Annisa Nur Fadhilah


BADAN Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah kuartal II mengalami kontraksi ekonomi sebesar minus 3,15 persen dibandingkan kuartal II tahun sebelumnya. Kontraksi ini menjadi yang pertama sejak 1998 silam jika dilihat secara tahunan atau year on year. Pada 1998, ekonomi Kalimantan Tengah tercatat minus 6,92 persen.

Menurut Bank Indonesia, kontraksi ekonomi saat ini terjadi sebagai dampak kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengurangi penyebaran virus COVID-19 dengan membatasi aktivitas ekonomi. Akankah Kalteng memasuki masa resesi?

Secara teori, jika PDB/PDRB suatu wilayah bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut, para ekonom dapat menyebutnya pertanda resesi. Resesi dapat menyebabkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi dan keuntungan perusahaan.

Pada kuartal sebelumnya, ekonomi Kalteng masih tumbuh positif sebesar 2,95 persen karena kinerja konsumsi rumah tangga dan investasi masih baik. Pada triwulan II, komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga dan investasi yang selama ini menjadi penyokong ekonomi Kalteng mengalami kontraksi ekonomi masing masing sebesar minus 1,12 persen dan minus 2,41 persen.

Aktivitas ekonomi yang berhubungan dengan ekonomi global seperti Ekspor mengalami kontraksi ekonomi terdalam sebesar minus 13,38 persen. Hal ini berhubungan dengan perlambatan ekonomi yang terjadi di sejumlah negara. Sebab, Kalimantan Tengah masih bergantung pada komoditas perdagangan Batubara dan Crude Palm Oil (CPO) yang saat ini harganya sedang mengalami penurunan.

Pemerintah pusat dan daerah sedang berupaya agar pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV kembali tumbuh positif supaya Indonesia lolos dari jurang resesi. Pemulihan ekonomi kuartal III akan ditopang stimulus yang digelontorkan pemerintah seperti pencairan gaji ke-13 PNS pada triwulan tersebut. Sementara itu, kebijakan PSBB dibeberapa wilayah sudah mulai dilonggarkan. Dengan begitu, pemerintah mendorong supaya konsumsi masyarakat meningkat.

Pemerintah juga mendorong percepatan realisasi pencairan stimulus penanganan pandemi. Anggaran penanganan COVID-19 di Kalimantan Tengah yang mencapai Rp 1,4 triliun untuk belanja penanganan kesehatan, jaringan pengaman sosial dan belanja penanganan dampak ekonomi diharapkan dapat segera terealisasi secara maksimal.

Menurut ekonom senior Indonesia Faisal Basri, pemerintah sebaiknya tetap fokus pada pengendalian pandemi virus corona disamping memulihkan ekonomi. Sebab, jika mengutamakan ekonomi ketimbang kesehatan, dampaknya akan lebih buruk untuk seluruh sektor. Pesan yang sama juga disampaikan Kepala BPS RI saat melakukan rilis pertumbuhan ekonomi, “Salah satu kunci penting menuju pemulihan ekonomi nasional adalah kedisiplinan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan”.

Jadi marilah bersama-sama kita patuhi protokol kesehatan dengan menggunakan masker, rajin mencuci tangan dan melakukan physical distancing agar penyebaran virus COVID-19 segera terkendali dan perekonomian Indonesia dan Kalteng pada khususnya kembali pulih***

(Penulis adalah Statistisi pada Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah)

12

Editor :nto
Reporter :