Madya Putra Yaumil Ahad


BERBICARA tentang dunia ASN tentu saja selalu menarik untuk dibahas dan didiskusikan. Mengapa tidak? Hingga per Desember 2019, menurut data statistik ASN yang dirilis oleh Badan Kepegawaian Negara, jumlah PNS di Indonesia mencapai angka 4.189.121.

Tentu saja angka tersebut bukan angka yang sedikit. Apalagi di era revolusi industri 4.0, PNS dituntut memiliki kemampuan untuk memenuhi tuntutan serta memberikan respon terhadap beraneka ragam perubahan yang terjadi. Ya tentu saja, tujuan akhirnya adalah menciptakan birokrasi berkelas dunia 2024 sehingga nanti pada tahun 2024 ASN sudah harus memiliki ciri-ciri SMART ASN yaitu berintegritas, nasionalisme, profesionalisme, berwawasan global, menguasai IT dan bahasa asing, hospitality, networking dan entrepreneurship.

Sebetulnya hal ini bukanlah hal yang baru. Presiden Joko Widodo dalam pidatonya pada Visi Indonesia di Sentul International Convention Center pada 14 Juli 2019 telah mengatakan: “Tidak ada lagi pola pikir lama! Tidak ada lagi kerja linier, tidak ada lagi kerja rutinitas, tidak ada lagi kerja monoton, tidak ada lagi kerja di zona nyaman. Penyakit kita ada di situ. Kita harus berubah! Kita harus berubah. Sekali lagi, kita harus berubah. Kita harus membangun nilai-nilai baru dalam bekerja, menuntut kita harus cepat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Maka kita harus terus membangun Indonesia yang adaptif, Indonesia yang produktif, dan Indonesia yang inovatif, Indonesia yang kompetitif.”

Pidato Presiden tersebut, mengisyaratkan bahwa ASN harus beranjak dari zona nyamannya selama ini, saatnya bergerak maju agar Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Untuk itu, salah satu strategi Pemerintah dalam mendukung terwujudnya SMART ASN dan birokrasi berkelas dunia adalah pengembangan kapasitas.

Pengembangan kapasitas sebenarnya dapat dilakukan mandiri oleh ASN, tanpa harus menunggu penugasan dari unit pengelola kepegawaian untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan.

Ya, perlu kita akui bahwa anggaran untuk pengembangan kapasitas bagi pegawai disebuah instansi pemerintah masih belum cukup untuk mengakomodasi seluruh pegawai. Akan tetapi, hal tersebut bukanlah menjadi sebuah alasan ASN tidak dapat mengembangkan kapasitas dirinya.

Seperti halnya disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani, beliau mengatakan “ASN harus mengubah mindset dan perilaku agar bisa beradaptasi dengan revolusi Industri 4.0.”

Lantas bagaimana cara ASN melakukan pengembangan kapasitas di kala pandemi?

Hampir 5 bulan sejak pertama kali kasus covid 19 di umumkan masuk di Indonesia pada bulan maret lalu. Semenjak itu pula, instansi pemerintah utamanya yang berada di Jakarta melalukan 2 mekanisme pola kerja yakni 50% pegawai melakukan work from home dan 50% pegawai melakukan pegawai work from office. Ini merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk menekan persebaran covid 19 di Indonesia.

Dengan adanya pandemi covid 19, ASN dituntut bekerja dengan menggunakan teknologi. Misal, rapat sering dilakukan melalui platform digital seperti Zoom Meeting, Microsoft Team, dan banyak lainnya.

Seperti yang kita tahu, beberapa platform tersebut terdengar asing karena sebelumnya rapat selalu dilakukan dengan bertatap muka secara langsung. Hingga pada akhirnya, kita “dipaksa” agar dapat menggunakan platform tersebut.

Dengan beberapa “paksaan” tersebut, sebenarnya secara tidak langsung seorang ASN melalukan adaptasi-adaptasi terhadap keadaan yang terjadi. Secara tidak langsung pula, ASN memiliki pengetahuan baru tentang penggunaan gadget dalam mendukung kinerja ASN. Sebelumnya gadget hanya untuk berkomunikasi saja, ternyata bisa lho digunakan untuk kerja. Ya, karena SMART ASN 2024 menekankan seorang ASN harus menguasai IT.

Selain itu juga, pelayanan publik pun saat ini bertransformasi menjadi pelayanan digital yang berbasis teknologi. Jadi, bagaimana pelayanan bisa maksimal apabila ASN-nya sendiri gagap terhadap teknologi.

Selain itu, perlu juga seorang ASN memiliki sikap awareness terhadap dirinya karena ia merasa bertanggung jawab atas kompetensi yang dimiliki terutama dalam menunjang pekerjaannya. Contohnya peneliti. Seorang peneliti tetap harus up to date terkait dengan kepakarannya. Misalnya terkait dengan metode penelitian, metode analisis hingga menyajikan hasil penelitian yang menarik.

Banyak cara bagi ASN yang bisa dilakukan untuk pengembangan kapasitas dirinya, misalnya saja mengikuti webinar. Terlebih pada saat pandemi seperti saat ini, banyak instansi pemerintah, NGO, maupun universitas melaksanakan webinar.

Webinar menjadi sebuah trend kekinian di Indonesia sebagai salah satu cara sharing ilmu. Tentu saja kesempatan untuk mengikuti webinar ini menjadi lebih mudah, karena kita tidak perlu datang langsung ke tempat acara. Kita bisa mengikuti pada saat kita dirumah ataupun dikantor asalkan memiliki jaringan internet di gadget yang kita miliki. Tidak seperti dahulu, karena kita membutuhkan biaya yang cukup besar untuk mengikuti seminar apalagi penyelenggaranya berbeda kota.

Cara lain yang dilakukan ASN adalah memaksimalkan waktu dengan membaca buku. Apalagi, dengan sistem work from home ASN memiliki waktu senggang yang bisa dimanfaatkan agar tetap produktif. Bagi soerang Jeni Karay (Papua Social Media Influencer), membaca itu ibarat menambang. Semakin dalam, semakin banyak hal yang berharga didapati. Mengapa hal ini penting ?

Karena menurut survei yang dilakukan oleh organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan PBB (UNESCO) tahun 2019, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara di dunia pada level literasi baca. Hal yang sangat memprihatikan tetapi juga harus bisa menjadi semangat kita untuk lebih rajin membaca.

Pentingnya membaca bagi ASN pun disampaikan oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana. Dalam sebuah kesempatan webinar, Kepala BKN menyampaikan penting ASN melakukan pengembangan diri secara mandiri atau self development seperti yang dicontohkan dia  mengalokasikan waktu 2 jam perhari untuk membaca buku dan mempelejari hal-hal yang baru. Untuk itu, bukan hal yang tidak mungkin kita akan bisa mewujudkan SMART ASN dan birokrasi berkelas dunia pada tahun 2024.***

(Penulis adalah ASN pada Pusat Inovasi Manajemen Pengembangan Kompetensi ASN, Lembaga Administrasi Negara)

123

Editor :nto
Reporter :