Ilustrasi. (foto: net)


JAKARTA, KALTENGPOS.CO – Virus flu babi jenis baru dengan varian genotipe 4 (G4) EA H1N1 berpotensi menular ke manusia. Sebab virus G4 dapat melekat pada reseptor yang mirip dengan manusia pada lapisan saluran pernapasan manusia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat mewaspadai ancaman virus flu babi G4 EA H1N1 yang berpotensi menjadi pandemi.

“Jadi sebenarnya kita tidak perlu takut di sini terhadap virus G4, tapi yang perlu kita lakukan adalah kewaspadaan. Sebab virus ini bisa menjadi potensi pandemi?,” katanya dalam telekonferensi melalui Zoom dari Kemenkes, Jakarta, Kamis (9/7).

Dikatakannya, ada beberapa alasan yang memungkinkan virus tersebut berpotensi menjadi pandemi. Misalnya, virus itu sudah beredar di populasi babi China dengan varian paling umum dari virus flu EA H1N1 adalah strain genotipe 1 (G1). Namun kemudian strain tersebut bermutasi dan muncul genotipe 4 (G4).

Lalu, lanjutnya, berdasarkan hasil penelitian virus G4 dapat melekat pada reseptor yang mirip dengan manusia pada lapisan saluran pernapasan manusia. Kemudian menyerang di bagian atas saluran napas manusia, yaitu di bagian trakea. Virus itu kemudian dapat menuju paru-paru yang dikhawatirkan akan terjadi kesulitan bernapas bila terinfeksi.

“Selain bisa menuju paru-paru manusia, virus G4 dapat juga menginfeksi sel epitel pada saluran napas manusia. Sel-sel yang biasanya melapisi bronkus dan alveoli manusia berhasil diinfeksi dengan virus G4. Itu menurut hasil laporan penelitian di laboratorium,” terangnya.

Ditambahkannya, setelah masuk ke sel-sel manusia, virus baru itu berkembang biak dan menyebar di sana.

Hewan sejenis musang yang terinfeksi G4 dapat menularkan virus tersebut melalui tetesan air liur atau kontak langsung. “Jadi virus G4 ini kita tahu dari babi, yang kemudian babi ini adalah hewan ternak, tetapi kita juga melihat babi ini ada babi yang sifatnya babi liar. Babi liar ini yang mungkin menjadi pembawa atau penular satwa liar lainya, termasuk musang,” kata Nadia lagi.

Dilanjutkan Nadia, musang yang terinfeksi virus G4 dapat menular ke hewan lainnya maupun kemungkinan pada manusia. “Walaupun memang belum ditemukan, tapi artinya penularan ini bisa terjadi karena melalui tetesan air liur yang berupa droplet,” ungkapnya.

Dia juga menjelaskan, bahwa virus G4 tidak dapat diproteksi dengan vaksin flu yang sudah ada. Sebab strainnya berbeda. Namun, dengan sudah ditemukannya vaksin flu H1N1, maka upaya untuk menemukan vaksin virus G4 akan lebih mudah.

Sejauh ini, Nadia mencatat belum ada penularan yang terjadi antara manusia ke manusia. “Yang terjadi adalah penularan G4 ini berasal dari babi yang kemudian menular kepada manusia ataupun peternaknya ataupun orang yang bekerja pada peternakan babi yang ada di situ,” katanya.

Selain itu, dia juga mengatakan virus G4 yang menyerang sistem pernapasan manusia ini belum masuk ke Indonesia. Namun, Kemenkes meminta masyarakat tetap waspada mengingat jumlah peternakan babi di beberapa provinsi cukup banyak.

“Belum terlapor ada virus (di Indonesia) baik di babi juga manusia,” katanya.

Disampaikannya, ada sekitar 7 juta peternakan babi yang tercatat di Kementerian Pertanian. Beberapa peternakan besar tersebar di sekitar enam provinsi. Nusa Tenggara Timur jadi provinsi terbanyak dengan jumlah 2,5 juta ekor babi. Tapi diyakini, jumlah tersebut bisa saja lebih banyak.

“Kita tahu babi dipelihara dan diternakkan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Ini mungkin agak sulit untuk mendata berapa jumlah babi yang diternakkan masyarakat,” katanya.

Nadia juga menyampaikan, masyarakat harus menjaga kebersihan ternak babi sebagai upaya pencegahan virus G4. “Nah, ini yang jadi kewaspadaan kita untuk mencegah adannya kemungkinan penularan atau berkembangnya penularan dari manusia ke manusia,” ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo saat rapat dengan DPR mengatakan pihaknya telah melakukan uji coba vaksin pencegahan African Swine Fever (ASF) atau virus Demam Babi Afrika. “Mengenai flu babi, tidak betul kalau dikatakan riset kita enggak jalan. Vaksin-vaksin ini sudah diuji coba di lapangan,” katanya.

Ditambahkan Kepala Balai Besar Veteriner, Kementerian Pertanian Indi Dharmayanti, riset penemuan vaksin tersebut hingga saat ini masih dilakukan antara Balitbangtan dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan.

“Kami masih mengerjakan vaksin untuk ASF, bekerja sama dengan Ditjen PKH, karena memang vaksin ini sulit untuk ditumbuhkan di sini, tetapi kita sudah ada arah ke sana. Jadi kita tidak melupakan tupoksi kami,” kata Indi.

1 2

Editor : nto
Reporter : gw/fin/kpc

You Might Also Like