Body shaming foto pixabay


Terkadang, sebuah candaan sederhana yang dilontarkan seseorang bisa berdampak negatif, lho. Apa Anda kerap memberi komentar tentang fisik seseorang, atau bahkan menerimanya dari orang lain?

Mengomentari masalah fisik dan penampilan seseorang biasa dikenal dengan sebutan body shaming.

Hal ini memang selalu ramai diperbincangkan sejak beberapa tahun terakhir. Baik di media sosial, melalui chat, atau secara langsung, banyak orang-orang di sekitar kita yang melakukan body shaming.

Meski seringkali maksudnya hanya sebatas bercanda saja, tanpa disadari hal ini bisa membuat seseorang menjadi stres.

Setiap manusia diciptakan dengan bentuk tubuh yang berbeda-beda, serta memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Sayangnya, di era di mana media sosial sangat berpengaruh justru membuat banyak orang menjadi sulit untuk mencintai dan menghargai dirinya sendiri, juga orang lain.

Adanya foto, video, artikel, dan publikasi lainnya secara tidak langsung memberi sebuah pesan atau standar tentang bagaimana seharusnya seseorang terlihat.

Hal seperti inilah yang tanpa disadari telah membuat kita melihat ketidaksempurnaan pada diri sendiri dan orang lain, sehingga timbul body shaming.

Body shaming dikenal sebagai suatu bentuk tindakan yang mengekspresikan penghinaan atau intimidasi tentang bentuk atau ukuran tubuh seseorang. Hal ini bisa dilakukan oleh diri sendiri, orang lain, atau bahkan orang terdekat.

Dampak Body Shaming Secara Psikologis

Mengomentari secara negatif tentang ukuran atau bentuk tubuh seseorang dapat sangat berpengaruh dan berpotensi menyebabkan rasa harga diri yang rendah, kemarahan, stres, ingin melukai diri sendiri, dan bahkan gangguan kesehatan mental, khususnya gangguan dismorfik tubuh.

Dampak body shaming sangatlah tidak sehat bagi kesehatan mental. Hal ini dapat memicu penyakit-penyakit yang tidak diinginkan, bahkan kematian.

Bagi wanita dengan tingkat rasa malu yang tinggi terhadap tubuhnya dilaporkan memiliki tingkat infeksi yang tinggi, banyak masalah pencernaan, sakit kepala, dan kesehatan yang lebih buruk.

Selain itu, fungsi tubuhnya dapat bermasalah, seperti gangguan menstruasi, berkeringat, dan gangguan makan yang sering disembunyikan. Bahkan, menurut data dari ANAD (Association of Anorexia Nervosa And Associated Disorders), setidaknya satu orang meninggal setiap 62 menit akibat body shaming!

Beberapa penelitian menunjukkan, ketidakpuasan yang tinggi terhadap tubuh disebabkan karena tekanan psikologis yang akhirnya meningkatkan risiko perilaku makan tidak sehat, sehingga memiliki kualitas hidup yang buruk.

Bagi para korban body shaming, awalnya mungkin masih menganggap hal itu biasa. Namun, dengan semakin banyak dan seringnya mereka menerima perlakuan tersebut, akhirnya dapat berujung kecewa dan sakit hati. Korban akan merasa buruk terhadap dirinya sendiri dan menjadi sensitif.

Harus diketahui, tingkat dan cara mengendalikan stres tiap orang berbeda-beda. Bagi mereka yang bisa menghadapinya dengan sikap positif, cenderung akan merasa acuh tak acuh pada body shaming yang dilakukan terhadapnya.

Namun, tidak sedikit juga yang sampai mengalami masalah serius.

Dalam survei online yang dilakukan oleh Mental Health Foundation, 31% remaja merasa malu terhadap tubuhnya, 35% orang dewasa pernah merasa depresi terhadap tubuhnya, dan 13% orang dewasa merasa ingin bunuh diri karena kekhawatiran tentang citra tubuhnya sendiri. Menyedihkan bukan?

Dengan mengetahui banyaknya orang yang mengalami gangguan jiwa akibat dari dampak psikologis body shaming, kita tidak boleh menganggap remeh hal ini! Lebih berhati-hatilah dalam mengeluarkan suatu perkataan atau candaan, baik secara langsung atau lewat media sosial.

Karena, kita tidak pernah benar-benar tahu bahwa ternyata orang tersebut menganggap serius sebuah perkataan hingga membuatnya stres.

Dampak psikologis body shaming bisa dihindari dengan cara lebih menghargai dan mencintai diri sendiri, serta tidak membandingkan diri dengan orang lain.

Mulai sekarang, hentikan body shaming dan berusahalah untuk lebih peka terhadap omongan yang diucapkan.(FR/RPA/klikdokter)

Editor :
Reporter :

You Might Also Like