ILUSTRASI VAKSIN (Reuters)


Perjalanan riset vaksin Covid-19 di tanah air masih tersendat. Sampai saat ini belum ada komitmen pendanaan untuk riset vaksin kerja sama Korea Selatan (Korsel) dengan Kalbe, Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), serta Universitas Indonesia (UI).

Vaksin asal Korsel itu dikembangkan perusahaan bernama Genexine. ”Vaksinnya berbasis DNA,” kata peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Wien Kusharyoto kemarin (28/7).

Rencananya, vaksin tersebut menjalani uji fase kedua dan ketiga di Indonesia.

Uji fase pertama dilakukan di Korsel. Wien menjelaskan, uji klinis atau uji fase kedua maupun ketiga memerlukan biaya. Nah, sampai saat ini belum ada kejelasan komitmen pembiayaan yang akan digunakan. ”Apakah pembiayaan oleh Kalbe penuh atau oleh sumber lain,” ucapnya.

Informasi yang dia terima saat menjalani uji klinis tahap kedua, jumlah sampel yang digunakan seratus orang. Vaksin dari Genexine itu juga akan menjalani uji fase tahap kedua di Korsel dan Turki. Di negaranya sana vaksin tersebut belum tuntas menjalani uji fase pertama.

Menurut Wien, yang sudah dilakukan baru uji fase kesatu untuk kelompok usia 18–59 tahun. Selain itu, masih ada uji fase kesatu yang belum selesai, yakni untuk kelompok usia lansia, bayi, serta anak-anak. Wien mengatakan, di tengah pandemi seperti saat ini, banyak riset vaksin yang dikerjakan secara bertumpuk-tumpuk.

Maksudnya, uji tahap kesatu belum selesai 100 persen, kemudian dikebut uji tahap berikutnya. Begitu juga halnya dari pihak farmasinya, sambil jalan sudah menyiapkan lini produksi. Sehingga saat vaksin itu mendapatkan izin edar, perusahaan sudah siap tancap gas memproduksi vaksin dalam jumlah besar.

Wien mengatakan, vaksin asal Korsel itu berbasis DNA. Berbeda dengan vaksin Sinovac dari Tiongkok yang berbasis inactivated virus atau virus yang dilemahkan. Riset vaksin Covid-19 lebih maju. Vaksin tersebut bakal menjalani uji klinis fase ketiga di Indonesia bersama Bio Farma dan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Rencananya, uji klinis fase ketiga itu melibatkan 1.620 relawan. Selain di Indonesia, uji klinis fase ketiga vaksin Sinovac juga dilakukan di Brasil dengan 9.000 relawan dan di Bangladesh (4.200 relawan).

Lantas kapan vaksin Covid-19 siap digunakan? Wien tidak bisa memastikan. Dia hanya mengatakan, rekor pembuatan vaksin tercepat dipegang vaksin cacar, yakni membutuhkan waktu empat tahun.

Terkait masalah pendanaan tersebut, pihak Kalbe tidak memberikan banyak komentar. Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius menyatakan, anggaran uji klinis fase kedua sudah disusun. ”Dan tidak ada masalah dalam pendanaan,” katanya. Dia menegaskan, saat ini Kalbe justru sedang mengoordinasikan protokol uji klinis. Harapannya, uji klinis fase kedua itu siap dilaksanakan Agustus depan. Pada tahap awal ini disiapkan anggaran sekitar Rp 5 miliar sampai Rp 10 miliar.

Perbanyak Virus Korona, LIPI Pastikan Keamanannya

Riset vaksin tidak hanya melibatkan pengembang luar negeri. Internal LIPI sendiri juga mengembangkan vaksin Covid-19. Untuk pengembangan vaksin itu, LIPI memperbanyak virus korona (SARS CoV-2). Upaya ”beternak” virus yang sudah menginfeksi 100 ribu lebih orang Indonesia itu dilakukan di Laboratorium BSL-3 di kompleks LIPI, Cibinong, Bogor.

Kepala Fasilitas Laboratorium BSL-3 LIPI Ratih Asmana Ningrum mengatakan, proses memperbanyak virus SARS CoV-2 itu disebut kultivasi. Proses tersebut dilaksanakan di dalam fasilitas khusus sehingga tidak sampai bocor ke luar laboratorium. Aspek keamanan para penelitinya juga dijaga sampai titik risiko sekecil-kecilnya.

Ratih menjelaskan, vaksin Covid-19 yang dikembangkan LIPI menggunakan bagian protein. Untuk diketahui, bagian protein dalam ”tubuh” Covid-19 memiliki banyak jenis. Jadi, lebih spesifik bagian protein yang digunakan adalah protein S.

Ketika yang digunakan hanya bagian tubuh, virus yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia dalam bentuk vaksin tadi sudah lemah. Dengan kondisi lemah itu, virus tersebut tidak bisa menginfeksi sampai membuat orang yang diimunisasi menjadi sakit.

Tetapi, dengan kandungan protein itu, sudah cukup untuk memancing tubuh mengeluarkan antibodi. Sehingga bisa menciptakan kekebalan. Ratih menegaskan, jumlah SARS CoV-2 yang mereka kembangkan tidak banyak. Media pertumbuhan yang dipakai hanya 5 hingga 10 mili.

1 2

Editor :iha
Reporter : jpc/kpc

You Might Also Like