Salah satu usaha mikro, kecil, dan menengah yang ada di daerah Kalimantan Tengah. (Foto:hendryprie/prokalteng.co)


JAKARTA– Perintah Presiden Joko Widodo supaya stimulus ekonomi antisipasi dampak Covid-19 segera disalurkan, harus secepatnya dieksekusi. Sebab Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merilis hasil survey bahwa 72,02 persen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat bertahan sampai November 2020.

 

Kali ini LIPI menggelar survei kajian cepat dampak pandemi Covid-19 terhadap kinerja UMKM. Survei itu dilaksanakan dalam rentang 1-20 Mei dan melibatkan 679 valid responden. Para responden ini memiliki mata pencaharian utama sebagai pelaku usaha.

 

Survei itu diantaranya mengumpulkan persepsi pengusaha terkait kerentanan UMKM jika pandemi tidak segera berakhir. Sebanyak 47,13 persen usaha hanya mampu bertahan sampai Agustus 2020. Kemudian 72,02 persen usaha akan tutup setelah November 2020. Lalu ada 85,42 usaha dapat bertahan paling lama dalam rentang waktu satu tahun sejak terjadi pandemi.

 

  ’’Terdapat beberapa preferensi strategi yang dilakukan UMKM,’’ kata Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Agus Eko Nugroho, Selasa (30/6). Upaya itu dilakukan supaya mereka tetap bisa bertahan di tengah pandemi. Diantara upayanya adalah mencari pasar baru. Kemudian juga mencari pemasok bahan baku yang lebih murah, mengurangi tenaga kerja, dan memohon penundaan pembayaran tagihan-tagihan.

 

Agus menjelaskan responden paling banyak adalah pelaku usaha mikro sejumlah 54,98 persen. Lalu pelaku usaha ultra-mikro 33,02 persen, pelaku usaha kecil 8,1 persen, dan pelaku usaha menengah 3,89 persen. Umumnya yang mengikuti survei adalah usaha yang sudah berjalan sampai lima tahun. Kemudian disusul usaha berumur enam sampai sepuluh tahun.

 

Dari hasil survei itu tergambar pandemi Covid-19 berimbas besar pada kelangsaungan UMKM di Indonesia. UMKM mengalami krisis ekonomi dan bisa menjadi ancaman besar bagi perekonomian nasional. Sebab UMKM selama ini menjadi penggerak ekonomi domestic dan penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. ’’UMKM menghadapi goncangan dari sisi penawaran dan permintaan,’’ jelasnya. Kondisi itu berdampak pada penurunan kesejahteraan masyarakat.

 

Agus menjelaskan survei tersebut merekomendasikan sejumlah mitigasi. Baik itu untuk jangka pendek maupun menengah. Mitigasi prioritas jangka pendek adalah menciptakan stimulus pada sisi permintaan. Kemudian mendorong platform online untuk memperluas kemitraan dengan UMKM.

 

Kemudian mitigasi jangka menengah bisa dilakukan diantaranya dengan adaptive supply chain untuk barang strategis. Kemudian melakukan market intelligent untuk potensi pasar baru, perkuat sinergi perbankan serta lembaga keuangan bukan bank untuk pembiayaan UMKM. Eko mengatakan keseimbangan tidak akan bisa kembali secara alami. ’’Intervensi pemerintah yang kuat dan terukur merupakan langkah yang tempat untuk memulihkan ekonomi,’’ jelasnya.

 

1 2

Editor :hen
Reporter : wan/jpg

You Might Also Like