya. Media tanamnya pun tidak berupa tanah. Melainkan sekam bakar, pasir Malang, dan tambahan cocopeat. Tambahan cocopeat untuk menjaga kelembapan tanaman tanpa harus rutin menyiram. ‘’Aglaonema ini cocok di udara terbuka yang tidak terlalu tersorot sinar matahari,’’ jelasnya.

Eka tidak melayani pembelian secara online. Semua pembelinya langsung datang ke rumahnya. Tak hanya dari Kota Madiun, juga dari Surabaya, Jogjakarta, hingga Jakarta. ‘’Saya menghindari kiriman paketan supaya aglaonema tidak layu dan kering,’’ ungkapnya.

Tanaman hias itu kebanyakan hasil budi daya sendiri. Suaminya mempunyai kebun budi daya di kampung halamannya di Kediri. Saat permintaan melonjak, hasil dari kebun sendiri tak mencukupi. Beruntung Eka mempunyai jaringan beberapa komunitas petani aglaonema. ‘’Petani aglaonema di Indonesia belum banyak. Belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat,’’ terangnya.

12

Editor :dar
Reporter : fin/c1/jpg