Rhesa Haryo Wicaksono


Rhesa Haryo Wicaksono baru tahu dirinya positif Covid-19 sepulang dari rumah sakit. Sang ibu, Eny Sofia, dengan masukan dari berbagai pihak, memang sengaja merahasiakannya. Berikut wawancara wartawan Jawa Pos Radar Malang Sandra Desi Caesaria dengan mahasiswa Universitas Brawijaya itu bersama sang bunda via telepon.



Bisa diceritakan gejala awal yang dulu Anda rasakan?

Rhesa: Awalnya, saya merasa panas. Lalu, saya minum parasetamol, tapi tidak turun panasnya hingga dua minggu. Lalu, saya cek ke dokter, ke lab. Tidak ada indikasi tifus dan demam berdarah, malah saya ada radang dan dirujuk untuk rontgen paru-paru. Ternyata ada flek. Saya disuruh opname.

Jadi, selama opname itu langsung dites swab?

Rhesa: Ya, tapi itu ketika saya di RSSA (Rumah Sakit Syaiful Anwar, Kota Malang). Saya opname dahulu di RS Panti Nirmala (Kota Malang) empat hari. Lalu, pada 12 Maret dirujuk ke RSSA. Awalnya masuk ICU (intensive care unit/ruang gawat darurat) dan kemudian ke ruang isolasi selama 11 hari. Saya diminta tes swab, darah, dan urine.

Anda tahu positif corona saat isolasi?

Rhesa: Oh, tidak. Saya selama isolasi hanya tahu saya ini infeksi paru-paru. Saya tidak tahu selama ini dirawat dokter dan perawat dengan alat pelindung diri (APD) kayak astronot itu karena saya positif korona. Para dokter hanya berkomunikasi dengan keluarga. Saya baru diberi tahu ibu sehari setelah pulang dari RSSA.

Ketika kali pertama mendengar putra Ibu positif, apa yang Ibu lakukan?

Eny: Dinas Kesehatan (Kota Malang) telepon saya terus. Saya kan takut positif ya, karena saya ngelap keringat dia, menyuapi dia juga sejak di RS Panti Nirmala. Tapi, ketika saya tahu hal ini secara mandiri, saya dan kedua anak saya lainnya langsung rontgen mandiri (Rhesa anak pertama dari tiga bersaudara, Red). Bersih hasilnya. Orang dinkes juga bilang bahwa orang rumah akan di-swab. Enam orang, termasuk pembantu dan keluarga.

Saya sendiri dan tantenya yang lebih sering kontak dengan Rhesa. Di RSSA, saya ikut swab. Bersama dengan dokter-dokter ikut antre swab. Selama swab itu, saya ditemani petugas dinkes. Dahulu saya khawatir. Karena perasaan saya, di badan ini seperti ada indikasi corona. Ah, bukan. Ternyata stres ini yang bikin seolah-olah saya juga terkena. Kita itu bener-bener harus positive thinking. Tetapi tidak boleh mengabaikan kondisi tubuh juga.

 

Selain tindakan medis, apa saja yang diberikan tim medis di ruang isolasi?

Rhesa: Ya, kalau tindakan medisnya, sama seperti pasien yang opname biasa. Saya dipasangi infus, diambil sampel darah, diajak ngobrol. Banyak sekali dokter dan perawat yang dekat dengan saya. Ya, tanya-tanya aktivitas sebelum masuk RSSA.

 

Lumayan membunuh kebosanan, ya?

Rhesa: Iya. Saya juga masih bisa membawa HP (handphone). Nge-game, chat dengan teman. Saya juga dijenguk mama dan keluarga, meski jaraknya cukup jauh dan hanya dari kaca. Kadang kalau kangen, ya ada video call. Di dalam ruangan ada CCTV. Jadi, keluarga memonitor dari luar.

 

Kalau bawa HP, seharusnya tahu kan kalau pihak RSSA dan tim UB (Universitas Brawijaya) sempat mengadakan konferensi pers terkait dengan kondisi Anda?

