Kabid Pelayanan KI Kemenkumham Kalteng Benny Yuandrias (kanan) saat menjelaskan terkait hak cipta kepada peserta diskusi di salah satu kafe di Palangka Raya, Jumat malam (17/1). (ANISA/KALTENG POS)


Memiliki karya, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi empunya karya. Terlebih, karya tersebut belum dimiliki orang lain. Untuk itu, pemilik karya perlu melindunginya dengan hak cipta.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

HUJAN mengiringi terbenamnya matahari ke ufuk barat. Semakin malam hujan semakin lebat. Sesekali berhenti namun hujan datang lagi. Waktu itu malam sabtu, sebagian banyak komunitas berkumpul di beberapa ruas jalan di Kota Palangka Raya. Pertemuan itu seriung penulis jumpai untuk berkumpul yang memiliki hobi sama.

Jika di beberapa ruas jalan itu sebagian besar komunitas pecinta motor dengan berbagai merek, di salah satu kafe di Kota Palangka Raya juga berkumpul komunitas Palangka Raya Metal Corner (PMC). Hujan yang saat itu tiada henti memang mencoba menghalangi para anggota datang berkumpul. Tetapi, kalau sudah, rintangan apapun diterjang.

PMC merupakan wadah bagi para pecinta dan penikmat musik-musik keras, terutama metal yang ada di Kota Palangka Raya.

Komunitas PCM ini sengaja menggelar kegiatan yang bertujuan menambah wawasan terhadap hasil karya-karya ciptannya. Mereka memang intens dan konsisten pada perkembangan musik di Kota Cantik ini.

Acara yang diinisiasi PCM ini merupakan forum group discusion (FGD) yang bertemakan "hak cipta, hak kita". Sengaja mengundang narasumber dari Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) Kalteng dengan harapan dapat memberikan informasi dan wawasan berkenaan dengan perlindungan karya. Khususnya karya-karya yang telah dihasilkan putra daerah di Bumi Tambun Bungai ini.

Karya-karya para anggota ini termasuk dalam kekayaan intelektual. Berdasarkan penjelasan dari Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Kekayaan Intelektual (KI) Kemenkumham Kalteng, Benny Yuandrias, yang dimaksud KI yakni kegiatan intelektual atau hasil olah pikir manusia dalam bidang seni, sastra, Ilmu pengetahuan, teknologi maupun informasi.

Apa hubungannya dengan hak cipta? Hak cipta yakni hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya serta memberikan izin untuk itu. Dengan catatan, mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Ciptaan adalah hasil karya cipta di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang dihasilkan atas inspirasi, kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang diekspresikan dalam bentuk nyata," katanya saat menyampaikan penjelasan pada FGD di salah satu kafe di Kota Palangka Raya, Jumat malam (17/1).

Menurut Benny, hal-hal yang bisa dilindungi dapat berupa buku, program komputer, pamflet bahkan bisa bentuk ceramah hingga lagu. Pihaknya pun menjelaskan, bahwa karya-karya tersebut dapat dilindungi dengan mendaftarkan hak ciptanya ke Kanwil Kemenkumham Kalteng.

"Apalagi para komunitas ini (PMC, red) adalah komunitas yang menghasilkan karya-karya, untuk melindunginya dan tidak meninggalkan siapa penciptanya maka perlu dilakukan perlindungan hak cipta," katanya.

 

Lantaran, lanjutnya, tak jarang hasil-hasil karya saat ini banyak disebarluaskan di media sosial tetapi penikmatnya tidak mengetahui siapa pemiliknya. Para peserta diskusi inipun antusias dengan penjelasan-penjelasan yang dijabarkan. Bahkan beberapa peserta juga mengeluhkan hal-hal demikian.

"Kami terus mendorong agar para pelaku atau pencipta suatu karya dapat mendaftarkan ciptaanya, paling tidak suatu karya tersebut dapat diketahui siapa penciptanya," jelasnya.

Tata cara pendaftarannya, lanjut Benny, mengisi formulir pendaftaran ciptaan yang telah disediakan oleh Kanwil Kemenkumham serta melengkapi seluruh persyaratannya. Yang pasti, surat permohonan pendaftaran ciptaan hanya dapat diajukan untuk satu ciptaan.

"Tentu saja ada harga dalam pendaftaran ini dan masuk ke Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Harganya bervariasi sesuau klasifikasi, ada dari UMKM, umum dan program komputer," tegasnya.

Benny juga menyebutkan, kegiatan-kegiatan seperti FGD ini sangat perlu agar para pencipta karya memahami betapa perlunya hak cipta dan bagaimana cara mendaftarkannya. Untuk itu, pihak Kanwil Kemenkumham sangat antusias ketika melihat komunitas inipun antusias. Untuk itu kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Kakanwil Kemenkumham Kalteng, Ilham Djaya dan Kepala Divisi Pelayanan Hukum, Cahyani Suryandari.

"Memang perlu kegiatan-kegiatan demikian agar menjadi pemahaman bagi pemilik karya, betapa pentingnya hak cipta karena itu hak kita," pungkasnya.(abw)

Loading...

You Might Also Like