Ketua Cabang PSHT Kotim Susanto menyampaikan permohonan maaf saat pertemuan dengan DAD Kotim, tokoh masyarakat Kotim, wakil bupati, aparat kepolisian, dan warga Lubuk Ranggan. (FOTO : IST)


PALANGKA RAYA - Kasus pengeroyokan oleh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) berbuntut panjang. Pasalnya, korban yang merupakan warga Lubuk Ranggan melaporkan kasus tersebut ke Lembaga Adat, yakni Dewan Adat Dayak (DAD) Kotim.

Bahkan, kasus pengeroyokan yang beredar luas di Media Sosial tersebut menarik perhatian publik. Selain kejam dan keji, kasus pengeroyokan serupa juga pernah terjadi di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Atas insiden tersebut, Ketua Cabang PSHT Kotim hanya menyampaikan permohonan maaf. Sementara korban masih mengalami trauma atas kasus pengeroyokan oleh 8 orang pesilat dari PSHT tersebut.

"Saya selaku Ketua Cabang PSHT Kotim menyatakan permohonan maaf, terutama kepada korban dan keluarganya. Dan juga kepada masyarakat Kotim, Kalteng, dan Indonesia. Yang mana akibat perbuatan anggota kami, membuat suasana dan kondisi di Sampit Kotawaringin Timur tidak kondusif dan tidak nyaman," kata Ketua Cabang PSHT Susanto, Jumat (13/2).

Dia juga memastikan kasus pengeroyokan tersebut akan menjadi evaluasi terhadap PSHT Kotim. "Kasus ini akan dijadikan pembelajaran berharga bagi kami pengurus PSHT Kotim. Dan juga sebagai evaluasi untuk kedepannya dalam menjalankan organisasi perguruan silat lebih baik," ujarnya.

Selain itu, mereka menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut kepada Polres Kotim dan juga berkoordinasi dengan DAD Kotim.

"Kami akan selalu berkomunikasi dengan tokoh Kotim dan DAD Kabupaten Kotim terkait kasus ini," pungkasnya. (arj/dar)

Loading...

You Might Also Like