PUNYA CIRI KHAS: Pengunjung BPN GO 123 memilih berbagai kaktus yang ditampilkan Plantshopedia, Rabu (5/2) lalu.GUSTI AMBRI/KALTIM POST


Pintar membaca peluang. Ini adalah kunci sukses Plantshopedia mengembangkan bisnis tanaman kaktus yang lagi hits di Balikpapan.

OKTAVIA MEGARIA, Balikpapan

BERDURI. Tapi beragam jenis kaktus berjejer rapi di salah satu stan BPN GO 123, bazar kreatif yang digelar Disporapar Balikpapan untuk memeriahkan HUT ke-123 Kota Beriman tetap menarik. Ukuran yang kecil membuat tampilannya lebih lucu dan menggemaskan. Beberapa pula tumbuhan sukulen lain melengkapi keindahan stan tersebut.

Belum lagi hasil karya kerajinan tangan yang tak kalah memikat mata para pengunjung. Tak hanya tumbuhan kaktus, beragam ornamen dinding turut ditampilkan. Ada pula pot-pot semen dengan beragam bentuk dan ukiran. Serta, macramé yang menambah keunikan dekorasi stan.

Plantshopedia benar-benar tampil beda dalam acara tersebut. Usaha yang dimulai sejak 28 Desember 2019 lalu ini, nyatanya mampu menarik konsumen dari berbagi usia. Membuat Andi Fastra Handono dan Adani Setiorini tak mengira bisnis yang terletak di Jalan Vancouver HX 17, Balikpapan Baru ini berjalan mulus.

Adani berujar awal mula tercetusnya Plantshopedia karena melihat masih minimnya bisnis kaktus di Kota Minyak. Sehingga peluang untuk eksis di mata konsumen semakin besar. “Apalagi sekarang lagi hype foto nuansa tanaman. Juga, lagi gencar-gencarnya dengan sesuatu yang minimalis tapi tetap elegan,” ujar dia.

Sang kakak, Andi menambahkan tanaman kaktus memiliki banyak fungsi. Misalnya sebagai antioksidan dan dapat mengurangi radiasi saat disimpan di dekat alat elektronik.

Andi menjelaskan bahwa usahanya merupakan hasil kerja dari banyak pihak. Produk yang ia hasilkan sendiri terdiri dari pot semen dan hydroplant. Sementara untuk tanaman, macramé, terarium dan hiasan dinding berasal dari mitra kerjanya. “Ini tuh kayak distro, tapi dalam bidang tanaman. Dan kita juga custom, jadi pelanggan pesannya apa dan gimana kita bisa sediakan,” jelas dia.

Untuk produk tanaman, pihaknya bermitra dengan toko-toko kaktus lokal. Namun, sebagian besar didatangkan dari luar daerah, yakni Lembang, Bogor, Jogjakarta, dan Batu. Bahkan, ada jenis astrophytum yang diimpor dari Thailand.

 

Andi membeberkan tentang cara perawatan kaktus yang tidak sulit. Berbeda dengan sukulen yang sedikit perlu perhatian lebih. Sebab jika salah perawatan, sukulen akan membusuk jika kelebihan air dan kering jika kekurangan air. Meski begitu, sukulen menjadi primadona di kalangan pelanggannya.

Dapat juga ditemui kaktus gymno dengan bermacam warna. Andi menuturkan di antara semua kaktus gymno, warna kuning adalah tumbuhan yang sangat langka. Menyebabkan harga jualnya lebih tinggi dibanding warna yang lain.

Ketika berbicara harga, Andi berkata tanaman kaktus dan sukulen dipatok dengan harga yang variatif. Bergantung jenis dan ukuran tanaman tersebut. “Misalnya jenis cluster, itu agak langka. Juga kalau tanamannya itu gede, itu pasti perawatannya udah tahunan, jadi pasti harganya juga lumayan,” terang Andi.

Pria yang juga berstatus sebagai karyawan swasta ini mengaku bisnis tersebut bermula dari kegemaran sang istri dengan tanaman. Awalnya, ia ragu bisnis yang sekadar coba-coba ini akan digandrungi. Akan tetapi, berkat ide-ide serta kerja sama dari banyak pihak, bisnis yang berjalan sekitar dua bulan ini pun terhitung sukses. “Kalau saya bilang, ini juga tempat kumpul buat orang-orang kreatif,” tutur Andi.

Dirinya juga berujar melalui Plantshopedia, ia hanya mencoba untuk berbagi ilmu. Apa yang ia tahu seputar marketing, bisa diberikan ke pihak lain yang membutuhkan. (*/ndu/k15/jpg)

Editor :
Reporter :

You Might Also Like