Suasana terkini di Wuhan, Tiongkok. (dok mahasiswa Indonesia di Wuhan dan PPIT Wuhan)


Sebanyak 93 mahasiwa Indonesia di Wuhan, Tiongkok, meminta masyarakat dan orang tua mereka di Indonesia untuk tidak panik dan terlalu khawatir dengan kondisi mereka. Mereka semua kini dalam keadaan aman, sehat, dan baik-baik saja. Pihak kampus dan pemerintah setempat terus mengedukasi dan mengarahkan setiap langkah yang harus diambil termasuk menjauhi lokasi kerumunan.

Kota tersebut memang sudah diisolasi dari segala kegiatan publik seperti akses transportasi. Bertepatan juga dengan Imlek, sehingga Wuhan terlihat sepi dan disebut sebagai ‘kota hantu’. Mahasiswa diminta untuk menghindari kerumunan. Dan mereka menjelaskan berbagai gambar dan video di media sosial soal kehebohan di rumah sakit yang menangani pasien virus korona, jauh dari asrama mereka.

“Kami diminta untuk tidak perlu ke situ atau lewat situ (RS yang menampung pasien virus korona). Dan kebetulan lokasinya jauh dari asrama kami. Bisa 30 menit harus naik MRT dulu,” kata para mahasiswa Indonesia di Wuhan saat berbincang dengan JawaPos.com lewat telepon, Gerard Ertandy, Yuliannova Lestari, dan Muhammad Aris Ichwanto, Minggu malam (26/1).

Mereka menjelaskan mereka selalu berkoordinasi lewat media sosial We Chat Group dengan perwakilan ranting, perwakilan KBRI dan Kementerian Luar Negeri secara intensif untuk melaporkan kondisi terkini. Para mahasiswa juga sudah siap untuk segala kemungkinan jika ke depannya ada rencana evakuasi.

“Data-data kami sih sudah diminta, data paspor dan lain-lain kami sudah prepare. Ini memang first time bagi kami dan hanya menunggu saja dari A-Z-nya,” jelas mereka.

Kampus Libur

Para mahasiswa saat ini di Wuhan memang sedang menghadapi libur semester. Sehingga kegiatan mereka lebih banyak dihabiskan di asrama bersama teman-teman. Meski begitu koordinasi dengan pihak kampus tetap dilakukan.

Segala fasilitas publik juga memilih untuk tutup seperti bioskop. Mereka mengisi kegiatan dengan berbagai cara dan berusaha tidak panik dengan isu yang menyebar.

“Kalau takut ada juga sebagian yang takut, itu wajar sih. Orang rumah juga khawatir itu juga wajar. Tapi kami di sini juga sudah dewasa, netizen di media sosial biasalah. Kami di sini semua sedang libur, daripada jenuh lebih sering nonton video atau film receh,” kata mereka tertawa.

Para mahasiswa terus menghubungi orang tua mereka setiap hari untuk membuat para orang tua di tanah air tenang dan tak panik. Mereka berharap pemberitaan dan media sosial juga menyebarkan informasi yang lebih adem.

“Orang tua kami agar tidak usah khawatir. Pasti setiap hari kami lapor sehat-sehat saja, lalu telepon sudah makan belum dan lainnya. Ya semoga kabar-kabarnya tidak terlalu berlebihan ya,” ungkap mereka.(jpc)

 

12

Editor :
Reporter :