Rhesa: Tidak. Saya benar-benar tidak tahu. Teman-teman juga tidak ada yang menghubungi terkait hal ini.

 

Apa memang ada komitmen antara rumah sakit dan keluarga untuk tidak menyampaikan status Rhesa yang positif?

 

Eny: Saya malah tahunya dari medsos. Saya belum diberi tahu dahulu oleh pihak rumah sakit. Saya memang pasrah, nerima. Saya datangi RSSA, apakah benar itu anak saya? Ternyata benar. Saya pasrahkan diri pada Gusti Allah. Mau positif atau negatif, anak saya harus sembuh. Saya terus mendorong jiwa saya, keluarga, yakin Rhesa juga bisa melalui masa-masa ini.

 

Dari pengalaman Anda, apa perbedaan treatment pasien positif Covid-19 dengan pasien lain?

 

Rhesa: Di ruang isolasi tidak ada yang membedakan saya ini pasien khusus dibanding pasien lain. Saya malah bisa bebas konsultasi makanan dengan ahli gizi.

 

Maksudnya, pasien Covid-19 bebas mengonsumsi apa saja?

 

Rhesa: Selama pengalaman saya, tidak ada batasan jenis makanan tertentu. Awalnya nasi tim, tapi saya minta agak kasar. Saya juga sering meminta dibawakan kue dan snack juga. Tidak masalah kok.

 

Hingga dinyatakan sembuh, juga tidak ada larangan?

Rhesa: Tidak ada. Cuma perlu jaga kebersihan dan sterilisasi di rumah. Sempat dilarang keluar rumah. Itu pun keluar hanya naik ke lantai 2, berjemur saja. Sama dibanyakin makan dan minum obat.

 

Apa saja pesan dokter setelah Rhesa selesai menjalani isolasi?

Eny: Dia memang disuruh pakai masker oleh petugas medis. Kamar mandi sendiri. Semua barang harus dipakai Rhesa sendiri selama di rumah. Saya tuangkan kue ke stoples, stoplesnya harus dipegang Rhesa sendiri. Saya bilang, ’Nak, kamu jangan tersinggung, kalau seperti ini. Apa-apa disendirikan. Ini untuk kesehatan kamu.’ Dia legawa aja. Nggak apa-apa katanya.

 

Apa saja yang dilakukan keluarga untuk turut mendorong semangat Rhesa agar sembuh?

Eny: Saya tak ada henti-hentinya meminta ke berbagai pihak agar mendoakan anak saya. Corona ini bukan aib. Saya juga ngobrol dengan dokter yang merawat Rhesa. Kata dia, ini seperti tifus atau DBD (demam berdarah dengue). Jika tidak ada penyakit lain yang menyertai, tingkat kesembuhannya juga pesat. Itu juga harus didukung kemauan pasien untuk terus berusaha sembuh.

Alhamdulillah, Rhesa ini makannya banyak. Suka makan dia, hahaha. Paling penting, ketika di rumah sakit, jangan emosian. Tabahkan hati, tawakal. Namanya rumah sakit, ada banyak perawat yang berbeda perlakuan. Wajar. Apalagi saat ini mereka mempertaruhkan nyawa juga. Ikuti saja prosedurnya.

 

Dari yang Anda alami, apa yang ingin Anda sampaikan kepada masyarakat?

Rhesa: Bagi OPD (orang dalam pemantauan), PDP (pasien dalam pengawasan), mungkin juga untuk pasien dan keluarga, jangan panik dahulu jika dikabari kalau terkena corona. Karena ini juga bisa dilawan jika bisa mengontrol mood, tidak berpikir buruk selama sakit, dan mau berusaha menaati aturan petugas medis. Serta, banyak makan dan berdoa.

Saya merasa, doa adalah hal yang paling kuat di antara treatment lainnya. Teman yang tahu saya kena corona, pada akhirnya juga tidak memandang saya yang gimana-gimana.

1 2

Editor :dar
Reporter : */c5/ce/ttg

You Might Also Like