Bupati Pulang Pisau Edy Pratowo memberikan plakat kepada dr Afandi selaku ketua tim penilai eleminasi malaria dari Kemenkes RI. Kedatangan Afandi diterima bupati didampingi Kepala Dinkes Pulang Pisau dr Muliyanto Budihardjo di rumah jabatan bupati, Senin (17/3)


PULANG PISAU - Tim penilai eleminasi malaria dari Kementerian Kesehatan RI turun langsung ke Kabupaten Pulang Pisau. Kedatangan tim yang dipimpin dr Afandi itu untuk mengecek dan melakukan penilaian secara langsung terhadap penanganan malaria di Pulang Pisau.

Kedatangan tim dari Kemenkes tersebut disambut Bupati Pulang Pisau H Edy Pratowo di rumah jabatan, Senin (17/3). “Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau sangat komitmen untuk memerangi penyakit malaria. Kami inginkan Pulang Pisau bebas dari malaria,” kata Edy yang saat itu didampingi Kepala Dinas Kesehatan Pulang Pisau, dr Muliyanto Budihardjo.

Hal Senada disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Pulang Pisau, dr Pande Putu Gina. “Kami terus berupaya melakukan eleminasi malaria. Kalau kita bisa eleminasi malaria, target kita untuk mendapatkan sertifikasi eleminasi malaria akan terwujud,” kata Pande.

Dia mengaku, kasus malaria di Pulang Pisau selama ini terjadi bukan dari Pulang Pisau. Tapi dari luar daerah seperti Gunung Mas, Kapuas dan Kaltim. “Pada 2019 ada 29 kasus, semua berasal dari luar daerah. Karena penderita terserang saat bekerja di daerah tersebut. Yang jelas timbulnya penyakit itu bukan dari Pulang Pisau,” ungkapnya.

Pande menjelaskan, untuk menekan pasien malaria di Pulang Pisau, pihaknya melakukan upaya deteksi dini. “Jadi kalau masyarakat yang pulang kerja dari tambang diimbau harus periksa darah. Karena tidak semua malaria tunjukan gejala. Kalau ada gejala, langsung diberikan pengobatan,” tegasnya.

Pande ,mengharapkan dalam penilaian eleminasi malaria tahun ini, Pulang Pisau bisa mendapatkan sertifikasi. “Karena secara global pada 2030, Indonesia harus bebas malaria. Pulang Pisau harus lebih dahulu. Kalau untuk Kalimantan, targetnya 2026,” katanya.

Dijelaskannya, ada beberapa parameter yang dinilai. Di antaranya, kasus, penanganan kasus, fasilitas hingga wawancara kepada pasien. “Nanti pasien akan didatangi untuk diwawancarai. Hal itu dilakukan untuk mengetahui asal-usul dimana pasien terkena malaria. Kalau untuk peralatan dan fasilitas, kami sudah lengkap,” tandasnya. 

1 2

Editor : jony
Reporter : art/ens

You Might Also Like