Ilustrasi. (foto: net)


KERUSUHAN berlatar belakang ras dan agama pecah di New Delhi, India usai kelompok muslim India memprotes hukum kewarganeragaan yang dianggap diskriminatif, terutama bagi muslim monoritas.

Sedikitnya 20 orang tewas dan 189 mengalami luka berat dalam unjuk rasa berdarah di New Delhi, India, menentang penerapan UU anti-muslim atau UU Amandemen Kewarganegaraan (CAA).

Sementara, menurut pejabat kesehatan setempat, korban meninggal tercatat sudah mencapai 25 orang.

Unjuk rasa berlangsung sejak akhir pekan lalu, namun pada Senin (24/2) atau sehari menjelang kedatangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kondisinya semakin rusuh.

Lebih dari 150 orang lainnya luka dalam bentrokan tersebut, termasuk aparat keamanan. Dari jumlah korban yang berjatuhan, ini merupakan demonstrasi paling berdarah di new Delhi sejak gelombang baru protes menentang UU tersebut bermula pada Desember 2019.

Korban mulai berjatuhan pada Senin dan terus berlanjut pada Selasa, hanya beberapa kilometer dari lokasi pertemuan Trump dengan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Dilaporkan, massa dari kelompok Hindu juga membakar sebuah masjid dan rumah serta toko-toko milik penduduk muslim.

Massa diayakini merupakan kelompok RSS, sebuah organisasi Hindu nasionalis sayap kanan.

Muslim mengatakan Citendens Amendment Act (CAA) adalah bagian dari agenda supremasi Hindu Perdana Menteri Narendra Modi dan bertentangan dengan etos sekuler negara itu.

Media India The Wire melaporkan, Selasa sore (25/2), segerombolan orang berparade di sekitar masjid di Ashok Nagar yang terbakar.

Terdengar teriakan-teriakan seperti ‘Jai Shri Ram’ yang berarti kemenangan untuk Dewa Rama dan ‘Hindoun Hindustan’ yang artinya tanah untuk para Hindu.

Ibu Kota India menjadi pusat demonstrasi menentang UU memojokkan umat Islam yang isinya memberikan karpet merah kepada warga nonmuslim dari tiga negara, yakni Pakistan, Afghanistan, dan Bangladesh, untuk mendapatkan status kewarganegaraan India.

Asap hitam besar mengepul di beberapa lokasi, termasuk pasar, akibat pembakaran ban oleh demonstran. Jalan-jalan juga dipenuhi sampah serta benda keras yang digunakan untuk saling serang.

Dari sejumlah video yang beredar di media sosial, tampak kondisi kerusuhan yang sangat mencekam.

Di salah satu video bahkan memperlihatkan seseorang yang sudah tak berdaya diseret di jalanan.

Video itu direkam oleh Rana Ayyub, seorang jurnalis Washington Post.

Dalam video lain menunjukkan sejumlah orang terluka tergeletak di pinggir jalan.

Akan tetapi, mereka masih mendapatkan perlakukan kekerasan dari sejumlah orang yang berseragam polisi.

Di video lain, tampak para ekstrimis Hindu merusak sebuah kubah masjid.

Wakil Menteri Dalam Negeri India G Kishan Reddy mengatakan, kekerasan tersebut merupakan konspirasi untuk mencemarkan nama baik India saat kunjungan Trump.

Sementara itu beberapa demonstran justru menuduh Partai Bharatiya Janata (BJP) dan para pendukungnya sengaja menyerang umat Islam yang berdemonstrasi hingga terjadi kerusuhan.

Pemberlakuan CAA yang dikombinasikan dengan Pendaftaran Kependudukan Nasional (NRC) memicu kekhawatiran bahwa lebih dari 200 juta muslim India akan semakin terpinggirkan.

Di Negara Bagian Assam, otoritas setempat mengkaji kembali status kependudukan sekitar 2 juta warganya, sebagian besar muslim. Jika tak bisa menunjukkan bukti berasal dari suku asli, maka status kewarganegaraan India mereka akan dicabut.

Sementara itu, Perdana Menteri India Narendra Modi meminta kepada warga agar tenang, setelah beberapa hari kerusuhan melanda News Delhi.

“Saya memohon kepada saudara dan saudari saya di Delhi untuk menjaga perdamaian dan persaudaraan setiap saat,” kata Modi, seperti dilaporkan AFP, Rabu (26/2/2020). (der/afp/fin/pojoksatu/kpc)

1 2

Editor :
Reporter :

You Might Also Like