Korban pengeroyokan Geng PSHT Hervan saat menunjukan surat pernyataan yang diminta oleh para pelaku.(FOTO : IST)


PALANGKA RAYA - Korban pemukulan yang dilakukan oleh gerombolan PSHT, Hervan masih trauma atas kejadian pengeroyokan tersebu. Pasalnya, aksi pengeroyokan tersebut dilakukan dua kali dan diduga sudah direncanakan oleh para pelaku yang merupakan geng perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

"Mata masih sakit, karena lebam. Kemudian kepala bagian belakang juga masih sakit. Dengan kejadian ini, saya masih trauma karena tidak menyangka dikeroyok oleh para pelaku," kata Korban Hervan saat dikonfirmasi melalui telepon.

Hervan menjelaskan, sebelum pemukulan Anggota PSHT menghubungi dan mengajak korban untuk kopdar bersama PSHT pada malam Minggu. Awalnya korban menolak, tetapi setelah dibujuk dan dijamin keamanan korban mau ikut.

"Awalnya saya diajak Agus anggota PSHT untuk kopdar bersama mereka. Beberapa kali saya tolak, karena mau kerja. Tetapi Agus menjanjikan keamanan dan tidak terjadi pemukulan, sehingga saya ikut. Namun, bukan ke tempat Kopdar saya di ajak, saya di bawa ke jalan H Ikap dan dikeroyok oleh Agus dan teman-teman," kata Hervan.

Penganiayaan itu dilakukan para pelaku yang kini diamankan Pokres Kotim, lantaran korban mengaku sebagai Anggota PSHT. Namun, tidak bisa menunjukan kartu tanda anggota (KTA) dan sabuk.

Pada saat pengeroyokan pada malam Minggu tersebut, korban dipukul bertubi-tubi oleh Agus dan teman-temannya 8 orang. Selain itu, aksi pengeroyokan oleh Geng PSHT itu juga di video, sehingga korban ketakutan dan malu.

Pengeroyokan tidak hanya selesai pada Malam Minggu tersebut. Keesokan harinya korban dijemput oleh Agus ke Sekretariat PSHT dan diintimidasi untuk membuat surat pernyataan bersedia mengikuti aturan kejamnya geng tersebut.

"Surat pernyataan itu langsung dibuat di Sekretariat PSHT Ketapang. Dan kepala Komandan sekretariat mereka Harianto. Disitu saya membuat pernyataan tertulis didesak oleh para pelaku," ucapnya.

Setelah pengeroyokan malam Minggu dan adanya surat pernyataan itu, korban dijanjikan aman mengikuti latihan PSHT. Namun, pada Malam Selasa korban kembali dipukuli oleh para pelaku PSHT.

"Malam Selasa saya katakan tidak bisa hadir, karena kerja. Tetapi mereka meminta datang ikut latihan, saya terlambat datang ke lokasi. Kemudian, saya diseret dan dipukuli lagi oleh para pelaku. Karena saya dianggap lari dari masalah," pungkasnya.

Para pelaku, yakni Agus dan rekan-rekannya sudah diamankan oleh aparat kepolisin Kotawaringin Timur. Kasus ini membuat geger masyarakat Kotim, hingga Dewan Adat Dayak (DAD) Kotim juga ikut turun tangan. Dan rencananya pagi ini akan digelar sidang adat di Kantor DAD Kotim. (arj/dar)

1 2

Editor :
Reporter :

You Might Also Like


Lowongan kerja Kalimantan Tengah, Jooble
jooble