Ilustrasi. (foto: net)


JAKARTA – Di tengah ketidakpastian global akibat wabah virus Corona (Covid-19), harga minyak pada Jumat (20/3) kembali turun tajam. Hal itu disebabkan, volatilitas yang tinggi bertahan di pasar.

Mengutip Xinhua, Sabtu (21/3/2020), West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April turun 2,69 dolar AS menjadi 22,53 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei turun 1,49 dolar AS menjadi 26,98 dolar AS per barel di London ICE Futures Bertukar.

Minyak mentah berjangka WTI menetap 29 persen lebih rendah untuk pekan ini, yang merupakan persentase penurunan mingguan terbesar sejak periode yang berakhir 18 Januari 1991, menurut Dow Jones Market Data. Minyak mentah Brent mengalami kerugian mingguan sebesar 20,3 persen.

Permintaan minyak global kemungkinan akan semakin menurun karena ketidakpastian global. Hal juga ditambah pertengkaran antara produsen minyak utama.

Awal bulan ini, kegagalan untuk mencapai kesepakatan tentang pengurangan produksi minyak antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dipimpin oleh Rusia, telah memicu kekhawatiran kemungkinan perang harga.

Terlebih lagi, Arab Saudi, anggota utama OPEC, dan Rusia telah mengumumkan peningkatan signifikan dalam produksi minyak.

Menanggapi turunnya harga minyak mentah dunia saat ini, pemerintah belum memiliki rencana dalam waktu dekat untuk menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menilai, saat ini pergerakan harga minyak sangat dinamis. Ia khawatir, ketika pemerintah mengambil keputusan secara gegabah, Arab dan Rusia melakukan manuver yang membuat harga minyak naik kembali.

“Soal apakah ada penurunan harga BBM terlalu awal kita untuk memprediksi, karena kalau nanti saudi arabia dengan rusia damai naik lagi ke atas terlalu cepat nanti kita antisipasi,” katanya.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, pemerintah masih terus mengevaluasi serta melakukan monitor terhadap efek dari perkembangan harga minyak. Dengan begitu belum ada keputusan untuk menurunkan harga BBM.

“Untuk harga BBM pemerintah masih akan evaluasi efek daripada perkembangan harga minyak selanjutnya. Kita akan terus monitor harga,” katanya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmi Radhi menilai, anjloknya harga minyak dunia saat ini bisa disikapi pemerintah dengan mendorong Pertamina untuk menurunkan harga BBM. Tak hanya BBM beroktan tinggi saja, penurunan harga minyak dunia ini bisa juga mendorong penurunan harga BBM bersubsidi.

“Dengan penurunan harga minyak dunia hingga mencapai rata rata 40 dolar AS per barel, Pertamina harus segera menurunkan semua harga BBM, baik harga BBM non-subsidi, maupun harga BBM subsidi,” katanya.

Fahmi menambahkan, kebijakan penurunan harga BBM mestinya juga menjadi perhatian Pertamina. Menurutnya, jangan sampai Pertamina mengubah harga jika ada kenaikan harga saja. Kondisi ini perlu disikapi oleh Pertamina.

“Pertamina jangan hanya menaikkan harga BBM pada saat harga minyak dunia naik, tapi juga harus menurunkan harga BBM pada saat harga minyak dunia turun,” pungkasnya.

1 2

Editor : jony
Reporter : der/fin/kpc

You Might Also Like