Anggota Komisi VI DPR RI Deddy Yevri Sitorus, mengapresiasi PT Krakatau Steel (KS) yang berhasil membukukan laba sesuai laporan keuangan yang diaudit auditor PWC. (dok JawaPos.com)


Anggota Komisi VI DPR RI Deddy Yevri Sitorus, mengapresiasi PT Krakatau Steel (KS) yang berhasil membukukan laba sesuai laporan keuangan yang diaudit auditor PWC. Diketahui, sebelumnya BUMN yang bergerak di industri baja itu dikabarkan bangkrut.

“Ini sebuah kemajuan yang menggembirakan setelah bertahun-tahun kita mendapat kabar buruk soal Krakatau Steel, bahkan diisukan akan bangkrut,” ujar Deddy dalam keterangan tertulis pada JawaPos.com, Jumat (29/2).

Sebagaimana diketahui, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk berhasil meraih laba bersih sebesar USD 74,1 juta pada kuartal I tahun 2020. Emiten berkode KRAS ini akhirnya mencatat laba dalam 8 tahun terakhir. Perbaikan kinerja perusahaan di kuartal I tahun 2020 terutama disebabkan penurunan beban pokok pendapatan sebesar 39,8 persen dan penurunan biaya administrasi dan umum sebesar 41,5 persen.

“Sudah lama diketahui bahwa selain keputusan investasi bisnis yang salah beberapa tahun lalu, inefisiensi dan bahkan penggarongan adalah penyakit yang paling akut dari PT Krakatau Steel,” kata Deddy.

Karena itu, lanjutnya tidak mengherankan ketika manajemen berhasil menekan biaya opex (operating expenses) induk sebesar 31 persen YoY dan optimalisasi tenaga kerja meningkat sebesar 43 persen.

“Artinya perseroan berhasil melakukan penghematan biaya sebesar USD 130 juta pada kuartal I tahun 2020,” sambungnya.

Menurut Deddy, manajemen Krakatau Steel belum saatnya berpuas diri sebab tantangan internal dan eksternal yang dihadapi masih cukup besar. Oleh karena itu, ia menyarankan manajemen Krakatau Steel dan Kementerian BUMN bekerja sama memanfaatkan momentum ini untuk melakukan restrukturisasi bisnis secara menyeluruh.

“Banyak anak perusahaan yang tidak sesuai core bisnis dan menjadi beban harus dilikuidasi atau dikerjasamakan untuk mengurangi beban dan memaksimalkan energi pada fokus bisnis Krakatau Steel. Perlu ditinjau kembali semua strategi bisnis termasuk kemitraan investasi,” ujarnya.

Deddy berharap agar Kementerian BUMN menerapkan model efisiensi Krakatau Steel ini di berbagai BUMN lain. Masalah semua BUMN itu hampir sama, inefisiensi bisnis yang akut dan fokus serta strategi bisnis yang tidak jelas.

“Saya yakin Pak Erick Tohir sebagai Menteri BUMN memahami dan sudah mulai mengerjakan ini,” kata Deddy.

“Saya berharap beliau memimpin restrukturisasi bisnis besar-besaran di BUMN seperti Pertamina, PLN, Telkom, BUMN Karya dan Himbara secara profesional, market base dan bukan dengan PMN,” sambungnya lagi.

Karena itu, kata Deddy, PMN dapat difokuskan pada BUMN pangan seperti PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), PT Berdikari (Persero), Garam (Persero), PT Perikanan Nusantara (Persero), PT Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Persero), PT Bhanda Ghara Reksa (Persero), PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero), PT Sang Hyang Seri (Persero), dan PT Pertani (Persero).

“Selain cluster pangan, Kementerian BUMN harus memberikan perhatian kepada cluster industri strategis. Ini penting untuk mengurangi impor di bidang-bidang strategis dan berpengaruh terhadap ketahanan nasional,” pungkasnya. 

1 2

Editor :Dimas Ryandi
Reporter : Gunawan Wibisono

You Might Also Like