Ilustrasi. (foto: net)


JAKARTA – Cadangan minyak milik PT Pertamina (Persero) semakin menipis. Dalam 9,7 tahun lagi diprediksi bakal habis, bila perusahaan BUMN itu tidak melakukan eksplorasi atau pencarian sumur-sumur baru.

Presiden Direktur Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf mengatakan, pihaknya tengah mencari cadangan minyak baru di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Pada tahun 2019, Pertamina EP melakukan pemboran sebelas sumur eksplorasi. Lokasi sumur antara lain berada di wilayah Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan,” katanya, kemarin (5/2).

Dia menjelaskan, pencarian sumber-sumber cadangan baru bukan perkara mudah, sebab sumber minyak RI lebih dominan berada di laut dalam.

Kendati demikian, pihaknya menegaskan tidak akan menyerah dan akan terus menggenjot kegiatan eksplorasi di sumur-sumur lokasi-lokasi cadangan baru.

Hal ini sejalan upaya pemerintah mempercepat target pencapaian produksi minyak 1 juta barel/hari dari semula 2030 menjadi 2025.

“Pertaminan EP akan melaksanakan program kerja pada tahun 2020 antara lain pemboran sebanyak sebelas sumur, seismic 2D, seismic 3D, dan survey serta study,” ucap dia.

Ditegaskan, Pertamina EP berkomitmen untuk meningkatkan cadangan minyak sebagaimana untuk mendukung ketahanan enegi nasional.

“Pertamina EP komitmen untuk meningkatkan cadangan minyak bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan,” jelas dia.

Ekonom senior Faisal Basri pernah menyinggung cadangan minyak nasional Indonesia kian menipis. Menurut dia, cadangan minyak nasional pada tahun 1980 sebesar 11,6 miliar barel dan saat ini hanya sekitar 3,2 miliar barel.

“Artinya kita menggasak minyak jauh lebih cepat dari usaha kita memperoleh cadangan (minyak) baru, (cadangan minyak) terus diperkosa, tapi malas mengeksplorasi,” kata Faisal.

Dia memprediksi cadangan minyak nasional akan habis pada 2026. Oleh karena itu, agar cadangan minyak tetap ada, maka pemeintah harus ada usaha untuk eksplorasi dan melakukan inovasi dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT).

Sementara Pengamat Energi Reforminer Institute, Pri Agung Rakhmanto mengatakan, selain melakukan eksporlasi juga perlu kemudahan investasi. Sebab kegiatan tersebut tidak mendapat anggaran yang besar dari Kementerian Keuangan.

“(Dana yang ada) sangat tidak mencukupi, sebab investasi di hulu migas tergolong berisiko dan negara tahu itu, maka kita tidak dalam posisi berinvestasi sendiri, hanya sedikit,” kata Pri.

Oleh sebab itu, dia mengingatkan pemerintah untuk memperhatikan betul kemudahan berinvestasi. Tujuannya adalah peningkatan investasi untuk kegiatan eksplorasi dan menemukan cadangan minyak baru.

Selain itu, lanjut dia, kemudahan investasi dalam penerapan teknologi juga penting, seperti penerapan enhance oil recovery (EOR) sebagai cara mendapat cadangan minyak yang masih ada namun tidak bisa diambil.

“Kunci meningkatkan cadangan minyak adalah investasi atas dua hal tersebut dalam skala besar. Caranya? Kemudahan investasi, yang konkrit,” tukas dia.(din/fin/kpc)

1 2

Editor :
Reporter :

You Might Also Like