KOTA YANG TERTATA: Kapal berisi turis menyusuri danau buatan di Putrajaya. Tampak Jembatan Seri Wawasan dan Masjid Putra. Kota ini terletak di antara Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) dan Kota Kuala Lumpur. (SITI AISYAH/JAWA POS)


Di antara enam pilihan. Situasi itulah yang dihadapi pemerintah Malaysia saat akan menentukan lokasi perpindahan pusat pemerintahannya. Semuanya tentu saja memiliki keunggulan masing-masing.

Laporan Siti Aisyah dari Kuala Lumpur dan Putrajaya, Malaysia, Jawa Pos

ENAM lokasi itu adalah Pesisir Sepang, wilayah Barat Laut Rawang, wilayah Utara Port Dickson, Bukit Tinggi/Janda Baik di Pahang, Dataran Kenaboi di Negeri Sembilan, dan Prang Besar Distrik Sepang di Selangor. Pilihan akhirnya jatuh ke Prang Besar yang kini telah berganti nama menjadi Putrajaya.

Bukan tanpa alasan Putrajaya akhirnya terpilih. Kota itu mudah dijangkau. Ia dekat dengan Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA). Jaraknya hanya 20 kilometer. Putrajaya juga hanya berjarak 25 kilometer dari Kuala Lumpur. Dengan kata lain, Putrajaya ada di tengah-tengah. KLIA–Putrajaya–Kuala Lumpur.

’’Saat itu sudah dipikirkan bahwa akan ada bandara baru (KLIA), dekat dengan Cyberjaya dan pelabuhan besar di Port Klang,’’ terang Bagian Komunikasi Korporat Perbadanan Putrajaya Mohd Fairus bin Mohd Padzil. Saat itu KLIA memang belum berdiri, tapi rencana pembangunan sudah ada di tangan. KLIA baru dibuka pada 1998.

Kedekatan dengan Kuala Lumpur juga sangat membantu dalam pemindahan para pegawai negeri sipil (PNS) saat pembangunan sudah selesai nanti.

Para pekerja tak perlu risau. Sebab, jarak tempat bekerja mereka yang baru hanya kurang lebih 30–40 menit dari tempat lama di Kuala Lumpur.

Akses ke Putrajaya memang luar biasa mudah. Purtajaya dilewati Express Rail Link (ERL) Transit dari KLIA ke Kuala Lumpur Sentral. Kereta yang biasanya disebut KLIA Transit itu berhenti di Putrajaya Sentral di Presint 7. Tiket kereta yang supercepat dan nyaman tersebut juga cukup murah, hanya MYR 14 atau setara dengan Rp 47 ribu. Jika naik ERL Transit, ke Kuala Lumpur hanya sekitar 20 menit.

Dari KL Sentral, tinggal pindah kereta ke tempat lain yang ingin dituju. Entah itu dengan bus, taksi, monorel, light rapid transit (LRT), dan mass rapid transit (MRT). Jika membawa mobil, ada jalan tol yang menghubungkan Kuala Lumpur–Purtajaya–KLIA. Jalan tol itu lengang, tak ada kepa

 

Selain lokasinya yang strategis, penduduk di Putrajaya sedikit. Sebab, dulu Putrajaya adalah ladang sawit, karet, dan rawa-rawa. Karena itulah, proses relokasi cukup mudah. Tak banyak orang yang harus dipindah.

Ada satu hal yang patut ditiru dari pembangunan Putrajaya. Yaitu, memercayai anak negeri. Semua konsultan dan arsiteknya berasal dari orang tempatan alias warga Malaysia sendiri. Ada sekitar 45 arsitek yang merancang gedung-gedung megah di Putrajaya.

Mayoritas pekerja di lapangan juga penduduk Malaysia. Hanya sebagian yang berasal dari Indonesia. Itu pun karena tidak ada pekerja kasar ahli di Malaysia pada saat itu. Misalnya, tukang yang ahli di bidang perkayuan.

Willingness to learn. Prinsip itu dipegang teguh oleh pemerintah. Mereka belajar saat pembangunan Menara Kembar Petronas dilakukan. Saat itu, kontraktor Jepang dan Korsel-lah yang menggarap gedung yang menjadi ikon Kuala Lumpur tersebut. Anak-anak negeri belajar dari proyek besar itu. Ketika Putrajaya dibangun, mereka mampu melakukannya sendiri.

“Yang bikin konsep desain dan pembangunan semua anak-anak Malaysia,” tegas Fairus. Bukan hanya orang-orangnya yang lokal. Sebagian besar material untuk membangun kota yang memiliki gedung-gedung indah itu juga berasal dari dalam negeri. Putrajaya dibina anak-anak Malaysia untuk Malaysia.(jpc)

 

12

Editor :
Reporter :